
Pada suatu sore.
Meong... Meong... Meong...
"Lami... Lami... Jangan lari-larian", kata Fitri sembari mengejar Lami.
"Sini Lami sayang", kata Fitri lagi.
"Ayo anak baik, harus nurut", tambahnya.
Perlahan Fitri mengejar Lami yang sore itu tampaknya bahagia dan ingin bermain dengannya. Maka ketika Fitri pulang dari kampus. Lami langsung menggodanya dengan lari-larian kesana kemari. Karena kelelahan mengejar Lami, akhirnya Fitri tertinggal agak jauh dari Lami.
Sementara itu, Reza sedang santai di taman tepi kolam renang yang terletak tidak jauh dari kamar para ART dan pegawai di rumah itu. Dengan ditemani secangkir kopi serta ponsel digenggamnya. Tampaknya sedang sibuk sekali main game online.
"Hacin.... Hacin... Hacin...", tiba-tiba Reza bersin-bersin.
"Hacin.... Hacin... Hacin...", ternyata bersin-bersinnya semakin menjadi.
Meong... Meong... Meong~
"Aaaaa... Kucing!", teriak Reza sembari mengangkat kakinya ke atas kursi.
"Hus... Hus... Pergi! Kucing kurang ajar!", Reza berusaha mengusir kucing itu.
"Hacin.... Hacin... Hacin...", lagi-lagi Reza bersin.
"Astaghfirullah den", tiba-tiba suara Yuni terdengar.
"Maaf den, maaf", kata Yuni sembari menangkap Lami.
"Biar saya bawa ke belakang den", pamit Yuni sembari mengendong Lami.
Ketika sudah di halaman belakang rumah.
"Lho Bu, tadi ketemu Lami dimana? Aku tadi mencarinya tetapi tidak ketemu", kata Fitri.
"Jangan dikeluarkan, soalnya den Reza alergi kucing. Sekarang alerginya sedang kambuh gara-gara Lami", kata Yuni.
"Astaghfirullah", Fitri terkejut mendengar penjelasan ibunya.
"Sekarang jangan sampai Lami kamu bawa keluar kamar ya. Dia harus di dalam kamar terus", pinta Yuni.
"Ibu mau ngecek keadaan den Reza dulu", tambahnya seraya pergi meninggalkan kamar Fitri.
Reza pun segara masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian disusul oleh Yuni. Yang membawakan nebulizer dan obat untuk meredakan asma akibat alerginya kambuh.
"Kucing siapa sih bi?", tanya Reza.
"Maaf den, kucingnya Fitri. Maaf ya den, sekarang bibi udah pesen sama dia kalau kucingnya gak boleh keluar dari kamarnya", kata Yuni.
"Hah?", ucap Reza kaget.
"Bibi janji den, kucingnya nggak akan keluar dari kamar belakang lagi", ucap Yuni.
"Maaf ya den", ucapnya sekali lagi karena merasa benar-benar bersalah.
Reza hanya terdiam.
"Coba bukan gara-gara anaknya Bi Yuni", batin Reza.
"Awas aja lo!", batinnya lagi.
Sore hingga malam hari bahkan sampai larut pagi adalah waktu favorit Reza untuk nongkrong bersama teman-teman. Tidak ada yang melarang Reza keluar malam bahkan sampai hingga dini hari sekalipun. Karena memang di rumah jarang ada Keuda orang tuanya.
Papi Irawan yang selalu sibuk dengan urusan bisnisnya, karena memang perusahaan miliki Keluarga Munaf sudah memiliki jaringan sampai ke luar negeri. Maka jarang sekali melihat papinya berada di rumah. Kalaupun di rumah hanya beberapa jam saja untuk numpang tidur. Berangkat pagi dan pulangnya larut malam. Belum jika harus keluar kota ataupun keluar negeri.
Mami Sary seperti layaknya istri CEO perusahaan lainnya. Tergila-gila dengan yang namanya arisan dengan teman-teman sosialitanya. Mulai dari arisan uang, berlian, barang-barang branded dan lainnya. Banyak sekali jaringan kelompok sosialita yang dikenal. Dan kumpul dengan teman-teman sosialita hampir setiap hari. Makanya Reza pun jarang sekali ketemu mamanya di rumah.