I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 28


"Biar gw antar" ucap Farrel. 


"Lo nggak tau masalah nya! Lepasin!" Ucap Melviona berusaha menarik lengannya dari genggaman kuat Farrel. 


"Nggak! Dengan kondisi Lo yg seperti ini, gw nggak bakal biarin Lo pergi gitu aja!" Ucap Farrel tegas, kemudian menarik lengan Melviona ke arah mobil nya dan langsung mengantar kan Melviona ke RS. 


Sesampainya di sana, Melviona berlari dengan terburu-buru, menanyakan kamar pasien bernama Kristian, kemudian tanpa pikir panjang berlari ke sana diikuti oleh Farrel yg berusaha menyamai langkah kaki Melviona yg tengah berlari. 


BRAK!


"Pa! Ma!" Panggil Melviona, saat melihat kedua orang tuanya yang tengah duduk di samping ranjang Kristian dengan wajah yg tengah bersedih. 


Melviona kemudian menghampiri Kristian yg tengah berbaring pingsan dengan selang infus di tangannya, dan tiba-tiba air mata Melviona menetes satu persatu kemudian menjadi sebuah isakan tangis yang membuat hatinya sakit. 


Kini sudah pukul delapan malam, Walzer membawa istrinya pulang agar dapat beristirahat dan menenangkan hati dan pikiran istrinya itu, sedang kan Melviona memilih untuk tinggal di rumah sakit menemani Kristian yg masih belum sadarkan diri. Melviona yg terbangun dari tidurnya melihat matahari hari sudah terbenam, lalu ia pun mengambil ponselnya di dalam tasnya. ternyata sudah pukul 20:15, Melviona menghela nafas keputusasaannya, saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Alyan. 


Ia kemudian menaruh ponselnya di atas meja dekat ranjang Kristian, lalu memerhatikan Kristian yg belum sadar, ia mengelus rambut Kristian dengan pelan. "dasar anak nakal" gumam Melviona. "kakak bukannya sudah bilang... kalau berkendara itu harus yg benar" lanjut nya. "cepat sadar ya..." 


"Jangan buat kakak mu ini marah karna menunggu mu" lanjut Melviona kemudian mengecup kening Kristian. 


Keesokan harinya...


Melviona terbangun saat yersia memanggilnya. 


"Mama?" Gumam Melviona sembari menggosok matanya. 


"Kamu menginap di sini semalaman?" Tanya Yersia mengelus rambut Melviona. 


"Hm, kalian kapan datang?" Tanya Melviona. 


"Sudah lah, kamu pasti lelah, kamu pulang dulu, mama sama papa bakal jagain Kristian"


"Ah, ngomong ngomong apa Kristian sudah sadar?" Tanya Melviona lagi melirik ke arah Kristian yg belum sadar kan diri. 


"Tidak..." Ucap Walzer. "pagi ini kami baru tau dari dokter, kalau Kristian..." Ucapan Walzer terhenti sejenak, berpikir keras bagaimana ekspresi Melviona bila ia memberi tahu yg sebenarnya tentang mengapa Kristian belum sadarkan diri. 


"Kristian kenapa?" Tanya Melviona gelisah ayah nya tidak melanjutkan ucapannya. 


"Kristian koma" ucap sang ayah. 


"Apa?!" Tanya Melviona kaget.


"Papa sudah minta, agar Kristian di pindahkan ke ruang VIP, di sana mama bisa terus menjaga nya tanpa gangguan, dan papa akan melanjutkan pekerjaan papa seperti biasanya" jelas Walzer. 


"Nggak..." Lirih Melviona. "Nggak mungkin!" Serunya. "Kristian cuma mengalami kecelakaan lalulintas! Bagaimana bisa Kristian koma!"


"Tenangkan diri mu Melviona" ucap Walzer memegang bahu Melviona. "papa dan mama juga kaget saat mendengar hal itu, tapi kami juga sudah di perlihatkan hasil pemeriksaan nya, terjadi benturan di kepala nya, yg membuat Kristian mengalami cedera yang sangat parah" lanjut Walzer. 


"Lebih baik kamu pulang dan istirahat juga, papa mama juga sangat menghawatirkan kesehatan mu bila kamu terus bersedih" 


"Baik..." Ucap Melviona kemudian pergi keluar. 


Sesampainya di villa, Melviona keluar dengan langkah kaki yang tak beraturan, ia berjalan terhuyung-huyung dengan tangan kanan memegang kening. 


"Nona? Nona darimana saja? Nona kenapa?" Tanya Windi.


"....." 


"Melviona?" Gumam Alyan dari ruang tamu saat mendengar Melviona sudah pulang.


"Kamu dari mana saja?" Tanya Alyan saat melihat Melviona berjalan menuju tangga, namun Melviona tidak menyahut. "kenapa telpon dari ku tidak di ang..." Ucapan Alyan terhenti saat terkejut melihat Melviona tiba tiba terjatuh pingsan ketika baru saja menginjak satu anak tangga. 


