
"Benarkah?! Hari ulang tahun kita sama dong"
"18 Oktober hari....."
"Hari Sabtu, nona"
"Kamu begitu mengingat harinya ya"
"Pasti dong, kali ini, karena saya punya pekerjaan yg luar biasa ini. Maka saya akan merayakan hari ulang tahun saya di hotel bintang lima"
"Waah, pasti sungguh luar biasa ya"
"Hahaha, bahkan saya sedang mencari dekorasi yg indah dan mewah untuk acara saya itu"
"Aku turut bersukacita untuk mu, tapi sedikit saran dariku, lebih baik jangan terlalu megah, nanti para tamu undangan berpikir itu acara pernikahan dan akan slalu menanyakan dimana mempelai wanita nya, hahaha"
"Benar juga, bagaimana kalau nona ikut merayakan ulang tahun bersama saya"
"Eh, a-apa maksud mu?"
"Maksud saya, bagaimana kalau acara ulang tahun kita di adakan secara bersamaan di tempat yang sama"
"Gila ya? Sudah acara nya kamu susun megah kayak pernikahan, masiiih saja mengikutkan ku di sana"
"Tenang saja, tidak akan ada orang yang berpikir kita sedang mengadakan acara pernikahan kok"
"Bagaimana bisa kamu yakin akan hal itu?"
"Ya...makanya pasang spandu besar 'HAPPY BIRTHDAY TO STEVAN CARSILION AND MELVIONA WALZER' gimana? Keren kan"
"Huh, keren gigimu"
"Trimakasih, saya memang sudah menyadari hal itu sejak lama" sambil tersenyum menampakkan giginya yg bewarna putih. Stevan menghentikan mobilnya di depan perusahaan.
"Pulang lah, aku akan lama" Melviona keluar saat Stevan membukakan pintu mobil untuk nya.
"Lebih baik nona pulang, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam"
"Trus?"
"Ya, nona pulang sana"
"Kamu berani memerintah ku? Apa kamu sudah tidak ingin bekerja? Apa impian mu untuk ulang tahun mewah mu itu sudah lenyap terbawa angin lalu?"
"Ti-ti-tidak, tentu saja tidak nona, saya tidak bermaksud begitu. Sa-saya hanya tid_"
"Baiklah, kalau begitu keluar kan mobil ku dari parkiran bawah tanah" sela Melviona sambil melempar kan kunci mobilnya ke arah Stevan.
"Baik, kalau begitu nona tunggu di sini saja ya, jangan masuk ke dalam" ucap Stevan, agar Melviona tidak masuk ke dalam perusahaan.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Nona, nona pulang larut lagi?"
"Bapak kenapa nggak beristirahat?" Tanya Melviona saat pak satpam masih berada di pondok nya
"Itu... Bagaimana saya bisa tidur. Tuan muda bertingkah aneh dan malah berenang di jam segini"
"Hah?! Di-dia lagi di atap?! Berenang?!!"
"Saya juga bingung, saya sampai tidak bisa tidur karna tingkah tuan muda"
"Kalau begitu aku pergi cek dulu ya pak"
Melviona berlari kedalam villa dan menaiki tangga dengan cepat.
Ia melihat Alyan yg sudah keluar dengan jubah mandi yg membalut tubuhnya.
"Kamu ngapain berenang pukul dua pagi begini?!"
"Bukan urusanmu" ucap nya dingin "ini semua gara-gara kamu tau!"
"Ni anak sakit atau apa ya, dia bilang bukan urusanku, trus dia bilang lagi ini semua gara-gara aku. Bingung deh๐" pikir Melviona. "Aku... kenapa?"
"Aaakh, banyak tanya" Alyan melewati Melviona menuju lantai bawah.
"Tuh kan, perasaan pertanyaan nggak nyampe tiga deh" pikir Melviona lagi.
Melviona ikut turun kelantai bawah, dan menuju dapur untuk meminum air, namun tiba-tiba Alyan menghampiri Melviona dengan penampilan yang sama tapi ekspresi yg lebih menunjukkan ketidak senangan.
