I And You Are A Destiny

I And You Are A Destiny
BAB 35


Sudah dua hari Melviona tidak masuk kelas, dan para teman sekelas nya berasumsi bahwa Melviona telah pindah atau di pecat dari sekolah.


hingga bel masuk ke empat berbunyi, dan matapelajaran matematika pun dimulai.


betapa hebohnya seisi kelas XII-I saat melihat guru peganti matematika mereka ialah seorang gadis muda yg sebaya dengan mereka.


"hai~" sapa Melviona.


"kita ketemu lagi teman teman" ucap Melviona "masih ingat aku kan? kalau gitu kita langsung ke materi nya saja ya.." Melviona membuka buku, dan menulis di atas papan tulis menggunakan spidol.


"Melviona?!" sontak Alyan terkejut, tak habis pikir bahwa guru peganti mereka ternyata Melviona. awalnya Alyan kurang memerhatikan, namun mendengar suara dan melihat warna rambut Melviona yg bewarna coklat Alyan langsung yakin bahwa itu Melviona.


"maaf, tapi panggil aku Bu guru saat sedang mengajar di lingkungan sekolah"


jawab Melviona.


mendengar Melviona merespon panggilan Alyan, anak anak lainnya ikut terkejut.


"beneran dia Melviona?!"


"gila! cewek cupu di kelas kita ternyata kayak gini"


"OMG! dia jadi guru?!"


"SUMPAH! nggak ada mirip mirip nya"


"oke, seperti nya karna ada yang dengan cepat melupakan ku, maka sekali lagi aku akan memperkenalkan diriku." ucap Melviona. "perkenalkan namaku Melviona Walzer, umur 18 tahun, lahir di Indonesia, dan kini menjadi guru pengganti matematika di sekolah ini" lanjut Melviona mantap dan di akhiri dengan senyum manis nya kepada para siswa.


🌺🌺🌺🌺🌺


Melviona menghela nafas panjang nya dan duduk di kursi ruangan nya.


"malam ini masak apa ya?" gumam Melviona.


Tok Tok Tok


"ah, iya masuk" ucap Melviona memperbaiki duduknya.


"Melviona" panggil Alyan yg kini sudah membuka pintu.


"ada apa?πŸ˜’" tanya Melviona tanpa ekspresi.


"aku ingin bicara secara pribadi dengan mu, apa kamu pun" belum selesai Alyan berbicara, Melviona langsung memotong.


"aku sibuk" jawab Melviona ketus.


"kalau begitu pulang sekolah"


"aku sibuk"


"nanti malam?"


"sibuk"


"besok?"


"sibuk"


"pulang sekolah besok?"


"sibuk! aku sibuk tau! pake bwanget! kamu ngerti nggak sih kalau di bilangin?! aku bilang sibuk ya sibuk! kamu tau nggak keras kepala kamu itu gimana? egonya kamu tuh gimana? lalu searogan nya kamu sama orang tuh gimana?!" bentak Melviona tanpa perasaan.


"...."Alyan tak membalas, ia hanya terdiam sambil memandangi Melviona yg menatap nya dingin "aku hanya ingin memastikan..., apa kita masih berteman?" tanya Alyan dengan suara pelan dan lembut.


Mendengar pertanyaan Alyan, Melviona langsung tercengang, ia tak menyangka bahwa yg ingin di katakan Alyan ialah hal itu.


Cukup lama Melviona termenung, hingga Alyan mengangguk seakan tau jawaban Melviona, lalu pergi dari ruangan itu.


Pukul 16.00, jam pulang sudah tiba, dan para siswa siswi berhamburan meninggalkan sekolah.


Begitu pula dengan para guru di sekolah yg ingin cepat bersantai di rumahnya masing-masing.


"Melviona?" Gumam Vera saat melewati ruangan Melviona dan melihat Melviona tengah tertidur di ruangan nya.


Tok tok tok


Vera mengetuk pintu ruangan Melviona.


Tok tok tok


Sekali lagi Vera mengetuk pintu saat Melviona masih belum bangun.


"Mel?"


"Ah, ya? Iya, ada apa?" Tanya Melviona kaget dan langsung memperbaiki duduknya.


"Tante?" Melviona melihat Vera di balik pintu kaca ruangan nya.


"Pulang?" Melviona melirik ke arah jam dinding dan melihat jam menunjukkan pukul 16.10.


"Ah, ya Tante duluan aja, aku mau beres beres"


Vera tersenyum, lalu segera pergi dari sana. Sedangkan Melviona sedang merapikan barang-barang nya lalu pergi keluar.


