I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 55


Manda mulai merasa gelisah, namun hatinya juga terlanjur sakit saat Alyan tak mau menciumnya di hadapan teman-temannya, ia merasa malu juga kesal namun sekarang di tambah dengan gelisah juga takut.


"Apa yg kau lakukan? Tadi aku hanya bercanda!" Manda memegang punggung Alyan "muntah kan! Ayo muntah kan!" Berkali kali Manda memukul punggung Alyan namun tak ada yang keluar dari mulut pria itu, bahkan suara pun enggan untuk keluar.


Alyan mulai merasa kan reaksi obat itu, yg dengan cepat mulai menggerogoti tubuhnya dan keringat mulai mengalir di pelipisnya.


Melihat reaksi Alyan, orang-orang yang melihat nya kecuali Melviona, Morsy, Brave dan manda mulai terkagum-kagum.


"Widih, Manda...Yg kuat ya, jangan tidur duluan Hihihi" teman teman Manda mulai terkekeh mengira Alyan akan melampiaskan nafsunya pada Manda, namun apa yg terjadi?


Alyan malah beranjak dari duduknya dan duduk di belakang Melviona, memeluk pinggang gadis itu dari belakang.


"Panas..."rintih nya.


Manda beserta teman-temannya terkejut bukan main, bukan nya memeluk Manda yg duduk di sampingnya dan jelas-jelas kekasihnya, tapi malah memeluk gadis yg jauh dari jangkauan nya dan tak ada hubungan dengan nya.


"A-a-alyan" Melviona berusaha melepas pelukan Alyan dengan satu tangan nya, sementara tangan lainnya masih memegang laporan keuangan dari perusahaan.


"A-alyan, tolong lepaskan, Manda ada di sebelah sana" Melviona ingin Alyan berpindah kepada Manda.


Namun, alih-alih melepas kan pelukannya dan beralih ke Manda, Alyan malah mempererat pelukannya, bukan hanya itu, kedua kakinya juga ikut bermain mengekang Melviona dan menaruh dagunya di bahu gadis itu.


"Apa kau gila? Aku kepanasan, seharusnya kau merawat ku bukan mengusir ku" gumamnya dengan posisi yg sama. "Aku kepanasan Viona...aku kepanasan...." rintihnya lagi.


"Baiklah, kalau begitu lepaskan aku dulu, aku akan mengambil kan mu air dingin"


"Tidak, aku tidak mau"


"Tapi A-alyan, kamu membuat ku tak dapat bernafas" lagi-lagi Melviona mencari celah untuk kabur.


"Benarkah?" Perlahan Alyan mulai mengulur kan pelukannya juga kakinya, namun saat Melviona mau beranjak Alyan kembali menangkap nya dan mengembalikan nya seperti posisi semula. "Anggap saja ini sebagai hukuman mu"


"Maaf, Tapi sepertinya aku tidak berbuat salah padamu, jadi tolong lepaskan, aku sungguh tak bisa bernafas"


"Saat di jembatan, kamu menolak ku, apa kamu ingat itu?"


"Eh"


"Benar, dan rasanya sesak di bagian dada ku, aku juga merasakan sakit di hati ku, sekarang kamu juga harus merasakan nya"


"Tapi dibanding merasa sakit hati, sekarang aku lebih merasakan sesak nafas"


Alyan mendengus, melepas pelukannya juga kakinya, di sanalah dengan cepat Melviona berlari dengan laporan ditangan nya.


"Aku akan memastikan mu sakit hati juga" Alyan yg berhasil menangkap dan mengangkat Melviona, mulai berjalan ke arah villa meninggalkan semua orang yg memandangi mereka dalam kebingungan dan kekesalan.


"Tunggu, apa Alyan akan meniduri gadis itu?" Seorang dari gadis di sana buka bicara di tengah keheningan.


"Sial!" Manda berdiri namun tangan nya ditahan oleh Morsy "sudah lah" ucap nya "mari kita lanjutkan pestanya" Morsy menarik tangan Manda agar ia mau kembali duduk.


"A-alyan! Turunkan aku!" Melviona masih saja berteriak bahkan sampai mengundang para pelayan yg akan tidur.


Para pelayan itu terkejut tak habis pikir saat melihat tuan muda mereka mengangkat Melviona seperti seorang putri namun membawa nya di dalam kamar.


Alyan melempar kan Melviona di atas ranjang nya, dan berbalik mengunci pintu.


"Alyan, buka pintu nya"


Namun Alyan tak peduli, ia berjalan ke arah dinding kaca transparan kamar nya dan menarik gorden agar tak ada yg melihat.


Melviona segera berdiri dan berjalan kearah pintu, namun Alyan langsung menarik lengan Melviona dengan kasar dan mulai menabrak kan bibir nya dengan bibir Melviona.


Melviona merasakan lidah Alyan yg menuntut nya untuk membuka mulutnya, namun hal itu tak terjadi, Melviona malah memukul dada bidang Alyan, menyuruh Alyan agar berhenti.


Namun jeda itu hanya sesaat, bahkan lima detik terlalu lama bagi Alyan, ia kembali mencium Melviona dengan kasar, sambil mendorong Melviona ke arah ranjang nya.


Bruk, Melviona terbaring di atas ranjang, hanya kaki nya lah yang tak ikut berbaring bersama nya.


Alyan menatap Melviona, dengan kedua tangannya yang menumpu di atas ranjang. keringat nya mulai membasahi tubuhnya bahkan pakaian yg tengah ia pakai basah akan keringat nya.


"Jadi, apa kamu sudah merasa kan sakit hati?" Tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.


"Alyan"


"Aku... merasa kan sakit hati yg luar biasa saat itu, saking sakit nya aku mencari di internet apakah ada orang yang hidup tanpa mempunyai hati? Karena aku ingin hidup seperti mereka, aku ingin jadi bagian dari mereka yg tak akan merasakan sakit seperti ini lagi!"


"Tidak Alyan. kamu salah" Melviona memegang pipi Alyan yg terasa panas. Ia perlahan bangkit dan kini dalam posisi duduk "jangan jadi orang seperti mereka" ucap Melviona. "Ingatlah satu hal ini" menyentuh dada sebelah kiri Alyan "hati mu lah yg membuat mu bahagia, jadi jangan membuat nya menderita"


"tapi sekarang hatiku sangat menderita!!!" Alyan meraung dengan suara berat dan serak.


"Maka buatlah dia bahagia, carilah hal yang membuat nya bahagia kembali, walau pikiran mu menolak, tapi demi hatimu, carilah hal yang membuat nya bahagia"


Alyan menatap Melviona, matanya memerah dan pelupuk matanya siap untuk menjadi bendungan dari air matanya. "Aku sudah menemukan nya"


"Eh"


"Aku sudah menemukan kebahagiaan hati ku" Alyan mendekatkan wajahnya ke arah Melviona hingga kening mereka bersentuhan.


"Walau pikiran ku menolak, tapi demi hati ku, aku akan mencari hal yg membuat nya bahagia"


Cup, satu kecupan lembut di bibir Melviona "dan aku takkan melepaskan nya"


Alyan kembali mencium bibir Melviona, namun kini dengan lembut, sehingga Melviona yg terbawa sensasi mulai membuka mulutnya dan membalas ciuman itu.


Ciuman berlanjut, hingga Melviona perlahan memundurkan kepalanya sambil memegang kedua lengan atas Alyan.