KEY

KEY
Menangislah


Dinda hanya menganggukkan kepalanya seraya tertawa kecil. Dio yang melihat kekasihnya membela Keyra hanya bisa pasrah.


' Tu kan, kak Dinda aja setuju ', ucap Keyra bangga merasa dapat pembelaan.


' Serah deh ', pasrah Dio sembari memijat pangkal hidungnya frustasi.


' Sampai kapan ni kita berdiri didepan sini? Gak ada niat buat nyuruh kita masuk? ', ucap Dio menyindir.


Keyra hanya menyengir dan langsung mempersilahkan mereka masuk kekamarnya. Dinda mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada tak jauh dari kasur, sedang Dio langsung menuju kasur membaringkan tubuhnya disana tanpa meminta ijin si pemilik kamar.


' Kak Nanda ... ', teriak Keyra yang melihat Dio seenaknya tidur dikasurnya yang membuat kasurnya itu jadi berantakan lagi.


' Bentaran doang Key ', ucap Dio dengan mata yang tertutup.


Keyra yang duduk di samping Dinda mengambil bantal sofa yang ada dibelakangnya dan melemparkannya kearah Dio. Bantal itu dengan mulus mengenai wajah seorang Dio Rananda. Dio melemparkan kembali bantal itu tepat sasaran diwajah Keyra yang membuat gadis itu teriak tidak terima.


' Kak Dinda kok mau sih sama kak Nanda yang nyebelin kayak gini ', gerutu Keyra menoleh kearah Dinda setelah menyingkirkan bantal yang dilempar Dio kearahnya.


' Ya gimana lagi dek, udah cinta soalnya ', jawab Dinda seraya tertawa geli dan melihat kearah kekasihnya yang kembali tidur tanpa merasa bersalah kepada Keyra.


' Bucin ', ucap Keyra mencebikkan bibirnya.


Hening ...


' Key ', panggil Dinda membuka obrolan.


' Iya kak ', saut Keyra.


' Key, kamu berapa lama di Singapura? ', tanya Dinda.


' Sampai Keyra nemuin seseorang yang menjadi tujuan Keyra kak ', jawab Keyra dengan nada melemah.


Dio yang sebenarnya tidaklah tidur hanya memejamkan mata saja akhirnya ikut nimbrung di obrolan dua wanita itu.


' Ngomong permisi dulu kek ', kesal Dinda sembari melemparkan bantal sofa kearah wajah sang kekasih.


Dio hanya terkekeh dan Keyra yang duduk di samping Dinda menjulurkan lidahnya kearah Dio. Dio yang melihat itu pun memelototi gadis menyebalkan itu. Dinda hanya bisa menggelengkan kepala melihat dua orang dihadapannya itu.


' Siapa Dek? ', tanya Dinda.


' Keyra cuma tau namanya Rio kak, Keyra pernah ketemu sekali waktu Keyra masih SD ', jelas Keyra.


' Rio? ', ucap Dinda dan Dio bersamaan yang hanya diangguki oleh Keyra.


' Jadi kamu kesini cuma mau ketemu Rio itu? ', tanya Dio lagi yang kembali hanya diangguki oleh Keyra.


' Cuma itu doang dek, gak ada yang lain? ', tanya Dinda merasa ada yang disembunyikan oleh gadis kecil disampingnya.


' I-iya kak, cu-cuma itu doang kok ', ucap Keyra terbata-bata dengan menundukkan wajahnya.


' Pasti ada yang dia sembunyikan ', batin Dio.


' Aku yakin bukan cuma itu alasan Keyra kesini ', batin Dinda.


Dio dan Dinda berpandangan melihat Keyra menundukkan wajahnya, mereka menatap iba gadis itu. Dio pun mendekati Keyra dan menariknya kedalam pelukannya. Entah apa yang Keyra rasakan saat Dio memeluknya yang membuatnya merasa nyaman menumpahkan segala keluh kesahnya disana.


Gadis itu pun menumpahkan semua tangisannya di pelukan Dio, tangisan yang selama ini ia tahan. Keyra semakin membenamkan wajahnya didada bidang Dio dan membalas pelukan Dio dengan erat.


Dinda yang melihat itu ikut menangis merasa iba dengan Keyra, tidak ada kecemburuan sedikit pun dalam benaknya. Dinda tau bahwa sang kekasih benar-benar menganggap Keyra sudah seperti adik kandungnya sendiri. Begitupun Dinda yang hari ini telah merasa begitu sayang dengan sosok gadis kecil dihadapannya.


Dio semakin mengeratkan pelukannya mendengar isak tangis Keyra yang semakin jelas dan membuat Keyra sesenggukan. Hati Dio seakan teriris tak kuasa mendengar tangis Keyra dipelukannya yang membuat sudut mata Dio pun berair.


' Menangislah ', ucap Dio pelan dengan mata terpejam seraya mengelus lembut punggung Keyra dan mencium puncak kepala gadis itu.