Saat Melviona berjalan melewati koridor, ia melihat Alyan yg juga tengah tertidur di dalam kelas nya.


Awalnya, Melviona ingin menghampiri Alyan, namun sesaat ia berpikir untuk tidak membuang buang waktu nya dan segera kembali ke RS.


Sesampainya di RS, ia melihat kedua orang tuanya menjenguk Kristian, bukan hanya itu, di sana juga ada Delvin dan Dr.Chris, ayahnya Delvin, yg tak lain ialah pemilik rumah sakit itu.


Mereka berempat tampak asyik dalam obrolan mereka, hingga di tengah tengah obrolan itu, Delvin yg melihat kehadiran Melviona, langsung memanggil Melviona.


"Sini duduk" ucap Delvin sambil menepuk-nepuk sofa yg di sampingnya.


"Ayo Mel" panggil yersia.


Terpaksa Melviona ikut bergabung dengan mereka dan duduk di samping Delvin.


"Kamu udah makan belum?" Tanya Delvin.


"Apaan sih ni anak, sok akrab banget" ucap Melviona dalam hati.


"U-udah" jawab Melviona ragu, padahal seharian itu, dia hanya sarapan pagi.


"Kalian sekelas ya?" Tanya Yersia.


"Bukan Tan" jawab Delvin. "kami nggak sekelas, aku kelas XII-2"


"Oh, trus kalian kenapa bisa kenalan?" Tanya Yersia lagi.


"Ah, itu pas di kantin, kebetulan kami makan nya semeja, jadi aku ngajak kenalan duluan deh"


"Hahaha... Udah nggak mau jomblo ya" sahut Dr. Chris, sambil merangkul pundak Delvin.


"Kok kayak acara perjodohan ya..." Ucap Melviona dalam hati.


"Mel, kamu pulang dari sekolah kan?" Tanya Yersia.


"Iya, kenapa mah?" Tanya Melviona bingung. Namun saat melihat tatapan yersia memandang pakaian nya, ia langsung tersadar bahwa ia masih mengenakan pakaian bebas milik nya.


"Seragam kamu mana?" Tanya Yersia lagi.


"Ah itu..."


"Seragam apanya? Kan Melviona mengajar, dia nggak perlu Makai seragam pelajar di sekolah" jelas Delvin.


"Hah?!" Yersia terkejut tak habis pikir, dan kembali menatap Melviona.


Melviona hanya terdiam, ia tertunduk sambil mengusap-usap keningnya. "fix! Gw keliru, mikir dia beda sama Alyan" ucap Melviona dalam hati.


"Mel? Jangan bilang kamu..."


"Mah, aku udah tau semua, jadi dari pada buang buang waktu belajar kayak anak SD, lebih baik aku kerja kan, maksud ku ini juga demi kebaikan bersama loh mah, papa mama tinggal nabung uang buat biaya rumah sakit Kristian, aku cari uang buat biaya kita sehari-hari" potong Melviona.


"Lalu bagaimana dengan ijazah mu?" Tanya Walzer.


"kata Tante, aku hanya perlu ikut ujian UTS sama UAS"


"Kamu pikir berapa banyak pendapatan dari gaji guru mel...!"


"Nggak tau, tapi yg jelas pendapatan ku selama seminggu dua juta lima ratus"


"Hah?!" Sontak kedua orang tua Melviona terkejut.


"Apa itu tidak kebesaran?" Tanya Dr.Chris. "aku juga punya sepupu yg berprofesi sebagai guru tetap, dan pendapatan nya hanya lima juta dalam sebulan, itu pun sebelum jadi guru ia harus memenuhi syarat yaitu surat kelulusan dari perguruan tinggi yg terkenal"


"itu aku juga kurang tau dok, soalnya aku juga mengajar seluruh kelas tanpa terkecuali" ujar Melviona.


"Waaah...andai saja Delvin juga sama pintar nya dengan kamu, pasti sekarang dia sudah memakai seragam yg sama denganku"


Melviona hanya tersenyum, lalu kembali memandangi ke dua orang tuanya yg hanya terdiam memandangi dirinya.


"Ah, itu...aku keluar permisi sebentar ya" ucap Melviona.


"Kemana?" Tanya Yersia.


"Mau beli keperluan" jawab Melviona beranjak dari duduknya.


"Aku ikut" sahut Delvin yg juga beranjak dari duduknya.


"Tidak per.."


"Kalau begitu hati hati di jalan" ucap yersia.