I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 83


"dengar...aku tidak bermaksud lain, aku bukannya tidak tulus mencintaimu. Aku hanya... tersadar akan suatu hal"


"Apa?"


"Aku tersadar akan... status ku"


"Hah?"


"Aku tau, aku bukan seperti Sury yang memiliki ayah yang mempunyai perusahaan, juga bukan mantan kekasih mu Manda yang seorang idol terkenal, aku hanya gadis biasa yang bahkan harus bekerja untuk kepentingan keluarga, jujur saja...aku juga tidak ingin bekerja, aku ingin menikmati kehidupanku walau hanya sebentar, aku bukan seseorang yang gila bekerja Alyan tapi aku juga bukan sosok orang yang akan mengecewakan seorang atasan, aku hanya menjalaninya seperti air sungai yang terus mengalir dengan harapan suatu saat aku akan tenang disuatu tempat"


"jadi selama ini..."


"Level kita berbeda Alyan, kamu berada tinggi di atas sana, menikmati semuanya tanpa beban. Sementara aku tidak, sebenarnya jangankan menjadi pasanganmu, aku bahkan tidak boleh memendam perasaan terhadapmu. Oleh karena itu... Jika kamu tidak suka dengan hubungan kita yang seperti ini...aku tidak apa-apa bila kamu berpaling ke yang lain"


"VIONA!" Alyan merasa sangat-sangat kesal dengan penuturan Melviona barusan.


"Aku sudah memikirkan hal ini dua hari semenjak kita menjalin hubungan. Sepertinya aku memang ditakdirkan sendiri ya, selama bertahun-tahun aku tidak mempunyai seorang kekasih, dan saat aku memilikinya aku bahkan tidak punya banyak waktu untuk lebih mendekatkan diri dengannya"


Sekali lagi, saat Alyan mendengar Melviona ia merasa kesal bahkan sangat gusar, ingin sekali ia membuat mulut itu berhenti bicara, dan ingin sekali ia melampiaskan nafsunya yang mungkin akan menyakiti gadis itu.


"... intinya...kamu tidak perlu repot-repot memikirkan perasaanku, ak_"


"Bagaimana kalau aku bertekad memberitahukan hal ini pada ayahku?"


"Tidak, lebih baik jangan...apapun yang kamu lakukan semuanya akan tertuju pada satu hal yaitu... perpisahan"


"Katakan padaku, sebenarnya dari mana kamu mendapat pikiran seperti itu? Aku pikir kamu benar-benar gadis yang berpemikiran luas, rupanya luasnya mencakup hal ini ya..."


"Alyan..."


"Aku kecewa"


"..."


"Jika ayahku merestui hubungan kita, apa yang akan kamu pikirkan?"


"...aku tidak tau, dan aku tidak perlu mencari tau, karna itu tidak akan terja_ hmp"


Alyan tiba-tiba mencium bibir Melviona, mel*matnya lama sehingga gadis itu hampir kehilangan nafas.


Ciuman yang sangat lama, membuat Melviona terengah-engah mengambil nafasnya, sepertinya butuh waktu setidaknya sebentar untuk menormalkan paru-parunya yang memompa udara terlalu cepat dari biasanya.


"Aku akan membuat semua orang tau, dan tidak ada yang dapat menghentikanku, tidak terkecuali dirimu, sayang" Alyan mendorong Melviona terbaring diatas sofa dan kembali ******* bibir gadis itu. Kali ini Melviona bertahan cukup lama dalam ciuman itu, ciuman yang sangat panas walau hanya seorang yang melakukannya.


"Balas aku" dua kata dari Alyan yang terdengar dingin dan tegas, sama seperti sorot mata yang ia tunjukkan saat ini, membuat Melviona seakan berpikir apakah pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Alyan yang ia kenal?


Sulit bagi Melviona untuk menanyakan hal itu saat ini, sebab kini pria yang berhadapan dengannya pasti tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaan itu, karna sekarang pria itu begitu ingin sekali menuntaskan apa yang selama ini tertunda, yah sepertinya tidak apa-apa, anggap saja sebagai permintaan maaf ku dan hadiah perpisahan kita.


Kini Melviona membalas ciuman itu, melingkarkan tangannya di leher pria itu dan mencium bibirnya dengan lembut, membuat Alyan yang merasakan sentuhan itu tersadar walau tak seberapa, tatapannya kini kembali menghangat begitu juga dengan permainannya yang melembut.


🌺🌺🌺🌺🌺


Keesokan harinya, matahari bersinar lebih terik pagi itu, sehingga cahaya nya menembus kaca dan gorden pintu balkon, menyebabkan Melviona yang masih menutup mata, mengernyit.


Perlahan ia membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang akan masuk ke mata.


Melihat suasana yang hening, membuat Melviona merasa damai.


Ya, damai sebelum ia tersadar bahwa Alyan tertidur disampingnya tanpa pakaian dengan dibalut selimut, sementara dirinya mengenakan lingerie juga selimut yang sama dengan Alyan.


