KEY

KEY
Normal !


" Terserah Lo Tuyul ! ", pasrah Ken.


" Ken emang lagi suka sama Tuyul sekarang, Dek ", tambah Dio yang semakin membuat Ken rasanya ingin menambal mulut Dio dengan besi panas.


" Emang iya, Om. Segitu gak lakunya Om sampai-sampai sukanya bukan sama manusia ", ucap Keyra membuat Dio menahan tawa.


Ken menatap dalam kearah Key yang berhasil membuat cewek bertubuh mungil itu salah tingkah.


" Bukan gak laku, karna cuma Tuyul itu yang bisa buat gue bangkit dari keterpurukan gue dimasa lalu ", ucap Ken serius masih menatap dalam Keyra.


Dio yang tadinya berusaha menahan tawa kini beralih serius melihat tatapan Ken kearah Keyra. Mata Ken dan Key yang bertemu satu sama lain. Ken mendekatkan wajahnya dan tepat ditelinga Keyra, cowok dingin itu membisikkan sesuatu yang membuat pipi Keyra panas mendengarnya.


Ken langsung masuk kedalam rumah setelah membisikkan kata-kata itu. Dio yang berdiri diantara mereka berdua juga tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibisikkan oleh Ken kepada Keyra.


" Tuyulnya itu kamu ", tiga kata yang berhasil keluar dari mulut seorang Kenzie. Kamu ? Ya, entah apa yang merasuki Ken sehingga bisa berkata lembut kepada gadis yang sering membuatnya kesal itu.


Keyra diam ditempat tak berkutik. Keyra masih mencerna perkataan Ken barusan.


" Dek "


" Ha? Iya kak ", Keyra tersadar.


" Si Kambing ngomong apa ? ", tanya Dio.


" Hehehe .. enggak kok Kak, gaada ngomong apa-apa ", jawab Keyra yang enggan memberitahu.


" Keyra masuk kedalam ya, Kak ", cepat-cepat Keyra masuk kedalam rumah sebelum Dio memaksanya untuk menjawab.


Tak berhenti disitu, Dio langsung masuk kedalam rumah dan menuju kamarnya untuk menemui Ken.


~Kamar Dio~ 🐄🐄🐄


Dikamar Dio, cowok dingin bernama Kenzie yang berdiri di balkon merutuki kebodohannya sendiri atas ucapan yang ia bisikan pada Keyra Arisha.


" Bego banget gue, kenapa bisa kata-kata tadi keluar dari mulut gue. Segala pake " kamu " lagi, arrghhhh .. bego bego bego ", ucap Ken bermonolog sendiri seraya mengacak frustasi rambutnya.


" Eh Kambing !! ", teriak seorang yang masuk kedalam kamar tanpa aba-aba apapun.


" Lo bisikin apa tadi sama Keyra, ha?! ", interupsi Dio.


" Kalau masuk kamar ketuk pintu dulu kek ", kesal Kenzie.


" Terserah gue, kan ini kamar gue ", telak Dio.


" Iya juga sih ", batin Ken.


" Woy ! Jawab ! Lo bisikin apa tadi sampai Keyra diem gitu ! ", desak Dio.


" Yang pasti gue gak bisikin kata-kata yang nyakitin dia, tenang aja Yo, gue janji sama diri gue sendiri buat gak ngeluarin kata-kata yang bikin dia sakit hati atau kata-kata yang buat dia ingat masa-masa pahit di hidupnya ", jawab Kenzie menatap serius Dio.


Entah apa yang membuat sahabatnya itu bisa seserius itu. Dio pun tidak percaya atas jawaban yang keluar dari mulut lelaki dingin itu. Dio terdiam masih mencerna dan memperhatikan Kenzie didepannya.


Melihat Dio yang memperhatikannya tidak berkedip, tangan Ken bergerak menggampar pipi kirinya. Pelan? Tidak, Ken menamparnya cukup keras.


" Aaaaaa ... sakit bego! ", teriak Dio meringis kesakitan memegang pipi kirinya yang terasa sedikit panas akibat tamparan dari tangan Ken.


" Lagian Lo ngapain ngeliatin gue kayak gitu, gak kedip lagi, naksir Lo sama gue ", ucap Ken.


" Kampr*t Lo ! Gue masih normal gila ! ", umpat Dio.


.


.


.


.


.


.