
Motor berhenti di depan rumah Gunadi.
Foga turun dari motor dan melepas helm.
Bergegas ia membuka gerbang yang tidak dikunci.
"Pada ke mana nih? Biasanya ada security?" Foga celingukan mencari ada orang. Tapi nihil.
"Mending gue masuk aja. Gue nggak tenang ngebayangin Zella disakitin sama Ezz." Foga langsung masuk rumah yang ternyata tidak dikunci.
"La.. Zella lo di mana? Ini gue Foga." Panggilnya.
Bingung melihat rumah Gunadi yang begitu besar. "Zella, lo denger gue kan?"
Foga beranjak ke lantai atas mencari ke kamar Zella.
"Zella..." Panggilnya sambil membuka kamar mandi. "Nggak ada juga? Lo di mana sih La?"
Ia memeriksa ruangan lain.
"Zella, lo di mana??"
Semua ruangan dan kamar mandi sudah dicari namun tidak ada.
Ia segera turun dan melihat ada pintu kamar terbuka dengan engsel pintu rusak berserakan di lantai.
Bergegas ia masuk dan terkejut melihat Zella tergeletak pingsan di lantai.
"Zella!!!"
Langsung saja Foga menggendong Zella dan membaringkannya di ranjang setelah menyingkirkan barang-barang yang berserakan di ranjang.
"Lo kenapa La?? Apa Ezz udah lukain lo??" Foga sungguh geram membayangkan perlakuan Ezz pada Zella.
"Harusnya gue nggak biarin lo ke mari. Harusnya gue bawa lo pergi jauh-jauh. Kalau perlu gue sekap lo dan paksa lo nikah sama gue, bakal gue lakuin karena gue cinta sama lo, Zella..."
Foga langsung mencium bibir Zella dan menyesapnya berkali-kali.
Zella membuka mata dan terkejut, langsung mendorong Foga dan...
Plaakkk..
"Apa-apaan sih lo, Ga!!???" Bentaknya sambil mengusap bibirnya yang basah air liur.
"Kok lo marah sih La?" Foga mengabaikan perih di pipinya akibat ditampar.
"Ngapain lo cium-cium bibir gue??"
"Setiap hari juga kita ciuman. Gue kangen nggak ketemu lo dari kemarin."
Zella menepis tangan Foga, kesal.
"Lo kenapa bisa pingsan, La? Lo diperkosa sama Ezz?" Foga menilik tubuh Zella dari atas sampai bawah.
"Apaan sih? Gue capek dari tadi nyari sertifikat aset Papa, tapi nggak ketemu!"
"Kita udah punya duit banyak buat apa lo cari aset bokap lagi?"
"Diem lo! Gue cuma nggak rela Zolla dapet bagian! Besar kepala yang ada tu cewek!"
Foga tak terlalu ambil pusing urusan aset, melihat wajah Zella pucat ia jadi cemas lagi.
"Tapi lo nggak diapa-apain kan sama Ezz?"
"Lo ngapain peduli sih?"
"Jelas gue peduli! Lo lagi hamil anak gue dan gue cinta sama lo, La!"
Zella sungguh jengah dan mendorong Foga menjauh. "Ngapain lo ke mari? Siapa yang jagain Zolla?"
"Dia masih dikunciin di kamar. Gue cemas sama lo. Zolla bilang, Ezz sering KDRT sama dia. Gue kuatir dia KDRT sama lo."
"Apa???" Foga memegang kedua bahu Zella. "Jadi lo kurang tidur gara-gara dia??"
"Udah deh lo nggak usah mikirin gue. Sekarang...." Kata-kata Zella terhenti melihat sesuatu di atas lemari. "Foga, Itu.... CCTV kan?"
Foga menoleh ke arah yang ditunjuk Zella. "Iya itu CCTV."
"Kenapa bisa ada..??" Zella mulai sadar dan panik. "Ini jebakan! Sekarang pasti rumah itu udah digrebek karena lo nggak ada di sana!"
Baru Foga tersadar sudah dibohongi Zolla.
"Putusin kabel CCTV! Kita cari sekali lagi sertifikatnya, dan kita pergi dari sini!"
***
Brakkkkkk...
Zolla terkejut begitu pintu didobrak hingga engsel pintu terlepas.
"Kak Ezz!"
Ezz langsung menghambur memeluk Zolla yang menangis ketakutan.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" Ezz mengecup puncak kepala Zolla berkali-kali.
Zolla terisak merapatkan pelukannya. "Aku takut, Kak. Aku diculik sama Zella. Terus dia... Tukar..."
"Iya iya sayang, aku udah tau." Ezz melepas pelukannya dan menghapus air mata Zolla. "Kamu kira aku nggak akan ngenalin kamu?" Ia menciumi wajah Zolla.
"Soalnya Zella juga lagi hamil. Aku takut Kakak nggak tau..."
Ezz mengecup kening Zolla sekilas dan mengusap lembut kepalanya. "Udah ya, nanti kita bicara. Sekarang kita harus pergi dari sini."
"Iya Kak."
Hati-hati Ezz membawa Zolla keluar kamar dan turun tangga.
"No, gimana? Udah diamankan semuanya?"
Zolla melihat sekitar 8 pria diikat di ruang tengah. Pria yang tadi mengantar makanan untuknya ada diantaranya.
"Iya udah.. sekarang kita bisa lapor polisi."
Wahyu muncul dari luar. "Ezz, lo harus segera ke rumah. Om Gunadi akan pulang. Di rumah kan cuma ada Zella."
Zolla terkejut kontan panik. "Kak, Zella nggak akan celakain Papa kan??"
"Tenang sayang, Papa akan baik-baik aja. Zella nggak akan bisa nyakitin Papa selama dia belum dapat yang dia inginkan."
"Polisi akan segera ke mari dan geledah tempat ini, Ezz."
"Kalo gitu gue serahin sama lo berdua. Gue sama Zolla harus pulang karena Papa bisa kena masalah ketemu sama Zella."
"Iya Ezz. Biar gue sama Wahyu di sini. Di sana udah ada Oka yang bantu lo."
"Ayo sayang..."
Ezz dan Zolla bergegas meninggalkan tempat itu.
Sepanjang jalan Zolla gigit jari membayangkan kegaduhan yang akan terjadi.
Ezz menggenggam tangan Zolla. "Semua akan baik-baik aja."
"Aku takut Zella nekat, Kak."
"Aku akan jagain kamu sama Papa. Kamu jangan takut. Kita akan hadapi bersama. Apapun yang terjadi, aku minta kamu sudah siap. Zella pantas mendapat hukuman."
***