Melviona kembali mengulang memori yang ia ingat kemarin malam, ia ingat sebelum Alyan membuka pakaiannya, pria itu mengatakan bahwa ayahnya sudah tau tentang hubungan mereka dan sangat senang saat mendengarnya.


"Sebenarnya apa yang dipikirkan Presdir?" Tanyanya dalam hati.


"Emh..." Alyan menggeliat lalu mendekap Melviona seperti guling.


"Dulu aku tidak merasa deg-degan saat melihat tubuhnya, tapi kenapa sekarang..." Seketika wajah Melviona merona saat kejadian kemarin kembali terulang.


"Apa Alyan sering menonton film dewasa? Dia terlalu profesional untuk hal ini. Aku yakin, bila dia bekerja diklub malam pasti akan sangat dikejar oleh yang muda sampai yang tua, apalagi nenek-nenek" pikir Melviona lagi.


Melviona menyentuh wajah Alyan mengelus pipinya lembut "aku masih tidak percaya, ternyata wajah tampan sok polos ini memendam pikiran mesum ya" gumamnya.


Cup, Melviona terkejut saat Alyan tiba-tiba mencium keningnya.


"Aku juga masih tidak percaya, saat bangun pagi bersama kekasih ku, aku malah mendengar hal ini darinya" ucap Alyan disusul dengan senyum manis darinya.


"Sudah bangun?" Tanya Melviona.


"Belum" Alyan menggeleng kecil.


Melviona tersenyum, lagi-lagi Alyan bersikap seperti anak-anak, sungguh berbeda saat kemarin ia melihat tatapan dingin dari pria itu.


"Lalu kapan kamu mau bangun?"


"Ng... saat kamu mencium bibirku dan mengucapkan selamat pagi"


Tanpa pikir panjang Melviona langsung mencium Alyan "Selamat pagi sayang~♡ " Melviona mengucapkan selamat pagi kepada Alyan dengan senyum yang tak kalah dari sinar mentari.


"kalau 'gitu, aku bersiap-siap kekantor dulu ya" baru saja Melviona menginjakkan satu kakinya diatas lantai, Alyan malah kembali menariknya kembali naik keatas tempat tidur.


"Eh, hmp?!" Lagi-lagi Alyan mencium bibir Melviona secara tiba-tiba.


Cukup lama ciuman itu, melihat Melviona yang tidak meronta lepas seperti biasanya membuat Alyan tak melepas ciumannya.


"Ternyata kamu sudah mahir berciuman ya, tidak sesak lebih cepat seperti sebelumnya" ucap Alyan.


Melviona kembali tersenyum "itu karna aku sudah terbiasa dengan ciuman mendadak darimu"


Alyan tertegun, yah kalau dipikir-pikir Alyan memang slalu nyosor tiba-tiba tanpa peringatan ataupun aba-aba.


"Hari ini kamu izin sakit saja, kita lanjutkan yang kemarin"


"Eh, tapi bukannya sudah tuntas? Aku ingat kemarin aku tertidur hampir pukul dua lewat dan kamu masih melanjutkannya 'kan? Sekarang aku harus kekantor"


"Apa kamu merasa pusing?"


"Sedikit, tapi tetap saja aku akan kekantor"


"...oke" dengan santai Alyan membalas dengan senyuman.


"kenapa tiba-tiba aku kesal ya? Biasanya dia sangat keras kepala bila keinginannya tidak dikabulkan, lalu apa ini? Apa karna dia sudah melakukannya jadi dia tidak peduli padaku? Terserah!" Pikir Melviona kesal. Ia mengibaskan selimut dari tubuhnya dan menurunkan kedua kakinya di atas lantai, namun saat ia berdiri...Krak.


"Awh" Melviona kembali terduduk, ia merasakan sakit di seluruh tubuhnya terutama bagian intim "aku lupa kalau dia profesional soal ini... tubuhku sakit semua" pikirnya sambil meringis kesakitan.


Alyan tersenyum, ternyata ia tau bahwa kondisi Melviona saat ini pasti tidak terlalu memungkinkan untuk bekerja, jadi mau tidak mau Melviona harus cuti hari ini.


"Kemarilah" Alyan menarik pinggang Melviona, membuat kedua kaki gadis itu kembali naik keatas.


"jadi kamu sudah tau ya kalau kondisi ku akan seperti ini"


"haha maaf ya, pasti sakit sekali 'kan"


"hm.."


"mari lakukan lagi"


"eh?!"


"daripada sakit dua kali lebih kali sekali kan" Alyan tersenyum.


"aku capek, nanti sakitnya tambah parah" Melviona berbaring.


Cup, Alyan mengecup bibir Melviona "kumohon, cuma sebentar kok, nggak sampai setengah jam. Sebagai gantinya aku tidak akan minta lagi kalau bukan kamu yang minta pertama" ucapnya penuh harapan dengan tatapan berbinar-binar.


Melviona menghela nafasnya "yaudah deh, kalau kamu mintanya kayak 'gini juga siapa yang bisa 'nolak coba"