KEY

KEY
Dasar Sapi!


Kini Dio dan Ken sudah berada didalam kamar Ken. Ken menghempaskan tubuh sahabatnya itu keatas sofa dengan sedikit kasar. Dio berdiri dihadapan Ken dengan nafas yang menderu dengan berkacak pinggang.


' Gue mau lo jelasin semuanya apa yang udah terjadi selama gue gak ada, termasuk omongan lo yang udah buat Key nangis! ', ucap Dio menegaskan telunjuknya dihadapan Ken.


' ... '


' Kenapa lo diem! ', bentak Dio.


' Gue minta maaf ', ucap Ken menunduk.


' Gue gak butuh maaf dari lo! Yang gue mau lo jelasin semuanya tentang perkataan lo yang udah seenaknya lo keluarin dari mulut lo itu! ', bentak Dio lagi.


' Gue kebawa emosi Yo, gue gak sengaja udah bilang kalau hidup dia cuma nyusahin, gue benar-benar nyesal udah ngomong kayak gitu ke dia ', lirih Ken.


' Gue udah minta maaf sama dia, tapi mungkin dia masih sakit hati sama perkataan gue ', lanjut Ken.


Dio menghela nafas panjang. Dia ingin sekali marah dengan sahabatnya itu, tapi Dio tidak bisa. Dio tau alasan dibalik sikap sahabatnya yang seperti itu.


' Ken ', panggil Dio setelah berusaha meredam emosinya dan mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang yang letaknya berhadapan dengan sofa yang diduduki Ken.


' Lo gak bisa nyalahin dia kalau dia ngingetin lo sama sosok Eca ', jelas Dio yang menyebut panggilan akrab Qiesha.


' Keyra dan Qiesha itu dua orang yang gak saling kenal, jadi lo gak bisa nyalahin Key gitu aja, masalah sifat mereka yang mirip ya mungkin ini rencana Allah buat kehidupan lo selanjutnya ', ucap Dio.


Ken yang mendengar akhir kalimat sahabatnya itu mengernyit bingung.


' Maksud lo dengan kehidupan selanjutnya? ', tanya Ken.


Dio hanya tertawa pelan dengan pertanyaan sahabatnya itu. Sekarang dia sadar selain suka marah yang gak jelas setelah bertemu Key, otak Ken juga semakin lamban.


' Gue tau lo ada rasa sama dia dan gak menutup kemungkinan kehidupan lo selanjutnya ya sama dia ', jelas Dio kini tawanya sudah pecah.


' Sapi lo! Sok tau banget lo! ', gerutu Ken.


' Eh kambing, gue tau lo marah-marah cuma alibi doang, kayak gue baru kenal lo seminggu aja ', jelas Dio.


' Benci benci demen kan lo ', ledek Dio sembari meledakkan tawanya.


Ken hanya terdiam menahan malu. Entahlah, Ken juga belum pasti dengan perasaannya terhadap Keyra. Yang jelas saat ini ia hanya ingin mendapatkan maaf Keyra karna dia benar-benar merasa bersalah terhadap gadis kecil itu.


Ken terdiam menunduk menyimak perkataan sahabatnya dan ia membenarkan perkataan sahabatnya itu. Sesak rasanya ketika mengingat marahnya yang tidak terkontrol terhadap gadis kecil itu.


' Ken ', panggil Dio.


' Hmm '


' Nanti gue sama Dinda mau makan di restoran keluarga gue, lo ikut ya sekalian selesain masalah lo sama Key ', ajak Dio menepuk pelan bahu sahabatnya.


' Kapan? ', tanya Ken mendongak.


' Nanti sehabis Isya, lo mau berangkat bareng kita atau sendiri? ', tanya Dio.


' Gue sendiri aja deh, gue masih gak enak sama Keyra ', ucap Ken pelan.


' Makanya jadi orang jangan emosian, be*o sih lo mulut doang yang dipake otak enggak ', ucap Dio sembari menoyor kepala sahabatnya itu.


' Sejak kapan lo bisa semarah ini sama gue cuma karna orang yang baru lo kenal? ', ucap Ken setengah protes.


' Maksud lo Keyra ', tanya Dio memastikan sembari bangkit dari duduknya.


' Hmm ', saut Ken menganggukkan kepalanya.


' Sejak gue ketemu dia lah, lo makin lama makin b**o ya heran gue ', ledek Dio lagi yang membuat toyoran dari Ken hampir mendarat dikepalanya jika saja ia tidak segera keluar dari kamar sahabatnya yang sudah meradang.


' Dasar sapi! ', teriak Ken dengan kesal.


.


.


.


.


.


🙂🙂🙂