Alyan langsung bergegas menghampiri Melviona, namun, saat ia hendak menyentuh Melviona dan mengangkat nya, Alyan merasa kan panas di sekujur tubuh Melviona. 


Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat Melviona dan membawa Melviona ke dalam kamarnya bukan di kamar Melviona sendiri. 


Ia membaringkan tubuh Melviona dengan pelan kemudian menyelimuti nya. Ia menyuruh Olivia agar memanggil seorang dokter ke villa, sementara itu, ia mengompres kening Melviona. 


Tak lama kemudian setelah Melviona di periksa oleh dokter, dokter mengatakan "dia terlalu kelelahan, pastikan dia banyak beristirahat, denyut nadi nya juga bergerak cukup lambat, mungkin akhir akhir ini ada yg membuat nya sangat khawatir"


"hm?"


"saya akan memberikan obat juga aturan pemakaian nya, jangan lupa untuk selalu di konsumsi"


"baik"


"sebenarnya apa yang sudah terjadi?" pikir Alyan sambil memandangi Melviona.


2 jam kemudian, Melviona terbangun, ia terkejut melihat Alyan yg tengah tertidur di samping nya, menghadap dirinya, Melviona melayangkan pandangannya ke sekitar nya, dan tau bahwa kini ia sedang tidur di kamar Alyan. 


Melviona merangkak pelan di atas ranjang, dan turun.


Melviona pun segera keluar dari kamar Alyan setelah menyelimuti Alyan dengan selimut. 


"Nona? Anda sudah bangun" ucap Cya, yg tengah mempersiapkan makan siang. 


"Ah, iya..."balas Melviona pelan.


"Nona masih belum baikan kan, cepat duduk di sini" sambil menarik kursi. 


"Hm"


Melviona duduk di kursi dan tak lama kemudian, Cya datang membawa semangkuk sup dan menaruh nya di depan Melviona. 


"Nona harus cepat sembuh" ucap Cya. 


"Maaf merepotkan" balas Melviona. 


Setelah selesai, Melviona berjalan ke kamarnya, ia mandi dan sudah berpakaian rapi, ia juga sudah memasak makanan yang akan di bawa nya ke rumah sakit. 


"Melviona" panggil Alyan di depan pintu kamar Melviona yg masih terbuka lebar. 


"Maaf, hari ini aku tidak akan ikut dengan mu, aku ada keperluan lain" ucap Melviona, melewati Alyan. 


Alyan hanya terdiam, entah mengapa hari ini ia merasa bahwa sebaiknya ia tidak mencari masalah pada Melviona, bukan karna takut, tapi bibirnya terasa berat untuk bergerak, seakan-akan ia sedang di batasi untuk berbicara. 


Sesampainya di rumah sakit, Melviona pergi ke ruangan Kristian, ia mendapati ibunya sedang tidur di sisi ranjang Kristian. 


"Mah..." Panggil Melviona. 


"Uhmm, Melviona?" 


"Mama udah makan? Nih aku udah buatin makan siang buat mama" 


"Makasih ya sayang, kamu memang anak baik" ucap yersia. 


Melviona hanya tersenyum, kemudian memandangi Kristian yg keadaan nya masih sama saat ia tinggalkan pagi tadi. "apa benar Kristian koma?" Tanya Melviona dalam hati. Ia menghampiri adik satu-satunya itu, memegang tangan nya yang masih terhubung dengan selang infus dan mengelus rambutnya. "pantas saja dahimu di perban, dasar anak nakal" gumam Melviona. 


"Melviona" panggil yersia menghentikan makannya. 


"Ya?"


"Bagaimana dengan pekerjaan mu?"


"Aku...aku...aku akan mengirimkan surat pengunduran diri" ucap Melviona ragu. 


"Benar kamu mau berhenti?" Tanya Yersia memastikan. 


"Hm" jawab Melviona singkat.


"Kapan kamu berhenti?"


"Hari ini"


"Hari ini? Ternyata kamu sudah memikirkan nya dari kemarin"


"Iya, aku akan menjaga Kristian, mama bisa bekerja"


"Tapi Mel, dengan kondisi Kristian yg seperti ini, seperti nya kamu... akan melanjutkan sekolah di sini"


"Hah?! Di sini?! London?!"


"Iya, mama juga harus bekerja untuk menabung uang demi biaya pengobatan Kristian"


"Ah, benar juga, tapi... bagaimana dengan surat pindah ku?" 


"Mama bakal minta bi Ami yg urus, lalu di kirim lewat pos"


"Oh, ngomong ngomong bagaimana dengan suami bi Ami?"


"Suami bi Ami sudah lumayan sembuh, hanya saja tidak bisa jalan"


"Kalau gitu suami bi Ami pakai kursi roda ya?"


"Ya apa boleh buat, umur memang tidak bisa bantah"