I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
Bab 4


"Keluar, dan bilang pada yg lain untuk menghentikan acara ini dan segera meninggalkan rumah ini" ucap Melviona dingin.


"ba-baik" jawab Sarah segera keluar dari sana, dan tak lama kemudian musik pun berhenti, tidak ada suara orang lagi di sana, suasana malam itu sangatlah sunyi.


"kakak... panas" lirih Kristian lagi, kemudian mengangkat kepalanya sendiri dan tidur di atas pangkuan Melviona, Kristian memeluk erat pinggang kakaknya, dan kadang menggeliat.


Tuk


Melviona mengetuk kepala Kristian "tenang" ucap Melviona. Melviona mengambil selimut, yg berada di sampingnya, menyelimuti Kristian yg tidak memakai baju, dan bersandar di dinding.


malam itu, ia membiarkan Kristian tertidur semalaman di pangkuannya.


Keesokan pagi nya 07.00 wib Kristian bangun lebih awal dari kakak nya.


"kakak?"


GLEK, Kristian menelan ludahnya, ia tidak percaya yg dia lihat pertama kali saat bangun pagi adalah kakaknya, apa lagi posisi tidur nya kali ini sedang berada di pangkuan kakak nya.


Kristian menggosok gosok matanya berkali-kali, dan tetap saja kakak nya tidak hilang alias real bukan halusinasi nya.


spontan Kristian berdiri dan terjatuh di lantai.


"aww, masih pagi aja udah kena sial, apa lagi kalo udah siang" Kristian memegang kepalanya dan kembali melihat kakak nya yg masih tidur bersandar di dinding.


"akh, kalau gw pergi, masalah ini bakal tambah runyam, kalau gw nggak pergi, bakal di hukum habis habisan gw, akh ...kok kayak gini sih, kenapa kakak udah pulang sebelum gw...eh gw ingat, kemarin Sarah..." Kristian mengambil bajunya dan memakainya, kemudian perlahan ia menidurkan kakak nya di kasur nya kemudian menyelimuti nya.


ia segera mengambil handphone nya dan pergi ke ruang tamu yg masih berantakan


"Vin, lo tau nomor nya Sarah nggak?" tanya Kristian pada Alvin lewat telepon.


"hm? uuuh...ngegangggu aja... baru pagi loh ini" jawab Alvin yg masih merasa ngantuk.


"akh, bangun dulu woy! my sister udah tau semuanya, dia balik lagi ke rumah lebih cepat kemarin" ucap Kristian gelisah, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamarnya.


"hm? terus What does that have to do with me?"


"uuukh, gw ke rumah lo sekarang" geram Kristian.


"buat apa?"


"ngadu ke ibu lo kalo lo sering ke tempat..." belum sempat Kristian melanjutkan perkataannya, Alvin sudah memotong.


"i-iya, iya gw kasih tau nomor nya Sarah, jangan ke rumah gw, ibu gw lagi sakit" potong Alvin yang kini sudah duduk di atas tempat tidur nya.


"alesan lo, udah basi tau nggak. setiap gw mau ngadu, lo slalu bilang' ibu gw sakit Kris, maafin gw ya?' ."ucap Kristian kesal.


"plis.... jangan ngadu ke ibu gw, kali ini dia beneran sakit kok" bohong Alvin.


"udah cepat, mana nomor nya?"


"bentar biar gw kirim lewat WA aja deh"


"buruan!" ucap Kristian, memutuskan sambungan teleponnya.


Ting Ting


Kristian segera melihat pesan dari Alvin, dan segera setelah ia mensave no Sarah, Kristian langsung menghubungi nya.


MAAF, NOMOR YG ANDA HUBUNGI SEDANG TIDAK AKTIF, COB...


"kok nggak aktif sih? apa jangan jangan Alvin nipu gw lagi, akh, tuh anak bikin gw.."


TAP TAP TAP


"KRISTIAN WALZER" ucap Melviona, penuh penekanan.