"Katakan padaku, kenapa kau baru pulang hah?!"
"Alyan, ini sudah malam, suara mu begitu berisik"
"Kamu tau ini sudah malam, masih saja pulang malam!"
"Bukan urusan mu"
"Hah?"
"Kau mau membuat ku tambah kesal ya?!"
"Aaakh, banyak tanya" lagi lagi Melviona mengikuti cara bicara Alyan dan berjalan menuju kamar nya yg ada di lantai dua.
Lagi-lagi Alyan mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya, ia berjalan ke kamarnya dan membanting pintu kamar nya dengan sangat keras, hingga hampir membuat dekorasi dinding berjatuhan di lantai.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Menggeliat, berguling kesana-kemari, memainkan ponsel, mematikan lampu, dan memutar lantunan melodi tidur. Itulah yang kini tengah dilakukan oleh Alyan, entah mengapa, malam itu dia tidak bisa tertidur walau sudah menutup mata selama setengah jam. Apa itu karna dia berendam air dingin malam-malam?
"Mustahil, apa aku insomnia?" Gumamnya.
Tak tak tak tak tak, Alyan mendengar suara langkah kaki yg memakai heels menuruni tangga.
"Siapa?" Tanya nya dalam hati.
Perlahan Alyan membuka pintu kamar nya, berjalan pelan, dan melihat ke bawah.
Ia melihat Melviona yg sudah berpakaian formal, dan sedang menuruni tangga menuju lantai satu.
"Woy, mau kemana malam malam begini?" Tanya Alyan.
Melviona pun terhenti, melihat Alyan yg berjalan menuruni tangga ke arahnya.
"Ini udah pagi" jawab Melviona ketus.
Alyan melihat jam tangannya "ini masih jam empat lewat dua puluh menit"
"Udah pagi kan?"๐คจ
"Jawab aku, kau mau kemana?"
"Kerja lah"
"Kerja jam sekarang?!"
"Hm"
"Jam berapa bangun?"
"Kenapa tanya tanya begituan?"
"Jawab aku?!"
"Pukul empat"
"Jam berapa sampai di tempat kerja?"
"Pukul delapan tiga puluh, kalau jalanan nggak macet"
"Uuukh, dasar" gumam nya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tunggu di sana."
"Ha?"
Alyan kembali menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Tak lama kemudian Alyan turun dengan seragam sekolah nya.
"Ayo berangkat" ucap nya lagi.
Alyan berjalan keluar, dan memasuki mobil Melviona.
"Kamu mau ke sekolah?" Tanya Melviona sebelum memasuki mobil nya.
"Ya iyalah, masa ke kuburan, cepat. Nanti aku terlambat"
"Kamu nggak naik mobil sendiri?"
"Cepat"
Melviona memasuki mobil nya, dan segera melaju keluar gerbang.
Di perjalanan, suasana canggung dan hening menyelimuti "dia tidak membahas nya, syukur lah dia tidak ingat" pikir Melviona "tapi kenapa aku seperti tidak terima ya" pikir nya lagi.
"Tidak tau kenapa....aku seperti melupakan sesuatu yang sangat penting" pikir Alyan sambil memandangi Melviona lekat.
"Apa ada sesuatu di wajah ku" Melviona akhirnya buka bicara.
"....Tidak ada, aku hanya berpikir ada sesuatu yang penting yg aku lupakan"
"Be-benarkah? Apa itu?"
"Kalau aku tau, aku pasti tidak akan berusaha mengingat nya, tapi kenapa kau terlihat gugup begitu"
"Ah, a-apa terlihat seperti itu? Mu-mungkin karna udaranya sesak" Melviona membuka jendela kaca yg ada disampingnya.
Namun tiba-tiba, Alyan mendekatkan wajahnya ke arah Melviona, membuat Melviona terkejut dan langsung memberhentikan mobilnya.