
Pagi yang seharusnya disinari mentari, malah dihiasi oleh awan hitam. Membuat langit gelap seperti malam.
"kenapa nggak sekalian kasih bintang sama bulannya sih!" Pikir Alyan kesal.
Seperti yang dikhawatirkan, pagi ini hujan masih beraktivitas didaerahnya tinggal, bahkan lebih deras dari yang kemarin.
"Giliran Viona nggak ada urusan, kok malah hujan yang ada urusan?! Huh! Merepotkan, aku suka malam bukan artinya kau membuat langit gelap sepanjang hari! Dasar menyebalkan"
Ctaaar!!!
"Waaaa!"
🌺🌺🌺🌺🌺
"Apa kemarin ia bekerja seharian?" Tanya Alfian.
"Ya tuan"
"Hohoho, dia banyak berubah rupanya, bagaimana menurutmu, Ian?"
"Saya juga sangat terkejut saat tiba-tiba tuan muda minta untuk mengerjakan sebuah proyek. Awalnya saya tidak percaya, tapi pada akhirnya saya memilih untuk memberikannya proyek paling kecil sebagai ujian percobaannya. Siapa sangka, ternyata tuan muda mengerjakannya dengan sangat baik rupanya, saya jadi merasa menyesal telah meremehkan tuan muda"
"Hahaha, kau memang kadang ceroboh Ian, dia kan putraku, haha"
"Saya mengaku salah"
"Sampaikan itu pada orang yang tepat"
"Baik"
"Ngomong-ngomong, apa proyek yang dikerjakannya itu sudah selesai?"
"Sepertinya hampir selesai tuan, tuan muda sangat rajin bekerja"
"Berikan dia proyek yang sulit setelah ini, aku ingin melihat sampai mana kemampuannya"
"Baik"
"... Haishh, aku jadi meragukanmu"
"Tuan?"
"Alyan percaya kau tidak akan memberitahukan apa yang sedang ia lakukan sampai pada waktunya, tapi kau malah langsung memberitahu hal itu padaku sesaat dia menaruh kepercayaan padamu?"
"Itu karna saya bertugas untuk anda tuan, seharusnya tuan muda memperkerjakan salah seorang kepercayaannya"
"Ya ya, aku tau itu, kau tidak patut disalahkan, begitu juga dengan Alyan" Alfian menghela nafasnya "... Bagaimana bisa ia percaya padamu yang merupakan orang kepercayaan ku"
"Terkadang saya berpikir, tuan muda sangatlah polos"
"Polos? Alyan kau bilang polos? Ayolah, jangan bercanda. Dia sangat nakal diumur tiga tahunnya"
"Nakal juga dapat diartikan polos tuan, maksud saya, itu artinya tuan muda masih belum ber pemikiran dewasa, lagi pula, nakal itu hal yang wajar bagi anak-anak tuan"
"Kau banyak bicara Ian"
"Saya hanya ingin memberitahu isi pikiran saya"
"Aku belum bertanya"
"Terserah tuan saja"
Alfian memutuskan sambungan telepon, dan Ian menaruh ponselnya diatas meja dekat tempat tidurnya "huft... Ayah dan anak, Sama-sama seperti anak kecil. Aku sampai heran, bagaimana bisa presdir berhasil mendirikan perusahaan dengan sifatnya itu?" Ian mengomel sendiri mendapati tuan besarnya itu lagi-lagi keras kepala saya sama seperti Alyan.
🌺🌺🌺🌺🌺
"Viona mana?" Tanya Alyan pada salah seorang pelayan saat menuruni tangga.
"Nona muda sedang diteras tuan"
"Oh" Setelah mendapat jawaban dari pelayan itu, Alyan berjalan keluar menuju teras rumah, ia melihat Melviona tengah bermain ponsel sambil menikmati segelas kopi panas dan roti kering.
"Pagi" Dengan senyum cerah yang menantang cuaca hari itu, Alyan menyapa Melviona dan duduk disampingnya.
"Ada apa?" Tanya Alyan bingung.
"Nggak" Melviona menjawab Alyan dengan ketus lalu meminum kopinya.
"Pagi-pagi minum kopi, kayak orang dewasa aja, nggak coba minum susu?"
"Kenapa tidak sekalian nyuruh aku coba pake dot?"
