Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
24. Belajar Mendua


🌼 Bian


Aku terbangun dari tidurku. Sepertinya aku benar-benar kelelahan setelah digempur habis-habisan oleh suamiku sampai tidak sadar aku ketiduran di siang hari bolong begini. Pria di sampingku ini masih terpejam dan meringkuk seperti bayi tepat di depan dadaku. Dan pipiku memanas tak karuan begitu sadar kami berdua tidur tanpa penutup tubuh sehelai benang pun


Aku membelai rambutnya. Menelusuri garis wajah maskulin suamiku. Sampai lelaki ini terganggu dan akhirnya ikut terbangun dari tidur lelapnya.


"Sayang.." suara bass favoritku itu parau, khas bangun tidur.


"Mas kalau tidur kayak bayi yaa.." ujarku, tanpa menyingkirkan jemariku yang terus mengusap alis matanya.


"hemm.. Aku tunjukin gimana tidur bayi yang benar.."


Sebelum aku bisa mencerna ucapan Mas Eza, bibir mas Eza sudah melahap sebellah pay udaraku. Menyesssap dan menghissap bergantian. Persis seperti bayi yang kelaparan.


"Mas Eza... Ya ampuuunn.. Nakalnyaaa...." aku tak bisa menahan tawaku, tapi juga merasa sangat geli sehingga aku memukuli punggung suamiku dengan gemas.


"I've said, this is my fave thing.." ucap Mas Eza tanpa melepas hisa pan dan permainan lidahnya pada salah satu pu tingku.


"Aaahh.. Sayangg...." Aku kembali mendes sah saat kurasa jemari mas Eza memasuki intiku. Mas Eza tidak meresponku. Dia tetap asik melu mat buah da daku, sekaligus memaju mundurkan jari yang menyelusup di dalam intiku. Buah peach, kata mas Eza.


"Aaarrggh.. Sayang, aku mau sekali lagi, yaa.."


"Apa?? Lagii?"


Tanpa menunggu persetujuanku, Mas Eza sudah menjalankan lagi misinya. Menggendong, membalikkan, dan mengangkat tubuhku kemanapun dia mau.


Ayunan senj atanya tidak berkurang kecepatan dan kekuatannya. Aku sungguh mengakui stamina suamiku yang seolah tak ada habisnya. Karena saat aku sudah terkulai lemas, dia masih bisa menggendongku tanpa melepas penyatuan kami.


Aku seperti anak koala dalam gendongan suamiku. Lenganku berpegangan kuat di leher kekar mas Eza. Sedangkan kedua kakiku membelit pinggangnya. Mas Eza menaik turunkan tubuhku dengan ritme yang menghujam dan memabukkan.


Aku merasa tubuhku sudah ringan dan tak bertenaga ketika mas Eza membaringkanku kembali di ranjang. Pelepasan bersamaan kami kali ini tak kalah hebatnya dengan sesi sesi sebelumnya.


"Ini salah kamu sayang.. Kamu sangat cantik dan membuat aku gila dengan tubuhmu ini."


Aku hanya tersenyum, sambil mengusap keringat di dahinya. Benar-benar tak ada sisa tenaga lagi untuk mendebat gairrah lelaki tercintaku ini.


"Aku mencintaimu Bian.. Sangat mencintaimu.." Mas Eza melu mat lagi bibirku. Kali ini memang ia lakukan dengan lembut, tapi tetap saja membuatku khawatir.


"Jangan mulai lagi sayang.." desahku parau. Mas Eza tertawa melihatku khawatir akan digempur lagi.


...****************...


🌼 Eza


Aku membelai pipi wanita kesayanganku ini. Aku merasa iba melihatnya kelelahan. Aku pun tak habis pikir dengan gairrahku yang tak ada surutnya. Melihat Bian saja sudah bisa membangkitkan adik kecilku, apalagi saat aku menyentuhnya. Menikmati aroma alami tubuhnya. Kulit seputih susu ini membuatku menggila untuk terus menginginkannya.


"Ini sudah hampir jam dua siang Mas.."


"Hemm..."


"Katanya kamu mau ngajak anak-anak makan bersama..? Tapi jam segini malah belum mandi.."


"Aaawwwhh.." aku meringis kesakitan saat Bian mencubit pinggangku.


"Minta jatah minta jatah teruus.. Mas Eza ga kasihan besok aku ke kantornya jalan ngangkang??"


"Kasihan dong.. Kalau aku liat kamu jalan ngangkang, jadi pengen aku masukin lagi deh.. Jadi besok kita bolos kerja lagi aja ya sayangg..."


Bian tergelak. Sangat cantik dengan tubuh polosnya itu. Wajahnya yang putih kemerahan, lesung pipi yang menambah kecantikannya.. Ahh.. Aku tergila-gila padanya. Aku sungguh ingin memilikinya seorang.


Ah yaa.. Mengingat Maharani selalu membuat tenggorokanku tercekat. Sejak kemarin aku tidak mengangkat telpon darinya sama sekali. Aku hanya mengirim pesan chat kalau aku sedang sibuk dua hari nanti dan tidak akan bisa meneleponnya.


"Sayang.. Mandilah dulu. Jangan lama-lama nanti aku kerjain lagi loh di kamar mandi.."


"Huh.. Dasar mesum!" seloroh Bian setelah menimpuk bantal ke kepalaku. Dia berlari sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut tipis. Aku tergelak melihat tingkah lucunya.


Setelah kudengar gemericik air di kamar mandi, kuputuskan beranjak ke ruang tamu untuk menghubungi Maharani barang sebentar. Aku takut mama khawatir kalau tau aku tidak bisa ditelepon sama sekali.


Dan lagi, aku tidak bisa sepenuhnya mengabaikan Maharani. Bagaimanapun, dia juga istri sahku. Aku sudah menyakitinya tanpa dia tahu. Aku menduakannya. Hatiku bahkan lebih mencintai istri keduaku. Tubuhku lebih menginginkan istri keduaku. Aku sudah menghianati Rani lahir dan bathin. Mana mungkin aku sampai hati tetap mengabaikan teleponnya?


"Halo, Assalamualaikum mas Eza.." suara lembut khas Rani menyapa telingaku.


"Waalaikumsalam Rani.. Maaf aku baru bisa menelepon.."


"Gak apa apa, Mas.. Tapi mas Eza sehat-sehat saja kan?"


"Alhamdulillah sehat, Ran.. Kamu sama mama apa kabar?"


"Kami juga sehat mas.."


"Alhamdulillah.." sahutku. "Bagaimana pekerjaanmu, Ran?"


"Lancar, Mas.. Teman-teman dan bosnya juga baik.."


Aku menganggukkan kepala, meski tahu Rani tidak mungkin bisa melihat anggukanku. Aku memang sudah mengijinkan Rani untuk bekerja. Dia bekerja di sebuah supermarket milik om dari sahabatnya.


"Inget Rani.. Kamu bekerja bukan untuk mencari nafkah, itu tanggung jawabku. Jadi jangan terlalu lelah."


"Iya, mas.. Aku mengerti." Dari nada suaranya aku bisa dengar kalau Rani berbicara sambil tersenyum.


"Sayaang.. Aku sudah selesai. Buruan kamu ke kamar mandi.. Cepetan. Bentar lagi ashar.."


"Mas, itu suara siapa?"


#Deg !!


...****************...


🌼 Happy Reading 🌼