I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 71


"Alyan, ada satu hal yang lupa aku katakan padamu"


Ucap Melviona di dalam mobil.


"hm? Ah ya, aku juga melupakan sesuatu untuk dikatakan pada mu. Uhm... Bagaimana kalau kita menginap di hotel saja? Aku sangat terganggu dengan kehadiran pelayan di rumah"


"Ah itu... Jangan"


"Kenapa?"


"Sebenarnya... aku ingin tidak ada yg tau tentang hubungan kita"


"Hah?!"


"Maaf"


"Ma-maksud mu kita seperti orang asing bila bertemu di depan orang lain?!"


"Tidak. Bukan itu maksudku, kita cukup jaga jarak saja jangan sampai orang berpikir kita sepasang kekasih"


"Memang nya kenapa kalau mereka berpikir seperti itu! Kita kan memang sepasang kekasih"


"Ku mohon... jangan beritahu siapa-siapa, terutama Presdir dan sekertaris Stevan"


"Apa?!!"


"Maaf..." Melviona tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yg ia jadikan tirai penghalang tatapan kesal Alyan.


BAM, Stevan masuk tiba tiba di dalam mobil dan segera menyalakan mobil, melaju ke bandara.


🌺🌺🌺🌺🌺


"Aku dengar kamu memecat hampir semua para karyawan"


"Maaf karna mengambil keputusan seperti ini tanpa persetujuan anda, Presdir" ucap Melviona.


"Hahaha, tidak apa-apa, mengampuni para korupsi seperti itu hanya akan membuat mereka besar kepala, kamu sudah mengambil keputusan yang sangat tepat"


"Sekali lagi saya minta maaf"


"Baiklah, baiklah. Ngomong-ngomong, apa kamu akan kembali besok?"


"Tidak"


"Kenapa? Bukan kah urusan nya sudah selesai"


"Saya akan kembali menjalankan perusahaan ini"


"Hahaha, aku pikir yg dikatakan Stevan hanyalah candaan saja, ternyata kamu sudah bertekad ingin menjalankan nya lagi rupanya"


"Apa Presdir memberikan saya izin?"


"Tentu. Aku akan melihat sendiri bagaimana kamu menjalankan perusahaan yg hanya berbekal gedung kosong pencakar langit itu. katakan padaku, kau jadikan apa perusahaan itu?"


"Saya sudah memikirkan nya di pesawat, kalau Presdir berkenan, saya akan menjadi kan nya perusahaan parfum"


"Parfum"


"Mungkin ini konyol, tapi saya sudah sangat lama menyukai parfum, dan meracik nya sendiri"


"..."


"Ah, ka-kalau Presdir tidak suka, saya tidak masalah. Saya akan segera kembali memikirkan perusahaan la_"


"Apa kamu bercanda?! Sudah sangat lama aku ingin mendirikan perusahaan parfum, tapi sayangnya jangankan memperkenalkan produk parfum terbaru, aku bahkan tak tau apa apa soal itu"


"Benarkah?"


"tentu saja"


"Tapi bagaimana bisa anda ingin mendirikan perusahaan parfum sedang kan anda sendiri tidak tau apa apa soal itu"


"Ah itu... Sebenarnya aku hanya ingin membuat Li Wei senang"


"Li Wei? Siapa dia?"


"Istri ku, sekaligus ibunya Alyan"


"Ah, saya minta maaf"


"Tidak apa-apa. Li Wei adalah model internasional, dia campuran Korsel dan Taiwan, dia begitu menyukai parfum sejak kecil sama seperti mu, dia bahkan meracik parfum nya sendiri. Oleh karena itu parfum nya sangat khas"


"Wah, nyonya juga meracik parfum nya sendiri?"


"Dulu dia juga membuat kan ku satu, jadi setiap pulang kerja dia akan mengendus ku, bila ia mencium parfum lain dari tubuh ku aku akan langsung di marahi bahkan di buat tidur di teras rumah"


"Presdir sudah pernah mengalaminya?"


"Sangat sangat sering, oleh karena itu aku melarang seluruh karyawan perusahaan yang akan ku kunjungi memakai parfum agar tak melekat di tubuh ku"


"Hahaha!" Melviona tergelak tawa, namun tak lama kemudian berhenti "ma-maaf"


"Tidak apa-apa, hidup ku memang cukup tragis masa-masa itu, tapi aku tidak membenci nya. Aku bahkan menyukai nya yg begitu cemburuan, itu tandanya dia sangat mencintai dan memerhatikan ku"


"Seperti nya Alyan mewarisi sifat ibunya...Ups" Melviona tersadar bahwa ia sedang berbicara di telepon dengan Alfian.


