I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 39


"Melviona?" Tiba-tiba seseorang menyebut nama Melviona, membuat Melviona berpaling melihat ke arah suara itu.


"Kalian?" Tanya Melviona terkejut saat melihat Darlen, Morsy, Brave, Manda, dan... Alyan.


"Pacar mu ya" tanya Darlen melihat ke arah Delvin yg masih memakan es krim.


"Eh, bu-bukan, cuma teman dekat aja" jawab Melviona.


"Kok gugup sih, memang nya apa salahnya jujur?" Tanya Manda.


Melviona hanya menghela nafasnya pelan "terserah, kamu mau mikir apa, yg penting jangan di utarakan udah cukup" ucap Melviona.


"Emang kenapa kalau aku pacarnya melvi?" Tanya Delvin.


"Ngawur ya?!" Bentak Melviona sambil menginjak kaki Delvin dengan keras.


"Akh!" Jerit Delvin kesakitan.


"Waaah, beneran?!😲 Kalian kapan jadian?" Tanya Manda lagi.


"Hari ini" sahut Delvin lagi.


"Hah?!" mendengar Delvin masih bicara omong kosong, Melviona kembali menginjak kaki Delvin, namun kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Akhh! Maaf! Maaf!" Jerit Delvin saat Melviona masih meremukkan jari jari kaki nya.


"Sudah lah, apa kita disini untuk bertemu mereka?😒" Tanya Alyan.


"Ah, benar juga, kita kan kemari untuk bersenang senang" timpal Manda.


"Ayo, tunggu apa lagi" ajak Morsy.


"Eh, Melviona, kapan kapan mampir ke villa ya, aku kangen masakan kamu" pesan Darlen dan hanya di balas senyuman oleh Melviona.


"Puas?" Tanya Melviona sambil menatap tajam Delvin.


"Hm? Ya enggak lah, siapa coba yang puas kalau kamu main kasar" jawab Delvin.


"Uuukh..." Melviona mengarah kan kepalan tangannya ke arah Delvin, membuat Delvin mundur ketakutan. "awas ya, kalau kejadian ini terulang lagi, kan ku pastikan dua puluh gigi yg ada di dalam mulut mu itu rontok" ancam Melviona.


"Uhuk uhuk uhuk! Aduh, kok sampai segitunya, aku nggak suka bubur tau"


"Terserah" Melviona berjalan pergi meninggalkan Delvin dan dengan cepat Delvin menyusul Melviona untuk pulang ke RS.


Melviona sampai di RS pukul 14.00, dan ia memutuskan untuk berbaring di ranjang nya.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga akhirnya Melviona terbangun pukul 16.03.


Ia bangun dari tidurnya dan duduk di sisi ranjang nya.


Kruyuuuk~


Sejenak Melviona termenung saat mendengar perutnya yg keronconggan.


"Sudah sepantasnya ini perut demo, dari tadi aku kan belum makan 😢"


Melviona beranjak dari duduknya dan melihat kotak makanan yang di bawa Delvin pagi tadi.


"Sayang banget, tapi kamu sudah basi, maaf ya😔"


Melviona berjalan keluar, ia bermaksud untuk makan di restoran terdekat.


3 menit mengendarai mobil, akhirnya Melviona sampai, ia segera masuk ke dalam dan memesan makanan.


Restoran itu tidak lah mewah namun memiliki ciri khas yg unik, setiap dinding, lantai, kursi, meja, alat makan, bahkan langit langit nya berupa kayu jati yang mengkilau.


Cukup lama Melviona menunggu dan akhirnya pesanan nya pun datang dan sudah di sajikan di atas meja.


Tanpa basa-basi, Melviona segera memakan makanannya.


Saat Melviona asik mengunyah makanan dalam mulutnya, ia di kejutkan oleh kehadiran ayah Alyan bersama seorang pria paruh baya lainnya dengan seorang gadis yang masih muda.


Mereka duduk di salah satu bangku yg tepat nya dua meja sebelum meja Melviona.


Melviona merasa gugup, dan cepat cepat menghabiskan makanannya, namun aktivitas nya terhenti saat mendengar percakapan menarik ke dua pria paruh baya itu.


"Hohoho.... bagus lah kalau memang begitu, soalnya Putri ku orang yg mudah tersakiti" ucap pria paruh baya itu.


