
Keyra melepaskan pelukannya dengan Arin. Gadis itu berusaha mengatur nafasnya yang tersendat. Ia menoleh pada Vidi dengan mata yang sembab.
" Siapa? ", tanya Keyra dengan suara serak masih dengan isakan yang tersisa, tatapan gadis itu sendu.
" Gak tau Key ", jawab Vidi dengan rasa sesal karna tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk adiknya yang bertanya dengan tatapan berharap padanya.
" Tapi beneran kan? ", tanya Keyra dengan penuh harap yang hanya mendapat anggukan dari abangnya. Demi apapun Vidi tidak sanggup melihat kondisi adiknya saat ini.
Lelaki itu mendekat ke arah Keyra. Arin menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Vidi. Vidi berjongkok di hadapan adiknya, menatap dalam manik mata gadis itu dengan menggenggam kedua tangan gadis bertubuh mungil itu. Cairan bening yang sejak tadi lelaki itu tahan pun akhirnya tumpah.
Tidak ada kata yang mampu Vidi ucapkan. Tenggorokannya seakan tercekat tidak bisa berkata apapun. Lelaki itu hanya bisa membawa adiknya kedalam dekapannya.
" Keyra salah apa? Kenapa Keyra gak bisa seperti Biya? Kenapa Keyra harus nanggung ini semua? ", gadis itu berujar pelan yang kembali menangis.
Vidi semakin mengeratkan pelukannya. Ia berkali-kali mencium puncak kepala gadis itu. Vidi benar-benar terpukul melihat keadaan adiknya saat ini.
" Kenapa harus Keyra? Keyra gak kuat, Bang. Keyra capek ", ujar Keyra membuat Vidi semakin sesak.
" Kenapa Papa sama Mama sembunyiin ini semua? ", ujar gadis itu kembali. Tangis Keyra kembali pecah di dalam dekapan Vidi.
Arin yang sudah kembali duduk di samping suaminya menangis di pelukan sang suami. Ia tidak tega dengan keadaan gadis itu. Rangga hanya bisa terdiam, ia mencoba untuk kuat, walaupun ia juga merasakan sesak di dadanya. Sudut mata lelaki paruh baya itu sudah berair, secepat mungkin lelaki paruh baya itu menghapusnya.
Kenzie beranjak dari duduknya dan meninggalkan tempat itu. Dio tidak menahan, ia membiarkan sahabatnya itu pergi. Dio menghela nafas berat, ia berusaha mengurangi sesak di dadanya.
Dio menoleh ke arah Papanya, memberi kode hendak menyusul Kenzie dan mendapat anggukan dari Papanya. Lelaki itu beranjak dan menyusul Kenzie.
Dio mendapati lelaki dingin itu berada di kamarnya, duduk di lantai bersandar dengan sisi tempat tidur dengan wajah tertunduk.
" Ken ", panggil Dio setelah masuk ke kamar, ia mendekati lelaki dingin itu.
" Ken ", panggil lelaki itu lagi, ia duduk berjongkok memastikan sesuatu pada sahabatnya itu.
" Lo nangis? ", ujar Dio tergelak memastikan, ia memberi tamparan pelan pada pipi kanan pria itu dan membenarkan posisi duduknya menjadi bersila.
" Apaan sih lo! ", ketus Kenzie dengan suara seraknya menatap sekilas kearah Dio dan kembali menunduk.
" Maaf, gue refleks ", ujar Dio lagi tertawa.
" Gue gak tahan liat Keyra kayak gitu, Yo ", ujar Kenzie membuat Dio mengehentikan tawanya. Dio menyimak dengan baik apa yang dikatakan sahabatnya itu.
" Gue gak mau Keyra nangis kayak gitu lagi "
" Pokoknya gue mau cari orangtua Keyra ", ujar Ken menatap Dio yakin dengan mata penuh ambisi.
" Gue mau minta izin sama orangtua Keyra, gue mau minta restu buat nikahin Keyra, gue mau jagain dia dari orang-orang yang udah ambil kebahagiaan dia, termasuk orang yang udah bikin dia trauma ", tegas Kenzie.
" Gue mau jagain dia, Yo ", ucap Kenzie tulus membuat Dio hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
" Gue bantu lo buat cari orang tua Keyra dan minta restu sama mereka ", ujar Dio tersenyum tulus dan menepuk bahu sahabatnya itu.
" Makasih, Yo ", ujar Kenzie tersenyum.
Dio duduk bersandar di samping Kenzie, menghadap balkon kamar.
" Gak nyangka gue lo ternyata bisa nangis juga, gue kira air mata lo udah kering ", ujar Dio santai yang membuat Kenzie menatap tidak santai.
" Makasih gue yang tadi gue tarik balik, emang gak bisa banget lo kalo gak buat gue gedek ama lo! ", tukas Kenzie dan beranjak menuju kamar mandi.
" Emang gue salah ngomong ya ", tanya Dio pada diri sendiri sembari menggaruk kepalanya yang tidaklah gatal.
.
.
.
.
.