"Kamu memang benar, Alyan mewarisi sifat ibunya, bahkan wajah nya mewarisi wajah ibunya, oleh karena itu banyak yang bilang aku bukan ayah nya"


"Kenapa bisa begitu?"


"Aku asli AS jadi rupa ku juga seperti orang AS, sementara Alyan seperti artis kor_"


"Iya-iya, saya tau. Jangan curhat terlalu lama Presdir, karna pekerjaan juga menunggu"


"Dengar, bersantai lah selagi kamu mau, jangan terlalu banyak bekerja"


"Baik, jadi seperti nya Presdir mengizinkan ide saya, oleh karena itu. Selamat malam"


Tut, Melviona memutuskan sambungan telepon.


Tampak dari bibir nya yg merapat kuat berusaha mengontrol diri agar tak berteriak memberitakan kebahagiaan nya saat ini.


Melviona pulang bersama Stevan. sesampainya di tujuan, Melviona diantara oleh salah seorang pelayan ke kamarnya untuk beristirahat.


"Haaaah~" Melviona menghela nafas panjang nya.


Akhirnya ia dapat hak untuk beristirahat oleh pekerjaan nya.


Sungguh hari yg melelahkan, begitu pikir nya.


Melviona turun dari ranjangnya dan berjalan mencari letak kamar mandi.


Tak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur nya.


"Aaaa...aku ngantuk" rengek nya sambil melompat ke atas ranjangnya.


Belum lima menit ia memejamkan matanya, ia merasakan seseorang menaiki ranjang nya.


"Ada apa?" Melviona bangkit dan duduk bersimpuh di tempatnya.


"Capek ya" Alyan memegang kedua pipi Melviona "haissh, maaf mengganggu tidur mu"


"Tidak apa-apa. Ada apa kemari?"


"Hm? Ada apa apanya? Aku cuma mau tidur bareng"


"Hah?" Seketika mata Melviona menjadi segar, dan membulat sempurna.


"Gimana kalau tiba-tiba Stevan atau pelayan datang?"


"Terus kamar kamu gimana kalau ada yang periksa trus kamunya nggak ada di dalam?"


"Udah aku kunci juga kok" jawab nya sambil menarik Melviona agar ikut berbaring bersama nya.


"Sayang banget, padahal aku mau lakuin itu sama kamu hari ini"


"Apa?"


"Nggak ada, udah kamu tidur"


"Hm" Melviona segera menutup matanya rapat, namun lagi lagi terbuka "uhmm, kamu nggak marah?"


"Untuk apa?"


"Soal hubungan kita yg aku bicarakan pagi itu"


Alyan menghela nafasnya pelan "bohong kalau aku bilang aku nggak marah, tapi aku akan menghargai keputusan mu, aku yakin kamu pasti punya alasan"


"Makasih"


Alyan tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Melviona "aduuuh, aku bisa jadi pendosa besar kalau aku sampai membencimu"


"Apaan sih..." Melviona menutup wajahnya yg merona.


"Tapi...apa kita harus sekali ya, merahasiakan hal ini pada Stevan?"


"Iya, kenapa?"


"Kamu tau kan dia nempel terus sama kamu, jadi kita cuma punya waktu malam-malam gini"


"maaf ya" Melviona mengelus rambut Alyan.


"Soal itu sih aku nggak terlalu masalah, tapi jarak kalian itu loh"


"Kenapa?"


"Kemana mana bareng, berangkat bareng, pulang bareng, makan bareng, trus ke pelaminan bareng" ucap nya sambil memanyunkan bibirnya.


Mendengar penuturan Alyan, Melviona hanya menganga tak percaya Alyan akan berpikir sampai di sana.


"Alyan"


"Apa?" Tangannya kesal.


Cup, cup, cup.


Melviona mengecup bibir Alyan sebanyak tiga kali lalu kembali berbaring, menutup dirinya dalam selimut.


"Akh, tidak adil, coba kalau kamu lagi bertenaga" ucap nya sambil memeluk pinggang Melviona.