"Tenang saja, aku yakin Alyan akan dengan tulus menjaganya, jadi jangan khawatir"


"Hohoho, tentu saja, walaupun dia belum hadir saat perjodohan kemarin malam, tapi aku yakin suatu saat mereka berdua akan bertemu secara alami"


"ya, Alyan cukup pemalu untuk bertemu calon mertuanya di masa depan"


Kedua pria paruh baya itu tertawa bersama sama, di ikuti oleh kedatangan makanan yang mereka pesan.


"Om?" Kini gadis muda itu berbicara dengan suara lembut dan halus.


"Iya, ada apa?" Tanya ayah Alyan.


"Kapan Sury bisa ketemu kak Alyan?" Tanya gadis itu yg ternyata bernama Sury.


"Kamu yg sabar ya, Alyan tuh banyak kegiatan, jadi dia sibuk, kalau kamu mau, kamu bisa datang ke villa nya"


Pfuut!


Tiba-tiba Melviona tersedak, ia meminum jus yg ada di atas meja dan batuk sambil memukul mukul dadanya.


Setelah merasa cukup baikan, Melviona kembali melihat ke arah tiga orang itu untuk mendengarkan berita menarik, namun apa yang terjadi? Ke tiga orang itu malah sedang memandangi dirinya.


"Melviona? Sejak kapan kamu di sana?" Tanya ayah Alyan.


"Eh, dari tadi" jawab Melviona.


"Itu siapa?" Tanya ayah Sury.


"Oh, dia putrinya Walzer" jawab ayah Alyan.


"Oh, Walzer yg mau anda calon kan jadi direktur?😲"


"Hahaha, benar, tapi sayangnya dia menolak, dia berpikir aku menawarkan jabatan itu karna kedekatannya dengan ku, tapi sebenarnya bukan, Walzer memang pria yang berbakat dan jujur"


"Oh, begitu ya..."


Melviona hanya tersenyum canggung memandangi ayahnya Sury.


"Ah, kalau begitu saya permisi dulu" Melviona segera beranjak dari tempat nya.


"Eh, udah selesai?" Tanya ayah Alyan sedikit kecewa "padahal aku mau meminta mu untuk bergabung"


"Maaf, tuan, tapi sekarang sudah waktunya adik saya di periksa oleh dokter, saya harus cepat"


"Oh, benarkah? Aku lupa Tentang hal itu, aku akan menjenguk nya besok"


"Tidak perlu repot-repot"


"Tidak, tidak apa-apa, Kristian juga sudah ku anggap seperti putra ku sendiri, tentu saja aku harus menjenguk nya"


Melviona kembali tersenyum"kalau begitu, saya menunggu kedatangan tuan"


"Hohoho, ayolah, anak muda zaman sekarang terlalu sopan, aku jadi bingung menyikapi kalian"


"Kalau begitu, saya pamit pulang"


"Oh, iya hati hati di jalan"


"Baik"


Melviona bergegas masuk ke dalam mobilnya dan mengambil napas berulang ulang.


"Ah, ya ampun, jadi dugaan ku benar, Alyan kabur di hari perjodohannya" gumam Melviona.


"Hah, sudah lah, aku harus pulang dulu" lanjut nya kemudian mengendarai mobil nya menuju RS.


Setibanya di RS, Melviona melihat keadaan yang sungguh kacau balau, para dokter dan perawat keluar masuk dengan langkah cepat dari ruangan VIP yg ada di samping ruangan Kristian, tepatnya ruangan ibu Delvin.


"Cepat! Siapkan ruang operasi!" Terdengar suara Dr.Chris memerintahkan agar ruang operasi di siapkan, dan kemudian keluarlah Dr.Chris bersama perawat lainnya dari ruangan itu sambil mendorong ranjang pasien yang di atasnya terbaring lemah ibu Delvin.


Kini semuanya kembali tenang, semua orang-orang itu tengah berada jauh dari ruangan VIP, Melviona pun berjalan mendekati ruangan istri Dr.Chris yg masih terbuka lebar, ia memasuki ruangan itu dan tersentak saat melihat seorang lelaki remaja menangis di dalam ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan Delvin, ia mencoba menahan tangisnya dalam keheningan itu, hanya ada air mata yang menetes tanpa iringan suara yg memilukan, hingga saat Melviona duduk di samping nya dan mengelus lembut rambutnya, barulah ia mengeluarkan seluruh rasa sedihnya, ia kini mengeluarkan suara dalam tangisnya dan Melviona hanya dapat memeluk Delvin yg air mata nya semakin lama semakin deras.