
Alyan melaju menembus angin dengan mobil sport milik nya, namun segera berhenti dengan halus saat lampu merah menyala di perempatan jalan.
Tangan kanannya masih memegang setir sedang kan tangan lainnya sibuk memainkan ponselnya, menunggu lampu merah redup.
"Melviona?" Alyan sedikit terkejut saat melihat Melviona di dalam sebuah mobil yang juga ikut berhenti untuk menunggu lampu merah.
Alyan memerhatikan pakaian formal Melviona, juga rambut yg di ikat tinggi ke atas namun rapi.
Ia juga memerhatikan Melviona yg sedang berbicara sendiri di dalam mobil dengan headset bluetooth di kuping sebelah kanan nya, hingga tak lama Melviona kembali melajukan mobilnya dan mobil yang menunggu di belakang mobil Alyan membunyikan klakson nya.
Alyan yg tersadar segera mengendarai mobil nya "sepertinya aku melupakan sesuatu..." Alyan berusaha mengingat ngingat.
Hampir sepuluh menit ia berpikir di dalam mobil nya, sedikit kejadian kemarin pun terlintas di benak nya.
Ia ingat saat Melviona mengatakan ia bekerja di perusahaan D.A milik ayahnya, walau ingatan itu tak terlalu jelas, namun Alyan segera berbalik arah menuju perusahaan yg ayah nya kini berada.
"Presdir, tuan muda ingin menemui anda" salah satu sekertaris masuk menyampaikan pesan.
"Biarkan dia masuk"
Tak butuh satu menit, Alyan sudah memasuki ruangan ayahnya dengan langkah cepat.
"Ayah"
"Kenapa? Apa kau berubah pikiran dan ingin kembali ke rumah utama bersama ku?" Duga Alfian lalu meminum kopi yg ada di samping nya.
"Ayah, apa Melviona benar benar bekerja di perusahaan D.A?"
"Hm? Ya, tentu saja, bakat luar biasa nya tidak boleh di lewat kan. Alyan kapan kau mau belajar bisnis?"
"Pecat dia"
"Siapa?"
"Gadis itu, maksud ku Melviona. Pecat dia, aku tidak mau dia bekerja dengan perusahaan kita"
"Kita?" Alfian menyeringai "sepertinya kamu tidak pernah mencampuri urusan perusahaan" Alfian berdiri dan menghampiri Alyan yg juga tengah berdiri di depan mejanya.
"....?"
"Dunia tak semudah membalikkan telapak tangan, Alyan. Kau harus punya jabatan untuk melakukan nya" Alfian menepuk pundak Alyan, lalu berjalan ke arah sofa dan duduk santai di sana.
"Yah!" Alyan ikut duduk di depan ayahnya.
"Melviona adalah wakil ku langsung Alyan"
"Ha?!"
"Dia lah yang meng-handle tiga jenis perusahaan Ayah, bagaimana, dia luar biasa bukan? Dalam dua bulan ini Melviona menunjukkan peningkatan pesat di tiga perusahaan ayah itu" Alfian menatap langit langit ruangan sambil mengagumi sosok Melviona.
"Apa ayah bercanda?! Dia seumuran denganku, bahkan lebih muda sebulan dariku"
"Tapi kenyataannya dia lebih jenius kan, hahaha"
"Yah....aku ingin dia di pecat" Alyan kembali menyampaikan maksud kedatangannya.
"Maka gantikan lah aku"
"Hah?"
"Gantikan aku dulu, baru aku akan memecatnya"
"Maksud ayah.."
"Dia orang yg berpengaruh penting dalam perusahaan Alyan, dia bukan karyawan biasa atau cleaning servis, berkat dia tiga perusahaan yg ia handle mempunyai keuntungan lima kali lipat dari yang biasanya, ayah tidak mungkin melewatkan manusia langka seperti itu dengan memecatnya begitu saja hanya karna permintaan putra nya yg sangat manja, lagian kenapa kau ingin dia di pecat? Apa kau ada dendam dengan nya?"
"Aku hanya tidak ingin dia berkaitan dengan ku lagi!"
"Lagi? Jadi kau pernah berkaitan dengan nya? Katakan padaku, kaitan dalam bentuk apa itu? Apa kau menyukai nya?" Alfian bertanya antusias dengan harapan penuh.
