I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 40


Hari itu, tepatnya pukul 18.59, Delvin harus kehilangan sang ibu yang telah mengandung nya selama sembilan bulan, sang ibu yang telah merawat dan mendidik nya hingga ia kini menjadi pria yang akan segera tamat SMA.


Semenjak kematian sang ibu, Delvin tidak masuk sekolah, ayah nya berkata, Delvin terus mengunci dirinya di ruangan ibunya yg ada di rumah sakit.


Kini sudah genap seminggu setelah hari yg menyedihkan itu, dan begitu juga Delvin yg tidak masuk sekolah selama seminggu penuh.


"Menurut Tante, dia bisa langsung di beri SP3 kan" ucap Melviona.


"Tidak, itu tidak boleh" larang Vera.


"Tapi kenapa? Ini sudah seminggu loh Tan, emang dia pikir sekolah ini milik keluarganya"


"Tentu saja bukan, tapi... namanya saja sekolah bangsawan, para murid bebas melakukan apa pun, mau itu dia bolos sekolah, cabut les atau apapun itu terserah mereka, asalkan uang sekolah tetap mengalir masuk ke rekening Tante"


"Ha? Aku baru tau ada sekolah secuek ini"


"Eits, tapi jangan salah, sekolah akan mengambil tindakan keras bila para murid membuat kerusakan pada lingkungan sekolah."


"Ya iyalah, orang tantenya matrealisis kok"


"😊 Hehe, kalau udah tau silahkan keluar"


"Eh"


"Udah mau pukul empat sore, kamu nggak pulang?"


"Ah, iya, kalau begitu saya permisi"


🌺🌺🌺🌺🌺


"Kamu siapa?" Tanya Alyan terkejut saat ia tiba-tiba di sambut oleh seorang gadis di dalam villa.


"Eh, kak Alyan nggak tau aku siapa?😯 Aku tunangan kak Alyan loh"


"Gilaya? Aku aja belum punya pacar, masa udah di tunangin" balas Alyan.


"Tuan, ini Nona Sury, putri tunggal dari Presdir Betharon" ucap Olivia memperkenalkan.


Mendengar hal itu, Alyan termenung sejenak dan kembali memandangi gadis itu "siapa tuh? Nggak kenal" ucap nya datar kemudian berjalan ke kamarnya.


Sementara Sury yg merasa tidak dipedulikan oleh Alyan merasa sedih dan mulai mengeluarkan linangan air mata.


"Nona, akhir akhir ini tuan muda banyak kesibukan, jadi beliau sedikit emosional terhadap sekitarnya" hibur Olivia.


"Hiks...Hiks.... trimakasih" balas Sury tersenyum sambil menyeka air matanya.


"Malam ini nona mau makan apa?"


"Ah, iya aku lupa, apa makanan kesukaan kak Alyan?"


"Eh, itu...tuan muda tidak terlalu memilih dalam makanan, asal makanan itu sesuai dengan lidah nya maka ia akan memakannya" jelas Olivia.


Sury pun mengangguk "oh, kalau gitu aku ikut masak malam ini"


"Ya?"


"Aku bakal masak makan malam buat kak Alyan, tolong bantuin aku ya"


"Oh, tentu saja" ucap Olivia tersenyum. "kalau begitu kita mulai masak sekarang"


Sementara di sisi lain, Alyan tengah merebahkan diri nya dia atas ranjang empuk nya untuk melepas lelah.


Drrrrt.... Drrrrt.....


Drrrrt... Drrrrt....


"Aargh! Pak tua ini lagi senggang ya?! Ini sudah yg ke 15 kali!" Geram Alyan saat tau ayahnya terus menerus menelpon nya.


"Apa?" Tanya Alyan kesal.


"Ah, Alyan, ayah lupa ngasih tau, putri Presdir Betharon akan nginap di villa mu untuk sementara waktu" ujar sang ayah.


"ha?! Apa Presdir Betharon tau soal ini?"


"Tentu saja dia tau"


"Waakh... orang tua macam apa itu, dia mengizinkan putri kesayangan nya tinggal bersama pria asing"


"Kau bukan pria asing lagi bagi nya, Presdir Betharon sudah menganggap mu sebagai putranya sendiri"


"Putra! Putra! Ibuku nggak mau punya suami dua!"


"Yg bilang ibumu punya dua suami siapa hah?! Dengar! Ibumu hanya mencintai ku seorang!"


"Bagaimana bisa ibu mencintai pria sepemikiran sempit seperti ayah"


"Hei!πŸ’’"


"Apa aku salah? Kalau aku memang salah, maka usir gadis bernama Sury itu dari villa ku"


"Dia sudah sampai?"


"Belum" jawab Alyan bohong.


"Kalau begitu sampai kan pada ayah kalau dia sudah sampai"


"Ogah"


"Alyan"


"Apa?"


"Jangan macam-macam"


"Terserah, sejenis pun jadi"


"Uuugh preman tengik satu ini...😠" Ayah Alyan mengambil napas panjangnya, berusaha agar emosi nya mereda dan kembali memperbaiki nada suaranya "dengar, Minggu lalu ayah janji pada Melviona untuk menjenguk Kristian di rumah sakit, tapi sampai sekarang ayah belum datang, apa kau punya waktu?"


Tiba-tiba raut wajah Alyan berubah drastis "tentu! Tentu saja ada! Maksud ku, aku akan mengorbankan waktu ku untuk menjenguk adiknya"


"Cih, ayah hanya menanyakan waktu mu, bukan mengatakan kau akan menjenguk Kristian, dan lagi, pengorbanan apa yg kau maksud? Tidak perlu repot-repot pergi kalau kau terpaksa, itu hanya membuat pasien nya bertambah parah, dasar bodoh, aku akan menyuruh sekertaris ku ke rumah sakit"


"Eh, yah! Tidak perlu, sudah ku bilang aku punya waktu, aku akan dengan ikhlas dan tulus hati untuk menjenguk nya jadi tenang saja, aku yakin sekertaris ayah juga orang yang sangat sibuk, jangan menambah bebannya lagi"


Tut.


Alyan langsung menutup panggilan teleponnya dan turun dari ranjangnya.


Ia bergegas memasang jaket dan sepatu nya, kemudian keluar dari kamarnya.


GIMANA MINGGU INI? MASIH SEMANGAT JALANIN KAN.


YA IYALAH, LIBUR KALI INI LEBIH PANJANG DARI LIBUR SEMESTER πŸ˜†


IKUTI TERUS CERITA AKU YA. TAP JEMPOLNYA DAN TINGGAL KAN JEJAK DI KOMENTAR 😘