Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Bab 9


Seperti biasa, Naura bersepeda mengelilingi taman yang tidak jauh dari rumah. Tadinya sih ia ingin rebahan saja di rumah. Tapi kalau dipikir-pikir, lebih baik berolahraga daripada diam saja.


NAURA!


Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang dan Naura tahu persis itu suara siapa.


Ya benar, itu adalah suara Rizky.


Kini Rizky berada disebelah kanan Naura. "Cewek, kenalan dong," ujarnya sambil menyamakan laju sepedanya dengan sepeda Naura.


"Apa sih gak jelas banget!" ketus Naura.


"Pagi-pagi itu diawali dengan senyuman, bukan malah sensi kayak gitu."


"Habisnya kamu gak jelas." Naura mempercepat laju sepedanya. Karena merasa tertantang, akhirnya Rizky juga melajukan sepedanya dengan cepat.


Naura memberhentikan sepeda didekat penjual bubur, lalu ia turun dari sepeda. Kemudian Naura membeli bubur ayam, karena ia belum sarapan.


"Ra, beliin dong! soalnya aku gak bawa uang."


Akhirnya Naura membeli dua bubur untuk dirinya dan juga Rizky. "Sini duduk!" perintah Rizky, lalu Naura menuruti perintahnya.


"Kebiasaan deh."


Naura tidak mengerti apa maksud dari Rizky. "Apaan?"


"Aku kan udah bilang, kalau lagi naik sepeda jangan pakai celana pendek."


"Ngatur-ngatur mulu."


"Aku ngatur karena takut kamu jatuh lagi."


"Ini buburnya," ujar penjual bubur sambil memberikan bubur kepada Naura dan Rizky.


"Makasih, Pak."


"Iya."


Kemudian, mereka menyantap bubur tersebut.


Naura melihat sekilas kearah Rizky, dan ia berpikir bahwa Rizky hanya menganggap Naura sebagai sahabat.


Ya memang, dari awal juga dia menganggap Naura seperti itu. Mereka sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat, bukan menjadi sepasang kekasih.


"Ra," panggil Rizky.


"Hmm?"


"Kamu kenapa sih ngelamun mulu? enggak di cafe, enggak disini, ngelamun mulu kerjaannya."


"Aku gak kenapa-napa kok."


Rizky yakin bahwa Naura sedang tidak baik-baik saja, mungkin juga Naura bertengkar lagi dengan orang tuanya, jadi dia menjadi sedikit diam.


Rizky terus memaksa Naura agar mencurahkan semuanya.


"Kamu kenapa sih khawatir sama aku?"


"Ya karena kamu sahabat aku."


"Kamu menganggap aku sahabat?" perasaan Naura campur aduk antara sedih dan senang.


"Ya iyalah, kita udah lama loh berteman. Masa kamu gak anggap kita sahabatan."


"Aku anggap kamu sahabat kok."


"Terus tadi kenapa tanya kayak gitu?"


"Hmm...aku cuma mau mastiin aja, kalau kamu beneran menganggap aku sahabat atau kamu cuma anggap aku teman doang."


"Aku anggap kamu sahabat kok," jelas Rizky.


Memang benar, tidak ada persahabatan diantara cowok dan cewek. Kalaupun ada pasti ujung-ujungnya akan berakhir seperti ini.


Mencintai secara sepihak.


Itulah yang saat ini terjadi. Mungkin terdengar menyedihkan, tapi bagaimana lagi kalau sudah cinta.


"Karena kamu sahabat aku, jadi kamu harus cerita masalah kamu ke aku," ujar Rizky.


"Tapi kamu juga gak pernah cerita soal masalah kamu ke aku, jadi untuk apa aku cerita tentang masalah aku ke kamu"


"Aku gak cerita karena hidup aku gak ada masalah."


"Enak banget ya hidup kamu!" sarkas ku, padahal aku juga tahu pasti Rizky mempunyai masalah, cuma ia malu untuk menceritakannya.


"Begitulah hidup orang ganteng, jarang ada masalah."


Naura tertawa. "Emang kamu ganteng?"


"Kata orang tua aku sih iya."


Memang benar sih kalau Rizky itu ganteng. Tapi karena ganteng, harusnya dia jangan terlalu percaya diri. Karena itu membuat orang lain menjadi muak.