"Tidak! Aku han_"
"Akh... sungguh mengecewakan, sudahlah intinya Melviona akan tetap bekerja di perusahaan"
"A_"
"Kalau kau masih bersikeras untuk menyingkirkan nya, maka gantikan aku atau gantikan dia yg mampu memajukan dan meningkatkan bisnis keluarga kita" dengan tegas, Alfian menolak permintaan Alyan.
πΊπΊπΊπΊπΊ
*dia orang yang berpengaruh penting dalam perusahaan
Dia bukan karyawan biasa atau cleaning servis
Berkat dia tiga perusahaan yg ia handle mempunyai keuntungan lima kali lipat dari yang biasanya
Kalau kau masih bersikeras untuk menyingkirkan nya maka gantikan aku atau gantikan dia yg mampu memajukan dan meningkatkan bisnis keluarga kita*
Perkataan-perkataan Alfian masih terngiang-ngiang di benak Alyan.
Ting! Lift terbuka, dan Alyan perlahan keluar dari dalam sana menuju lobby.
"Alyan, apa yang kau lakukan disini?"
"Farrel..."
"Ya? Ada apa dengan mu? Apa kau baik baik saja?"
"Apa menjalankan perusahaan sangat mudah?"
"Katakan padaku, sejak kapan kau menjalankan perusahaan ayahmu?"
"Hampir setengah tahun"
"Apa sulit?"
"Kalau aku bilang mudah pasti bohong. aku hanya cepat tangkap, tapi tetap saja tidak seperti Melviona"
"Kau juga tau tentang nya?"
"Tentu saja, bagaimana kalau kita mampir di cafe depan sana"π
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Senang bekerja sama dengan anda" dengan senyum yang merekah lebar, pria paruh baya itu mengulurkan tangannya ke depan Melviona.
"Begitu juga dengan anda, saya harap anda tidak mengecewakan saya" Melviona menyambut tangan pria itu.
"Tentu saja tidak, menjalin kerjasama dengan perusahaan D.A adalah impian saya sejak pertama kali membangun perusahaan saya. Saya berjanji akan melakukan yg terbaik"
"Jangan 'akan' tapi 'harus' "
"Ba-baik"
Melviona bersama sekertaris nya keluar dari restoran mewah itu, dan memasuki mobil mewah bewarna hitam.
"Kembali ke perusahaan" ucap Melviona saat sekertaris nya itu menutup pintu belakang mobil.
"Nona, apa anda bermaksud lembur lagi?"
"....."
"Baiklah, kita kembali ke perusahaan" sekertaris itu melajukan mobil dengan kecepatan standar.
"Stevan..."
"Iya, nona?"
"Berapa banyak bir yg dibutuhkan agar seseorang tidak mengingat apa yang ia lakukan?"
"Eh, kenapa nona bertanya tentang hal itu?"
"Jawab saja..."
"Oh, uhmm, itu...saya juga kurang tau, biasanya sih tergantung orangnya, apa dia kuat minum atau tidak. Biasanya orang yang tidak kuat akan langsung mabuk hanya dengan meminum satu gelas birπΊ"
"Tapi masalahnya aku tidak tau apa dia kuat minum atau tidak"
"Ya?"
"Bukan apa-apa, perhatikan di depan"
"Baik. Uhm... nona?"
"Ada apa?"
"Berapa usia nona?"
"Delapan belas tahun"
"Jadi nona masih sekolah?"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku baru saja lulus bulan lalu"
"Tapi bukannya ujian kelulusan masih belum di mulai"
"Aku lulus lebih awal dengan kemampuan ku"
"Woah, nona sungguh luar biasa"
"Jangan terlalu kagum dengan ku. Kamu sendiri, berapa umurmu?"
"Saya? Apa nona tidak mengecek resume saya sebelumnya?"
"Aku tidak punya waktu luang untuk memastikan hal semacam itu"
"Ah, hahaha"π
"Ada yg lucu?"
"Eh, maaf. Umur saya dua puluh sembilan tahun, bulan depan saya akan kepala tiga"
"Bulan depan?"
"Hm, saya lahir 18 Oktober 19XX"
"18 Oktober?!"
"Eh, i-iya"
"Aku juga 18 Oktober 199X"