Kristian perlahan berbalik, ia melihat kakak nya yg sudah menguncir rambut nya ke atas.


"ka, kakak...😱" gumam Kristian, yg seketika terjatuh di lantai dengan lesunya.


"coba jelaskan apa yg ku lihat kemarin malam" ucap Melviona, matanya yg tajam dan berapi api tak lepas sedikit pun dari Kristian.


"i, itu..."


"bukan kah kemarin bilang mau nginap keluar kota" potong Melviona.


"a,aku hanya mau...."


"lalu kenapa gadis itu menelanjangi dirinya sendiri, di tambah lagi itu terjadi di kamar mu dan hanya ada kamu dan gadis itu di dalam sana" lanjut Melviona, melemparkan berbagai pertanyaan yang sulit di jawab oleh Kristian.


"ka, kakak....aku tidak bermaksud"


"halo pah? dimana mama? tolong berikan ponselnya pada mama sebentar" ucap Melviona yg kini sudah menelepon ke dua orang tuanya di London.


"mama?!" spontan Kristian menarik ponsel Melviona dan mematikan sambungan teleponnya.


"KRISTIAN! JANGAN MACAM-MACAM, SEKARANG AKU SEDANG TIDAK MAIN-MAIN DENGAN MU" geram Melviona berdiri dari duduknya.


"main main? memang nya sejak kapan kakak main main sama aku". pikir Kristian.


Melviona berusaha mengambil ponselnya di tangan Kristian, namun karena Kristian lebih tinggi dari nya, ia tidak dapat meraih nya.


"KEMBALIKAN!" ucap Melviona penuh amarah.


"tapi kakak janjiya jangan telepon papa mama lagi? jangan ngaduin aku" ucap Kristian dengan suara memelas.


"dalam hitungan ke 3, kalau belum di balikin lagi, maka akan kubuat kamu menyesal untuk hidup" ucap Melviona. "1! 2! ti.."


"i-ini, aku kembali kan" ucap Kristian segera menyodorkan ponsel kakak nya.


Melviona kembali mengambil ponselnya dan..."halo, pah, mama mana?" tanya Melviona kembali menelpon ke dua orang tuanya.


Namun, kali ini berbeda dari sebelumnya, Kristian tanpa sengaja merebut ponsel Melviona, dan kemudian menjatuhkan kannya ke lantai, membuat layar ponsel Melviona retak dan berwarna putih.


"akh, ma, maaf" ucap Kristian, segera mengambil ponsel Melviona di lantai. "gawat, ini hp kena LCD" pikir Kristian.


Melviona hanya terdiam, melihat ponsel android yg sudah menemaninya selama kurang lebih 4 tahun, harus tewas secara tragis di tangan adiknya sendiri.


Tak terasa, air mata Melviona keluar dari mata nya dan mengalir di pipi manisnya. " ifi..." ucap Melviona melihat ponsel nya yg teryata sudah di beri nama 'IFI'.


"eh, kakak? kakak, jangan nangis dong, lihat ifi masih bisa di perbaiki kok, cuma kena LCD nya doang, aku punya teman yang ahli dalam bidang teknologi, kak? kakak?" ujar Kristian berusaha menghibur kakak nya.


"****** gw, kalau gw udah mati di tengah cerita, bagaimana nih novel bisa tamat?" pikir Kristian.


Melviona mengambil ponselnya di tangan Kristian perlahan, dan menghapus air mata nya.


Kristian menghela nafas nya perlahan, berpikir ini semua sudah berakhir, namun.....


"Kristian..." ucap Melviona.


"ya?" tanya Kristian bingung.


"Mulai hari ini, kamu nggak boleh main sama teman teman kamu! kunci motor kamu kakak sita! setiap berangkat dan pulang sekolah, kamu harus bareng sama aku! lalu, tidak ada tidur siang, terlebih lagi pulang sekolah kamu harus membantu pekerjaan rumah! mencuci pakaian sendiri! mengepel dan menyapu lantai dan yg terakhir kamu harus mencuci piring!"