"Kami gak nganggap aku ganteng gitu?"


Naura menatap wajah Rizky. "Kamu jelek." ledekku.


"Kamu ganteng sih, tapi sayang terlalu percaya diri."


"Tadi katanya aku jelek."


"Kan kamunya kepedean, jadi aku menganggap kamu jelek."


"Mana bisa gitu. Karena aku ganteng memang seharusnya aku pede."


"Terserah kamu aja deh."


"Akhirnya mengakui juga kalau aku tampan."


"Tampan seperti monyet."


"Heh! jaga mulutnya! aku cium baru tahu rasa."


Naura terdiam, ia terkejut dengan ucapan Rizky barusan. Naura tahu Rizky cuma bercanda, tapi tetap saja Naura kaget mendengarnya.


"Bercanda yaelah! tegang banget sih mukanya."


"Siapa juga yang tegang."


"Oh iya! udah dari sini, kamu mau kemana?"


"Ya pulang lah."


"Gak mau sepedaan kemana dulu gitu?"


"Gak mau! soalnya aku mau hibernasi."


"Emangnya beruang, pake hibernasi segala."


Setelah kita selesai memakan bubur, Naura mengembalikan mangkuk bubur kepada penjual bubur dan langsung membayarnya.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya."


"Jangan dulu pulang."


"Tapi aku pingin pulang." Naura menaiki sepedanya.


Rizky mencegah Naura. "Ayo jalan-jalan dulu."


"Emang mau jalan-jalan kemana sih?"


"Ke minimarket. Kita beli es krim dulu, nanti habis itu baru pulang."


"Kamu kan gak bawa uang."


"Aku bawa, barusan aku nemu waktu nyari disaku."


Naura menagih hutang kepada Rizky karena tadi Naura telah mentraktirnya. Tetapi karena sekarang mereka akan pergi ke minimarket untuk membeli es krim, jadi Naura tidak jadi menagihnya karena sekarang Rizky lah yang akan mentraktir Naura.


Akhirnya Naura dan Rizky pergi menuju mini market dengan menggunakan sepeda masing-masing.


Sesampainya di minimarket, kita membeli eskrim. Dan yang membayarnya tentu saja Rizky. Sesudah membayar eskrim, kita memakan eskrim di depan minimarket.


Rizky mengelap eskrim disudut bibir Naura. "Udah gede juga masih aja belepotan."


Lagi-lagi Rizky membuat Naura salah tingkah. Naura heran mengapa Rizky seolah-olah memperlakukan Naura seperti layaknya ke pasangan.


Memang kita berdua sangat dekat, tetapi harusnya Rizky mengerti kalau Naura juga punya perasaan. Harusnya Rizky tidak melakukan hal semacam itu kepada Naura.


"WOI!"


Teriakan Rizky membuyarkan lamunan Naura.


"Tuh kan! pasti kamu ada masalah lagi sama orang tua kamu."


"Aku udah bilang kalau aku gak ada masalah apapun."


Rizky semakin khawatir dengan Naura, takutnya dia dimarahi hingga dipukul lagi oleh orang tuanya. "Mamah kamu gak suka marah-marah lagi sama kamu kan?" tanya Rizky memastikan.


"Mamah udah gak pukul aku lagi kok. Mungkin karena dia udah introspeksi diri kali".


"Syukur deh kalau mamah kamu gak marah-marah lagi. Aku jadi senang dengarnya."


Naura heran, kenapa jadi Rizky yang senang? padahal seharusnya Naura lah yang senang karena mamahnya sudah tidak memarahi atau memukulnya.


Tapi mungkin saja Rizky senang karena prinsipnya sebagai sahabat yang baik juga harus ikut senang mendengar bahwa mamahnya Naura sudah memperlakukan Naura dengan lebih baik dan juga pasti Rizky tidak akan melihat Naura menangis lagi seperti waktu itu.


"Kamu beneran gak sedih, kan?"


"Iya, aku gak sedih kok."


"Masa?"


"BODO!"


"Kamu nyebelin banget sih jadi orang."


"Gitu aja ngambek."


"Tahu ah! aku mau pulang," ujar Naura sambil pergi dengan mengendarai sepedanya.


"Ra, jangan ngambek dong!" teriak Rizky, tetapi Naura tidak menghiraukannya.