
Tut, sambungan telepon terputus.
Stevan menghela nafas kelegaan nya, sepertinya jalan menuju impian Presdir untuk menjadikan Melviona sebagai menantu sudah terakit.
Stevan menyisir rambutnya dan mengambil jasnya yg tergeletak begitu saja di atas kasur.
Lalu berjalan keluar kamar nya.
Diperjalanan, Stevan begitu tidak sabar melihat rekaman cctv itu, ia merasa geram dan kesal saat jalanan macet dan lampu merah yg slalu menyala setiap kali ia ingin melewati nya.
Bam, Stevan menutup pintu mobil dan berjalan cepat ke dalam menuju ruang keamanan.
"Perlihatkan rekaman cctv kemarin malam, sekitar pukul sembilan lewat" ucap Stevan.
"Baik" orang orang itu mencari rekaman kejadian di ruang Presdir pada pukul sembilan malam, namun apa yang terjadi? Tak sesuai harapan, sepertinya ada seseorang yang menghapus rekamannya.
"Apa tidak bisa di pulihkan?" Tanya Stevan.
"Saya sedang mencari berkas yg dihapus tuan, tapi sepertinya juga terhapus"
BRAK! Stevan memukul meja "sial! Siapa yang berani menghapus nya? Cepat periksa rekaman ruangan ini kemarin malam!"
Dengan cepat orang orang itu melihat dan memeriksa rekaman ruangan cctv "tidak ada yg datang kemari tuan, sepertinya ada seseorang yang menghapus nya dari jarak jauh"
"Hah?!"
"Anda bisa lihat sendiri, semalaman tidak ada orang yang menyusup di ruangan ini"
"Siapa orang yang berani menghapus nya, dan kenapa harus rekaman malam itu" pikir Stevan sambil berjalan keluar.
"Aku harus memeriksa ruangan Presdir" Stevan berjalan pelan menuju lift sambil memainkan ponselnya.
"Bagaimana?"
"Maaf tuan, rekaman yg anda minta sudah terhapus" ucap Stevan.
"Hah! Bagaimana bisa terhapus?"
"Diduga ada seseorang yang menghack rekaman cctv kita "
"Bukan kah keamanan file D.A begitu ketat"
"Saya juga berpikir begitu, pasti ada seseorang yang lebih ahli yang dapat menghack rekaman video itu"
"Tapi kenapa harus rekaman cctv itu?"
Ting, lift terbuka dan Stevan segera keluar dari dalam lift.
"Saya juga tidak tau, tapi sepertinya kita mengenal orang itu"
"Baiklah aku akan menyuruh Ian mencari tau siapa orang itu, dan ya! Kembali perkuat keamanan file D.A aku tidak ingin kejadian ini terulang kembali"
"Baik"
Sambungan telepon terputus, dan Stevan memergoki para sekertaris sedang mengintip ruang Presdir dari balik dinding kaca itu.
"Sedang apa kalian di sini?" Suara Stevan membuat para sekertaris itu terkejut bukan main, wajah mereka pucat seketika.
"Ka-kami.."
"Haissh, sudah lah. Aku tidak punya waktu untuk mengurus kalian. kembali bekerja"
"Baik" dengan cepat para sekertaris itu kembali ke tempat mereka masing masing, dan Stevan memasuki ruangan Presdir.
Seketika senyum merekah lebar di wajah pria itu, tidak dapat rekaman cctv, foto pagi ini pun jadi. Begitu pikir nya.
Stevan mengambil ponselnya dan menangkap banyak gambar dari berbagai sudut, lalu segera keluar dari sana sambil mengirimkan foto yg telah ia ambil ke email sang Presdir.
Sepeninggal Stevan, Melviona terbangun dari tidurnya.
Ia terkejut melihat langit yg cerah di balik dinding kaca transparan itu, juga posisi tidurnya yg bersandar di bahu Alyan.
Dengan cepat Melviona memperbaiki duduknya dan melihat jam ponselnya. 08.46, begitu yg tertera di layar kaca.
Melviona menggulung rambutnya yang terurai begitu saja, dan bergegas keluar dari dalam sana.
