KEY

KEY
Pertanyaan Penting


" Sama kayak kamu ", seru Dinda dengan santainya yang membuat Keyra sedikit terperanjat.


" Sama? ", ulang Keyra dan memindahkan laptop diatas pangkuannya ke atas nakas yang berada disampingnya.


Keyra mengubah posisi duduknya senyaman mungkin. Ia mulai memasang mimik wajah serius dan pandangan matanya lurus kearah Dinda.


" Sama kayak Keyra? Maksudnya? ", bingung Keyra dengan kedua alis yang saling bertautan.


" Ya sama kayak kamu, suka gak enakan sama orang ", jelas Dinda.


" Tau ah, Keyra bingung jadinya ", saut Keyra seadanya.


" Kak, Kak Ken kira-kira udah tidur belum ya? ", tanya Keyra yang membuat Dinda aneh dengan pertanyaannya.


" Kalau belum kamu mau ngapain? Mau nina bobok-in dia? ", ledek Dinda.


" Apaan sih kak, ya enggak lah, Keyra mau nanya aja perihal Kak Ken tinggal di hotel terus mau nanya dia beneran kabur atau gimana? ", jelas Keyra.


" Aduh Dek, mending besok-besok aja deh, ini udah malem, bisa-bisa kamu digantung lagi sama Ken ", ucap Dinda berusaha mencegah Keyra sembari mengedikkan bahunya ngeri.


" Keyra penasaran Kak ", saut Keyra.


" Keyra telpon Kak Nanda deh nanyain Kak Ken udah tidur atau belum ", tutur Keyra sembari mengambil ponselnya.


Dinda yang melihat kenekatan Keyra berusaha mencegah niat gadis itu.


" Dek jangan dek, besok aja, bener deh kamu bisa digantung nanti sama Ken ", cegah Dinda dengan menahan tangan Keyra.


" Udah kakak tenang aja, gak bakalan kak Ken gantung Keyra, sebelum Keyra digantung yang ada kak Nanda dulu yang bakal gantung dia ", ucap Keyra meyakinkan.


Dinda hanya pasrah dan membiarkan gadis itu meneruskan niatnya. Dinda hanya bisa mengatur nafas dan berdoa sebanyak mungkin untuk ketentraman rumah Dio saat ini. Dinda yakin pasti akan ada perang dunia antara dua anak manusia itu yang entah sudah keberapa kalinya terjadi.


" Gue harap Allah memberikan stok kesabaran buat lo Ken ", batin Dinda.


.


.


.


Saat hendak memejamkan mata berusaha buat tidur, dua anak lelaki terganggu oleh suara dering dari ponsel salah satu diantara mereka.


" Handphone lo tu ", seru Ken dengan mata terpejam.


" Biarin, palingan orang iseng ", saut Dio.


Suara dering terus menerus berbunyi, hingga kedua lelaki dikamar itu mengumpat. Kesal karna baru saja kantuk menyerang, pengganggu pun datang.


" Woy angkat Sapi! Berisik tau gak! Kalau gak mau angkat lo matiin tu hape! ", geram Ken.


Saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, seketika Dio seakan meminta dibelikan stok kesabaran dan mengisi ulang kesabarannya yang hanya tinggal seujung kuku. Demi apapun dia sangat geram dan kesal saat ini. Dio mengubah posisinya menjadi duduk berselonjor berharap kesabaran bisa bertambah dengan posisi tersebut.


...Keyra Keyra...


" Siapa? ", tanya Ken membuka sebelah matanya melihat kearah Dio.


Dio menunjukkan layar hapenya dihadapan Ken. Sesaat kedua mata Ken terbuka lebar dan bangun dari baringannya. Mereka berdua saling bertatapan dan setelahnya menggelengkan kepala.


" Gue gantung juga tu anak ", geram Ken.


" Sebelum lo gantung, gue dulu yang bakal gantung lo! ", balas Dio mengancam.


" Angkat cepet! ", seru Ken.


Baru saja akan menggeser tombol hijau panggilan dari Keyra sudah berhenti. Tak lama, suara dering kembali menggetarkan ponsel Dio.


" Udah deh angkat! Ada hal penting kali! Sampai nelpon berulangkali gitu ", jelas Ken.


Dio pun segera menjawab panggilan Keyra. Tak lupa ia mengaktifkan speaker panggilan agar Ken bisa mendengar hal penting apa yang hendak disampaikan gadis yang menguji kesabaran mereka berdua itu.


" Hallo, Assalamualaikum ", sautan dari seberang.


" Waalaikumsalam, kenapa dek? ", saut Dio, sedang Ken fokus mendengarkan percakapan antara Dio dan Keyra.


" Kak, Keyra mau nanya ni, penting banget pokoknya ", tutur Keyra.


" Apa? ", jawab Dio dengan malas.


" Kak Ken udah tidur belum? ", satu pertanyaan lolos dari gadis itu via telpon.


Ken yang masih fokus mendengarkan seketika beku mendengar pertanyaan dari gadis menyebalkan menurutnya itu. Tiba-tiba saja jantungnya seakan lari maraton dan nafasnya sulit ia atur.


" Plis jantung kalem ", batin Ken sembari memegang dadanya dengan raut yang berusaha ia pasang senetral mungkin dihadapan Dio.


" G**a! Kenapa nafas gue jadi susah diatur gini ", umpat Ken dalam hati.


" Tu anak itik maunya apa sih! Ngapain pake nanyain gue udah tidur atau belum. Pake acara bilang pertanyaan penting lagi ", geram Ken dalam hati.


.


.


.


.


.