"Alyan"


"Hm"


"Aku sayang kamu, slamat malam"


"Hah?! A-apa? Coba ulangi sekali lagi, aku nggak dengar"


"Aku ngantuk, slamat malam"


"Haissh, nggak ada siaran ulang ternyata, nggak papa deh. Melviona"


"Hm"


"Aku juga sayang kamu, selamat malam" ucap nya lalu mengecup kening Melviona.


Keesokan paginya, Alyan terbangun dan tak mendapati Melviona di sampingnya.


"Apa dia sudah berangkat kerja?" Tanya nya dalam hati sambil memandangi pintu kamar yg masih tertutup.


Cklek, seketika Alyan terkejut melihat Melviona yg keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang rapi dan cantik.


Melviona berjalan mendekati Alyan dan mengambil kunci di dalam laci meja.


"Keluar nanti jangan sampai ketahuan ya" ucap Melviona memainkan ponselnya, mengirimkan pesan kepada seseorang.


Alyan yg tengah duduk di pinggir ranjang, memerhatikan Melviona yg berdiri di hadapannya.


"Padahal kemarin kayak karet gelang, lah sekarang? Udah kayak ninja aja, semangat banget berangkat kerja nya. Dia punya cowok lain, ya di sana?" Pikir Alyan kesal.


Alyan menarik lengan Melviona, membuat Melviona terduduk di pangkuannya.


"Alyan, aku mau berangkat kerja"


Melviona berusaha berdiri, namun segera di peluk oleh Alyan.


Pria itu tiba-tiba menabrakan bibirnya di leher gadis itu dengan kasar, meninggalkan bintik merah di sana.


"Alyan aku ada pertemuan pagi ini. Jadi lain kali saja ya" Melviona dengan cepat melepas kan diri dan berlari ke arah pintu.


Sementara Alyan hanya tersenyum membiarkannya.


Melviona terburu-buru memasuki mobil, di dalam nya Stevan sedang menunggu.


Tak lama kemudian, sampai lah mereka di sebuah cafe.


"Maaf membuat anda menunggu"


Melviona dan Stevan menghampiri wanita berumur empat puluhan yg sedang duduk di pojok ruangan dekat dinding kaca.


"Tidak apa-apa, saya juga barusan sampai. Duduklah" wanita itu mempersilahkan Melviona dan Stevan dengan ramah.


Wanita itu memerhatikan Melviona, lebih tepatnya di bagian leher jenjang gadis itu. Terdapat bintik merah di sana.


"Anda bisa saja membatalkan pertemuan ini, sepertinya tubuh anda terlalu anda paksakan untuk beraktivitas. Anda memang bertanggung jawab soal pekerjaan" ucap wanita itu tersenyum lalu memanggil seorang pelayan.


"Eh" Melviona merasa bingung, tak tau apa yg dibicarakan oleh wanita itu, begitu pula dengan Stevan yg ikut duduk di sana.


Hingga saat tatapan Stevan terhenti di bintik merah yg ada di leher Melviona, pria itu langsung tersentak terbatuk-batuk.


"Kamu kenapa Stevan?" Tanya Melviona.


"Uhm nona, akhir-akhir ini cuaca cukup dingin, saya mempersiapkan ini untuk nona" Stevan memasang kan syal rajut bewarna putih di leher Melviona, sementara wanita itu lagi lagi tersenyum melihat tingkah dua orang yg akan menjadi rekan bisnisnya itu.


"Eh, nggak dingin kok" saat Melviona ingin kembali melepas syal itu, Stevan langsung menahannya.


"Tidak nona, cuaca memang dingin, ruangan ini mungkin dilengkapi penghangat ruangan, oleh karena itu nona tidak merasakan nya"


"Yaudah, nanti kalau di luar baru pasang lagi, gerah tau"


"Kumohon, ini adalah syal rajutan ibu saya"


"Eh"


"Maaf dengan hadiah ulang tahun nya yg terlambat"


"Hadiah ulang tahun? Ah... sebenarnya nggak usah sih, aku nggak terlalu mengharapkan, tapi karna ibumu yg membuatkan nya untuk ku, jadi aku sangat berterimakasih. Tolong sampaikan salam ku pada ibumu"


"Baik nona, tentu saja"


"Hahaha" akhirnya setelah tersenyum-senyum, wanita itu mengeluarkan tawa kecil nya "sekertaris mu lucu juga, siapa namanya?"


"Perkenalkan, saya Stevan Carsilion, sekertaris nya nona Melviona, senang bertemu dengan anda"


"Senang bertemu dengan kalian juga, saya Jia Yun Wei"