🌺🌺🌺🌺🌺
sejenak Alyan terdiam. tersenyum mengingat kejadian kemarin malam.
"Tidak. Alyan, jangan begini" Melviona memundurkan dirinya dan terduduk saat merasakan tangan Alyan mulai bergerilya di tubuhnya.
namun Alyan mendekat dan menarik pinggang gadis itu kearahnya.
"aku ingin memiliki mu malam ini. okay" bisik nya di kuping gadis itu dan kembali mencium bibir Melviona dan perlahan turun ke leher jenjangnya.
"uuuh... tidak" Melviona mendorong kedua bahu Alyan dengan pelan.
"kumohon. malam ini saja, okay? aku berjanji akan mempertanggung jawabkan nya" saat Alyan kembali mendekat Melviona kembali menahan.
"di sini ada cctv" dengan wajah yang masih merona, Melviona mengingat kan Alyan tentang cctv yg ada di setiap sudut ruangan.
"eh" Alyan tertegun, ia memperbaiki duduknya begitu juga Melviona.
ia memandangi setiap kamera cctv yg ada di ruangan itu dan menemukan jalan keluar nya.
"tunggu disini, aku akan menghancurkan nya" saat Alyan berdiri, Melviona menahan tangan pria itu.
"tidak perlu, aku bisa menghapus rekamannya dari sini"
mendengar hal itu Alyan kembali terduduk dengan senyum yang mewakili hatinya yg berbunga bunga. ia menatap Melviona dan bermaksud untuk melanjutkan apa yang seharusnya di lanjutkan, namun baru saja ia mau meraih Melviona, Melviona malah berdiri dan berjalan ke arah meja Presdir yg bertumpuk kan dokumen dokumen yang belum terselesaikan satu pun.
"bagaimana kalau kita mengerjakan nya sedikit" ucap Melviona sambil menatap Alyan.
Tentu saja, hal itu membuat Alyan sangat kesal, ia menautkan kedua alisnya dan menggigit bibir bawahnya.
namun sejenak, ia merasa bahagia bisa berhubungan romansa secara nyata tanpa salah seorang dari mereka yang akan melupakan kejadian malam itu.
apakah itu artinya Melviona juga menyukai ku? dia tidak menolak ku kemarin sampai ia tersadar dengan cctv. apa aku bisa melakukan nya lain kali? tunggu, apa ini artinya kami resmi menjalin hubungan asmara? akhh!!! aku butuh penjelasan!
Alyan merasa kesal juga bingung dengan pikirannya sendiri.
sedangkan disisi lain, Melviona yg menaiki taxi menuju rumah orang tuanya, langsung bergegas mandi dan berganti pakaian.
Ting, sebuah notifikasi SMS muncul di layar ponselnya saat ia tengah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Aku banyak urusan disini, aku akan kembali seminggu lagi, tolong awasi Alyan seminggu lagi. -Presdir-
"ada yang tidak beres" pikir Melviona.
Melviona segera menelepon Stevan agar menjemput nya, dan mereka pun pergi bersama ke perusahaan.
"apa aku tidak salah dengar?" Melviona memastikan.
"tidak nona, hari ini anda memang sedang tidak ada jadwal meeting" ucap Stevan.
"aneh sekali" gumam Melviona namun dapat di dengar oleh Stevan.
"maaf kan saya nona, tapi Presdir menyuruh saya untuk mengosongkan semua jadwal anda agar anda bisa cepat pulang dan membantu tuan muda di cabang lain" ucap Stevan dalam hati.
"kalau begitu sore ini aku akan kembali membantu Alyan" ucap Melviona sambil memainkan ponselnya "Stevan"
"ya?"
"aku belum sarapan pagi, bisa belikan aku roti seperti kemarin?"
"baik"
"ah ya, kali ini tolong belikan yg tawar saja"
"tawar? yg tidak ada rasa?"
"hm"
"tapi kenapa?"
"dengar ya, terlalu sering memakan coklat bisa membuat gigi mu busuk"
"makanya, nona kan bisa sikat gigi. saya akan belikan sikat gigi untuk nona"
"eh, kalau begitu... terserah kamu saja"