
Keesokan harinya, seperti biasa Alyan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah, namun ia merasa terganggu saat tiba-tiba Sury menuruni anak tangga sambil memakai seragam sekolah yg sama dengan nya.
"Pagi kak" sapa Sury yg kini sudah duduk di hadapan Alyan.
"Kamu pindah sekolah?"
"Iya, mulai hari ini aku sekolah di tempat yang sama dengan mu, aku kelas Xl-1"
Alyan hanya terdiam dan kembali melanjutkan makannya.
"Aku tidak punya kenalan di sana, jadi apa nantinya kakak bisa mengajak ku berkeliling? Aku juga ingin mengenal teman teman dekat kak Alyan"
Alyan meletakkan sendok nya di atas piring, dan menatap dingin Sury yg tengah sibuk dengan sarapannya.
"Dengar, aku tidak suka bila nyamuk terus berdenging di kuping ku, jadi di sekolah nanti nya, pura pura lah tidak mengenal ku, jangan mengajak ku bicara dan jangan berkeliaran di sekitar ku, karna kamu sangat menggangu" ucap Alyan penuh penekanan, lalu meninggalkan meja makan dan menuju ke sekolah sendirian.
Hari itu, Melviona mengajar di kelas Delvin, dan sama seperti sebelumnya, ia tidak melihat Delvin di dalam kelasnya.
Untuk kesekian kali, Melviona menghela nafasnya setiap menghadapi kenyataan itu,
Kriiing!
Bel istirahat pertama berbunyi.
"Sekian saja untuk hari ini, jangan lupa dengan pr yg saya berikan" Melviona kembali mengingatkan para murid di kelas itu sebelum ia keluar.
Di sepanjang jalan koridor, Melviona berjalan lesu, sambil menatap setiap permukaan lantai yg akan ia pijaki untuk melangkah ke ruangan nya.
Bruk!
Melviona bertabrakan dengan salah seorang siswi sekolah itu, dan membuat buku yg ada di dekapan nya jatuh ke lantai.
"Lain kali, perhatikan orang yang ada di depan mu Bu" tegur siswi itu, lalu meninggalkan Melviona yg tengah mengumpulkan buku bukunya.
Melviona menoleh ke belakang, ia belum sempat melihat gadis itu, hanya punggung dan rambut pirang lurus sepinggang yg ia lihat saat gadis itu berlalu meninggalkan nya.
Sikap seperti itu memang tidak sopan bagi seorang murid terhadap gurunya, namun Melviona tidak terlalu mempermasalahkan nya, karna itu juga termasuk dalam kecerobohan nya.
Drrrrt...
Ponsel Melviona berdering saat ia baru saja sampai di depan pintu ruangan nya.
"Halo, dok?" Sapa Melviona.
"Melviona, apa kamu bisa datang kemari sepulang sekolah?" Tanya Dr.Chris.
"Memang nya ada apa dok? Apa Kristian siuman" Melviona yg masih berdiri di depan pintu ruangan nya menjadi tambah semangat.
"Tidak, bukan itu, ada yg ingin saya katakan, saya ingin meminta bantuan mu, ini tentang Delvin"
"Delvin?" Seketika raut wajah Melviona kembali murung. "baiklah, saya akan menemui anda nantinya"
"Kalau begitu, maaf menyita waktu mu"
Beberapa menit Melviona duduk berbaring di atas meja nya, bel masuk kembali berbunyi dan ia kembali mengajar di kelas. Yaaah,
Seharusnya memang begitu, namun yg ia lakukan sekarang ialah bermalas-malasan di ruangan nya.
Cukup lama ia membiarkan kelas yg seharusnya kini ia berada terbengkalai, hingga seseorang mengetuk pintunya dan membuat langsung terbangun memperbaiki duduknya.
"Alyan?" Melviona menghela nafas leganya, ia berpikir yg mengetuk pintu ruangan nya ialah Vera.
"Bu, sekarang kami matematika, apa ibu lupa?" Tanya Alyan bingung.
"Ah, oh tidak, tentu saja tidak, tadi aku hanya sedang mempersiapkan bahan belajar" ucap Melviona berbohong sambil mengambil buku yang ia bawa lalu berdiri.
"Baru tau kalau mempersiapkan bahan belajar dengan mata tertutup" ledek Alyan yg tau dengan kebohongan Melviona.
"Sudahlah, kamu memang tidak tau cara kerja yg lebih praktis" balas Melviona sembari berjalan cepat menuju kelas XII-1, dan Alyan hanya tersenyum kecil sambil berusaha menyamai langkah Melviona.
Jam menunjukkan pukul empat sore, dan sesuai janji nya, Melviona bergegas pulang untuk menemui dokter Chris.
"kamu sudah pulang?" Tanya dr.chris saat melihat Melviona mengetuk dan membuka pintu ruangan nya.
"Iya, dok, saya langsung pulang dari sekolah"
"Oh, saya jadi tidak enak dengan mu"
"Tidak apa-apa, jadi ada apa Dengan Delvin dok?"
"Ah, itu..." Dokter Chris beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Melviona, mereka menuju ruangan VIP alm.ibu Delvin sekaligus istri dari dr.chris.
Sesampainya di depan pintu yg tertutup itu, dr.chris menghentikan langkahnya, dan kembali menatap Melviona.
"Seperti yang kamu lihat, dia selalu mengunci pintu ini, dia tidak pernah sekalipun keluar sepulang dari pemakaman ibunya. Awalnya saya tidak terlalu menghawatirkan nya, dia selalu memesan makanan secara online, tapi tiga hari lalu, saya sudah tidak melihat seseorang mengantar kan makanan untuk nya, apa kamu yang memberi nya makanan"
Melviona menggeleng cepat dengan ekspresi bingung "tidak, saya tidak melakukan nya, saja juga tidak pernah melihat seseorang mengantar kan makanan seperti yg dokter bilang"
"Oh" dr.chris mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "itu....saya tau saya memang tidak tau malu, tapi apa kamu bisa membujuk nya keluar?"
"Eh, itu..."
"Bila kamu tidak mau juga tidak apa apa, saya juga Sadar dengan kesibukan mu, saya mengatakan ini hanya karna saya berpikir kamu dan Delvin punya hubungan yg spesial"
"Ah, tidak, kami tidak seperti yg dokter pikir, kami hanya teman"
"Benar kah? Maaf, selama ini saya salah berpikir, kalau begitu, saya kembali dulu" dr Chris segera berlalu meninggalkan Melviona yg masih berdiri di depan pintu.
Melviona tau jelas akan perasaan dr.chris terhadap putranya, ia juga tau kekecewaan dr.chris saat mengetahui bahwa hubungan nya dengan Delvin hanya sebatas pertemanan saja.
Walau merasa sedikit tidak enak, namun Melviona tidak mungkin mengatakan hal yg tidak benar pada dr.chris yg merupakan seorang ayah dari Delvin.
Melviona hanya dapat terdiam, ia menatap pintu tertutup itu dan memegang engsel pintu dengan keraguan.