"Eh, aku tidak bermaksud begitu, uhmm, gimana sama teh? Kebanyakan wanita minum teh loh"
"Kebanyakan wanita?... Ya iya sih, kamu kan mantan idol, kamu pasti punya banyak teman cewek yang terkenalkan? Yah...maklum aja kamu bandingin aku sama mereka, mereka kan nggak kayak aku, yang sibuk kerja tiap hari, yang nggak ada waktu buat ngerawat kulit, yang dandan paling biasa-biasa aja, trus nggak stylish banget, yakan"
"Eh, kok gitu?"
"Tapi maaf ya, aku cuma nggak tertarik jadi mereka, aku ya aku, buat apa 'niru-niru mereka? Ogah"
"Aku buat salah apa lagi sih hari ini? Kok Viona kesal sama aku? Apa cuaca hari ini mendominasi suasana hatinya ya? Atau apa mungkin dia lagi PMS?"
"Kamu pasti mikir aku lagi PMS kan?"
"Kok tau?" Dengan spontan Alyan bertanya balik.
"Tuh kan, dasar mesum" Dengan kesal melviona kembali masuk kedalam rumah.
Waktu berlalu begitu saja, dan saat akan menjelang sore, air hujan berhenti dengan lambat launnya.
Alyan yang baru saja selesai mengerjakan dokumen dari London, segera keluar dari kamarnya menuju kamar Melviona, berharap kekasihnya itu sudah tak marah lagi.
Tok tok tok
Alyan mengetuk pintu kamar Melviona, namun tak ada sahutan dari dalam.
Tok tok tok
Sekali lagi Alyan mengetuk sambil memanggil nama Melviona pelan.
Disebabkan tak ada respon dari dalam, Alyan pun memutuskan untuk masuk kedalam.
Apa dia sudah pergi? Begitu pertanyaan yang ia lontarkan dalam hatinya saat tak melihat kehadiran Melviona didalamnya.
Alyan memasuki ruang ganti, kamar mandi dan ruangan lainnya yang ada dalam kamar itu, namun Melviona tak kunjung terlihat olehnya.
"Tidak mungkin" Alyan syok dengan pikirannya sendiri.
"Ini tidak mungkinkan? Pasti dia sedang keluar" Alyan mulai merasa panik "keluar apanya? Bukannya kemarin dia bilang hari ini dia nggak ada jadwal?!"
Di tengah-tengah kekhawatiran yang mungkin itu, Alyan melihat gorden putih menuju balkon yang terkibas oleh angin kencang, pertanda bahwa pintu kaca menuju balkon telah terbuka lebar.
Alyan berjalan menuju balkon, sambil berpikir "tidak mungkinkan, dia melompat kabur dari balkon lantai tiga"
Pelan tapi pasti, saat pria itu membuka gorden, ia dikejutkan oleh keberadaan Melviona yang tertidur disofa panjang balkon.
Antara khawatir dan lega, Alyan mendekati Melviona dan menggendongnya masuk kedalam kamar, lalu membaringkannya diatas ranjang dengan pelan.
"Senyaman apasih tidur disana? Udah dingin, pasti banyak nyamuk lagi, akh..." Alyan memeriksa kulit putih Melviona dengan teliti, memastikan tak ada gigitan nyamuk disana.
Syuuuh~ hembusan angin sore sehabis hujan memang yang paling dingin, membuat punggung pria itu menggigil dan gadis itu menggeliat mencari posisi yang nyaman.
Alyan menoleh kearah balkon, yah dia lupa tujuan utamanya, yaitu untuk menutup pintu menuju balkon.
Setelah selesai menutup pintu kaca itu, Alyan kembali menghampiri Melviona lalu menyelimuti nya dengan selimut tebal.
Alyan menggosokkan kedua telapak tangannya didepan dada, saat merasakan dingin yang tertinggal disana.
Lama Alyan sibuk dengan aktivitasnya, hingga suatu hal terlintas di benaknya, membuatnya terdiam sejenak lalu menoleh kearah Melviona yang tidur membelakanginya.
Kenapa tadi dia kesal ya? Apa sekarang dia sudah tidak kesal lagi? Bagaimana kalau masih? Bagaimana reaksinya kalau tau aku masuk ke kamarnya tanpa izin? Tidak, akukan sering keluar masuk kamarnya, arghhh! Tapi disini alurnya dia lagi kesal! Dia pasti tambah jengkel padaku, dia pasti kembali kesal lalu marah kemudian... Aaakh... Kok akhirnya gini?! Dia nggak mungkin minta putus kan! Iya, Viona nggak gitu, aku bahkan nggak tau apa salahku, masa aku diputusin akibat tempat pelampiasan PMS dia?!
Alyan mengacak-acak rambutnya kasar, membuat rambutnya kini kacau dan rontok.