KEY

KEY
Rencana Dio (2)


Sebelum pergi meninggalkan rumah, Dio terlebih dahulu berpamitan dengan Arin dan Keyra yang berada di dapur tengah membuat puding coklat.


" Ma, Kakak pergi dulu ya ", pamit Dio sembari menyalami Mamanya itu.


" Mau kemana? ", bukan Arin yang bertanya melainkan gadis yang sedang membantunya yang tengah menyusun cup-cup di atas meja.


" Kepo banget bocil ", tukas Dio.


" Yee .. cuma nanya doang bukan kepo ", bela Keyra.


" Serah ", malas Dio meladeni gadis yang sudah dianggap adiknya sendiri itu.


" Pergi dulu ya, Ma, entar si bocil nanya lagi ", pamit Dio lagi dan bergegas keluar dari dapur tersebut.


Keyra hanya menatap punggung Kakaknya itu dengan bibir manyun.


" Kakak mau kemana sih, Ma ", tanya Keyra lagi yang faktanya memang sangat kepo.


Arin hanya mengedikkan bahunya pertanda tidak tahu dan meminta gadis itu melanjutkan aktivitasnya lagi.


...


Mobil Dio kini terparkir di sebuah hotel milik keluarganya. Ya, sekarang Dio hendak menemui Vidi dan berniat mempertemukan Vidi dengan Papanya. Di dalam perjalanan menuju hotel tadi, Dio menghubungi Papanya yang masih ada di kantor dan meminta waktu untuk bertemu. Rangga sendiri menyanggupi dan meminta anak sulungnya untuk langsung menemuinya di kantor.


" Assalamualaikum ", salam Dio sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar yang di tempati Vidi dan Kenzie.


" Waalaikumsalam ", terdengar sautan dari dalam kamar.


Tak lama pintu kamar pun terbuka.


" Eh, Lo Di, kenapa gak bilang-bilang mau kesini ", ucap Vidi pada Dio yang masih berdiri diambang pintu.


" Vid, siap-siap ya,entar gue jelasin semuanya ", tukas Dio.


" Eh, entar dulu, mau kemana dulu ni? ", bingung Vidi.


" Udah jangan banyak tanya, entar lo juga tau, gue tunggu di parkiran ", jawab Dio seadanya dan pergi begitu saja meninggalkan Vidi yang masih kebingungan.


" Et dah, tu anak, gak jelas banget ", ucap Vidi.


Vidi langsung berganti pakaian dan bergegas menemui Dio yang telah menunggunya di parkiran.


" Ada apa sih? ", Vidi bertanya lagi setelah masuk ke dalam mobil sembari membenarkan seat belt.


Dio yang melihat Vidi sudah membenarkan seat belt langsung menjalankan mobilnya.


" Adek lo di lamar sama curut ", ucap Dio yang fokus menatap jalan didepan.


" Gak, ngelamar sendiri tu anak, jangankan depan nyokap bokap gue depan gue sendiri aja dia gak berani ", ucap Dio.


" Trus? Hubungannya sama gue yang mau lo bawa ini apaan? ", tanya Vidi lagi yang tidak mengerti apa yang akan temannya lakukan.


" Vid, gue rasa sahabat gue benar-benar serius sama adek lo, dan gue rasa lo yang lebih berhak atas siapa pun yang ingin serius sama adek lo, dan kenapa gue sekarang mau bawa lo ke kantor Papa gue ya gak ada alasan apa-apa sih ", jelas Dio yang membuat Vidi kesal dengan akhir kalimat yang ia ucapkan.


Tangan Vidi bergerak menoyor kepala Dio yang tengah fokus menyetir.


" Gila lo! Gue lagi nyetir Banteng! ", protes Dio.


" Lagian elo, udah bikin jantung gue gugup aja, gue kira adek gue kenapa-kenapa, gue kira bapak lo mau nagih duit hotel ke gue ", kesal Vidi membuat Dio malah tertawa mendengar ucapannya.


" Eh, ngomong-ngomong bokap nyokap lo gak tau kan gue ada di hotel itu? Keyra masih gak tau juga kan? ", tanya Vidi.


" Bapak gue sibuk sama proyek barunya, jadi masalah hotel gue yang urus, gue juga udah suruh karyawan buat tutup mulut, lo tenang aja, adek lo juga gak tau lo ada disini ", jelas Dio membuat Vidi lega mendengarnya.


" Syukur deh ", lega Vidi.


" Gue mau cari tempat yang aman aja buat ngobrol, Vid, dan karna bokap gue udah menganggap Keyra seperti anak kandungnya maka gue pikir bokap gue juga harus tau ", ucap Dio.


" Gak apa-apa kan? ", tanya Dio menatap sekilas Vidi dan kembali fokus pada jalanan.


" Maaf Vid, kalau emang menurut lo bokap gue gak harus tau ya gue gak bakal kasih tau juga, biar kita ngobrol di restoran aja, gue bakal kasih tau bokap gue kalau gue gak jadi ke sana ", tambah Dio merasa tidak enak hati.


" Eh gak apa-apa kali Di, gue setuju sama lo, gue malah seneng adek gue benar-benar udah dianggap kayak anak sendiri sama orangtua lo ", jawab Vidi senang yang membuat Dio ikut senang mendengar jawaban dari Vidi.


" Gue mau ajak lo sama bokap gue buat sidang Kenzie nanti malem ", ucap Dio memberitahu rencananya pada Vidi.


" Mau ikutan gak lo? ", tanya Dio menatap sekilas Vidi sembari menaik-turunkan alisnya ditambah seringai jahatnya.


Vidi yang paham dengan tingkat kejailan Dio dengan cepat menjawab ...


" Harus ikut dong gue, sidang calon adik ipar ", jawab Vidi setelahnya tertawa diikuti Dio.


Dua pria itu seakan memang sedang tertawa diatas penderitaan sang pria dingin yang tak lain sahabat dan teman mereka sendiri, Kenzie Illario Abraham.


.


.


.


.


.