
" Jadi Ken gimana sebenarnya perasaan kamu terhadap Keyra? ", ucap Rangga mengulang pertanyaan yang belum terjawab.
Semua yang ada diruang itu pun memperhatikan Kenzie menunggu jawaban dari pria dingin itu, termasuk Arin yang sudah balik dengan dua cup puding ditangannya untuk si anak bungsunya.
" Mati deh gue. Kalau gue jujur pasti anak itik makin besar kepala ", batin Ken bingung.
" Tapi kalau gue gak jujur takut Keyra diambil lagi sama orang ", batin Ken sembari melirik sekilas kearah gadis berhijab yang kembali disibukkan dengan puding coklat ditangannya.
" Arghhh ... tolong hamba Ya Allah atas situasi ini ", batin Ken menangis.
" Oy ", tegur Dio melihat sahabatnya yang hanya diam saja.
" Ehm ... e gini Om, itu e anu .. ", ucap Ken tidak jelas.
" Ana anu aja lo, yang jelas lo suka gak sama adek gue gitu aja susah banget lo ", kesal Dio.
" Sabar Sapi gue ambil nafas dulu ", geram Kenzie setengah berbisik.
Kenzie akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan semuanya tentang perasaannya sejak bertemu Keyra pertama kali. Bodo amatlah bagaimana reaksi gadis itu, pikirnya.
" Iya Om, Ken beneran suka sama Keyra, saat pertama kali Ken ketemu Keyra Ken mulai penasaran sama dia ", jelas Ken.
" Ken gak tau kenapa muncul perasaan ini padahal belum sebulan mengenal Keyra, yang pasti Keyra udah membuat Ken penasaran sama kehidupannya, itu yang Ken rasain Om ", jelas Ken.
" Dan ... ", ucap Ken menggantung.
" Apa ", tanya Rangga.
" Dan sebenarnya Ken sengaja selalu memancing keributan sama Keyra itu semata-mata biar bisa berinteraksi aja Om sama anak gadis Om ", ucap Ken semakin memelan diakhir kalimatnya.
Keyra yang memang mendengarkan segala obrolan di ruangan itu pun tersedak setelah perkataan Ken yang terakhir.
" Pelan-pelan Nak ", ucap Arin sembari mengusap punggung anaknya.
Keyra menoleh kearah Kenzie yang memang juga melihat kearahnya. Tatapan mereka bertemu.
" Sejak kapan? ", kata itu yang keluar dari mulut gadis bertubuh kecil itu dan berhasil membuat Ken tersentak.
" Apa! ", ucap Ken dengan wajah yang dibuat songong.
" Sejak kapan modus? Sejak kapan suka? ", tanya Keyra beruntun.
" Trus apa namanya kalau bukan modus? Median? Rata-rata? ", interupsi Keyra.
Ken terdiam tak bisa menjawab apa-apa. Seketika mulutnya bungkam tak dapat mengeluarkan kata-kata apapun.
" Sejak kapan Kak? ", ulang Keyra.
" Entahlah, mungkin saat gue secara gak sadar sudah mulai khawatir sama lo, ambil berat mengenai lo, mungkin saat Dio jemput Dinda di Bandung ", jelas Ken.
Keyra hanya ber-oh ria.
" Jadi Ken maunya gimana? ", tanya Arin ikut bersuara.
Belum sempat Ken menjawab Keyra sudah bersuara lagi.
" Keyra gak mau pacaran ya ", ucap Keyra dengan nada memberi peringatan.
" Siapa juga yang mau pacaran sama lo! Entar gue dikira penjahat anak dibawah umur lagi ", saut Ken dengan kesal.
" Gue bingung sama cara kerja otak lo! ", kesal Dio yang bingung dengan sahabatnya itu.
" Salahin perasaan gue ", jawab Ken.
" Yaudah Pa, Keyra kita cariin yang lebih muda dari Ken aja, Ken sendiri kan juga gak mau gak serius sama anak kita ", saut Arin sengaja memancing Ken.
" Eh .. bukan gitu Tante, Keyra ni ngeselin makanya Ken ngomong gitu tadi ", seru Ken yang membuat Dio dan Dinda menahan tawa.
" Takutkan Keyra diambil sama orang lain, belagu sih ", ledek Keyra yang membuat semuanya tertawa.
.
.
.
.
.