I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 43


Keesokan harinya, Melviona pulang dari sekolah seperti biasanya, ia berencana untuk makan malam di luar.


Setibanya di salah satu restoran, Melviona segera masuk dan kembali di kaget kan oleh kehadiran seseorang yang tengah duduk di salah satu bangku.


Baru saja Melviona berbalik dan pergi dari sana, namun lagi lagi pria itu melihat ke arah nya dan memanggil dirinya.


Dengan senyum paksa, Melviona menghampiri pria itu dengan empat orang lainnya yg sangat ia kenal wajah nya.


Melviona duduk dengan tegang di samping paruh baya itu, dengan senyum yang ia usahakan terlihat alami untuk dipaksakan.


"Kebetulan sekali, kemarin kita juga bertemu di sebuah restoran, sekarang kita bertemu lagi, apa kita di takdir kan untuk bertemu di setiap restoran?" Ayah Alyan mulai bergurau.


"Ah, saya juga tidak tau" jawab Melviona kaku.


Bagaimana tidak, seorang wanita tak berelasi berada di tengah-tengah dua keluarga yg terlihat elit di matanya.


"Kamu mau makan apa? Silahkan di pesan" ayah Alyan mengarahkan menu kepada Melviona.


"Apa makanan yang cepat saji" gumam Melviona sambil melihat setiap makanan yang ada di menu.


"Kok yg cepat saji?" Ayah Alyan kembali bertanya sambil memandangi Melviona bingung.


"Iya, cepat saji, biar aku juga cepat pergi dari sini" ingin sekali Melviona mengatakan hal itu, namun itu hanya bisa ia ungkapkan dalam hati.


"Itu...saya masih banyak kesibukan jadi harus cepat"


"Banyak kesibukan bukan artinya kamu makan yg instan instan, kamu juga harus jaga kesehatan, banyak banyak makan daging sama sayur" ayah Alyan mengambil menu di tangan Melviona dan memesan sendiri makanan Melviona.


"Hari ini aku yg bayar, jadi tidak perlu sungkan"


"Mau aku yg bayar semua nya untuk malam ini pun bukan masalah, asalkan aku bisa menghilang dari sini" lagi lagi Melviona menggerutu dalam hati nya, pikiran pikiran fantasi tentang Doraemon dan para pesulap mulai bermunculan di benak nya.


Melviona tersentak, ada apa lagi ini? Sudah cukup ia merespon yg satu, ia kembali di buat darting oleh yg satunya.


"Bukannya dia guru matematika di kelas sury?" Sury mulai melempar kan pertanyaan nya.


"baru tau?" Alyan meledek. "dia bukan hanya guru matematika di kelas mu, tapi di semua kelas" Alyan kembali melanjutkan.


"Maksud kalian ada apa? Bicara pelan pelan, orang tua juga perlu mendengar kan" ayah Alyan mulai penasaran.


"Melviona pah, dia sudah jadi guru matematika di sekolah, dia udah nggak belajar kayak anak anak yg lain, termasuk aku juga dia" Alyan menatap sinis Sury.


"Sungguh?" Ayah Alyan tak habis pikir dengan apa yang ia dengar.


Melviona hanya menghela nafasnya pelan. Reaksi yg sama selalu muncul saat seseorang mengetahui pekerjaan nya saat ini. "iya" Melviona menjawab pelan, dan tiba-tiba para pelayan datang dari dapur, membawa kan makanan yang telah di pesan.


"Aku tarik perkataan ku soal akan membayar makan malam ini" Melviona menyesal dalam benaknya saat melihat banyak makanan mewah memenuhi meja makan yg persegi panjang itu. Walau ada beberapa makanan yg di atasnya hanya sedikit, namun Melviona tau, semakin sedikit makanan di atas piring, maka semakin mahal harga jual makanan itu.


"ayo silahkan, anggap keluarga sendiri"


"benar, saya hampir saja lupa, kita harus membicarakan semua nya kali ini, saya takut hari ini tidak ada lagi" ayah Sury buka bicara.


Delvin mengehentikan makan nya, ia meletakkan alat makan yg ada di tangan nya, ia perlahan menatap ayahnya yg juga tengah menatap dirinya. "benar, kapan lagi hari ini akan datang, kita harus memanfaatkan nya dengan baik" ayah Alyan tertawa.


"Om, Sury mau acara pertunangan nya di lakukan secara besar-besaran, biar teman teman Sury tau, soalnya Sury nggak mau kak Alyan di rebut sama cewek lain" Sury berkata lembut dengan tatapan mengarah ke arah Melviona.


sedangkan Melviona sadar bahwa kata kata itu sengaja di tujukan untuk dirinya. "kesalahpahaman apa lagi ini?" Melviona bertanya tanya dalam hati.


Alyan memang pria yang tampan, maklum saja bila ia mencolok di negara ini, pasalnya ia lebih mirip alm.ibunya yg seorang Taiwan, ia memiliki tubuh yang tinggi, hidung yang mancung, kulit yg putih dan mulus, bibir yg menawan dan wajah yg manis.


ibunya merupakan mantan seorang model internasional, pada usia 25 tahun ia mundur dari profesi nya di sebabkan ia yg ingin membentuk sebuah keluarga yang amat ia cintai. walau Sangat berat hati dengan hal itu, namun ia sadar akan waktu nya, ia sadar akan segala macam penyakit yang ia idap, penyakit yang hampir membuat nya kehilangan nyawa saat hendak melahirkan bayi laki-laki nya yg tampan.