
Malam pun tiba, saat sedang asyiknya mereka menonton tv diruang keluarga, terdengar bel pintu berbunyi.
Ting tong . . .
" Ma, biar Dio aja yang bukain pintu ", cegah Dio pada Arin yang hendak berdiri. Dio pun beranjak dari duduknya menuju arah pintu.
" Assalamualaikum ", ucap seseorang setelah pintu berhasil terbuka sepenuhnya oleh Dio, menampakkan sosok pria paruh baya dengan setelan kemeja kerja dan jas yang sudah disampirkan dilengan kirinya.
" Waalaikumsalam ", jawab Dio seraya menyalami dan mencium punggung tangan Papanya yang baru saja pulang, terlihat sekali raut wajah lelah pada wajah yang semakin menua itu.
" Wah, rumah lagi ramai ni Kak? ", seru Rangga sembari merangkul anak sulungnya dan berjalan kearah sekumpulan orang yang menonton tv diruang keluarga.
" Iya Pa, ada Dinda, Ken sama Key ", jawab Dio.
" Key? ", langkah Rangga terhenti membuat Dio pun ikut berhenti menatap bingung Papanya.
" Yang kamu ceritain itu? ", tanya Rangga memastikan.
Dio hanya mengangguk dan bapak anak itu hanya saling berpandangan yang penuh arti. Mereka pun melanjutkan lagi langkah mereka menuju ruang keluarga.
" Assalamualaikum ", ucap Rangga yang berhasil membuat semua mata mengalihkan pandangan mereka dari tv.
Arin pun segera menghampiri suaminya dan mencium punggung tangan suaminya, diikuti oleh Dinda dan Ken, terkecuali Key yang masih diam berdiri hanya memperhatikan sembari memberi senyuman tipis kearah mereka.
" Loh, kok anak bungsu Mama diam aja, sini dong nak salaman dulu sama Papa ", seru Arin yang bisa mengetahui apa yang Key rasakan, bingung dan canggung . . .
" Iya ni anak bungsu Papa gak mau salaman dulu ni sama Papa ", tutur Rangga yang bisa mengertikan ekspresi wajah istrinya.
Key pun berjalan perlahan menghampiri Rangga dan bersalaman, mencium punggung tangan Rangga.
" Kamu sehat Nak? ", tanya Rangga tersenyum kearah Keyra.
" Alhamdulillah sehat Om ", jawab Keyra tersenyum.
" Kok panggil Om? ", protes Rangga.
" Emm ... emang panggil apa ya Om ", tanya Keyra polos sembari menggaruk tengkuknya yang tidaklah gatal.
Tak ayal perkataan Dio pun membuat semuanya tergelak ditambah lagi ekspresi Keyra yang menghunuskan tatapan tidak senang kearah Dio.
" Panggil Papa lah pake nanya lagi harus panggil apa ", seru Dio yang sengaja membuat kesal Keyra.
" Tau ni bocil ", ucap Ken yang ikut-ikutan meledek Keyra.
" Diem ya! Orang tua yang gak laku-laku diem! ", kesal Keyra dengan menegaskan jari telunjuknya dihadapan Ken. Hal itu berhasil membuat semuanya berusaha menahan tawa terkecuali Dio yang tertawa paling renyah.
" Adek gak beda jauh sama abangnya ", sindir Ken kesal pada Dio yang masih tertawa diatas penderitaannya. Ken pun beralih kearah sofa yang ada diruang keluarga itu.
" Udah, udah kak, kamu seneng banget ngetawain orang ", seru Arin.
" Udah dikatain orang tua trus dikatain gak laku-laku lagi, hahaha ... ", lanjut Dio yang belum puas menertawai sahabatnya itu.
" Masih belum puas lo! ", ucap Ken yang semakin kesal.
" Udah Di, kamu ih ", seru Dinda yang sedari tadi hanya bisa menahan tawanya.
" Bagus Nak, kamu jangan mau kalah kalau kamu diledekin sama abang-abang kamu itu ", seru Rangga mengacungkan jempolnya kearah Keyra sembari tersenyum lebar mengingat apa yang baru saja ia dengar dari mulut gadis yang sudah ia anggap anak bungsunya itu.
Keyra hanya nyengir kuda menampilkan deretan gigi putihnya.
" Iya Om, eh maksudnya Papa ", jawab Keyra canggung.
.
.
.
.
.