Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Bab 12


Karena sudah larut malam, akhirnya Rizky mengajak Naura untuk pulang. Disepanjang perjalanan, Naura hanya senyum-senyum sendiri karena ia tahu bahwa cintanya berbalas.


Sejujurnya Naura ingin sekali agar Rizky menyatakan perasaannya sekarang, tapi karena Rizky sepertinya tidak berani, maka ia harus sabar menunggu sampai Rizky menyatakan perasaannya.


"Kamu kenapa, Ra?"


"Apa?"


"Kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Emang gak boleh ya kalau aku senyum?"


"Gak boleh."


"Kenapa gak boleh?"


"Soalnya nanti yang lihatnya jadi diabetes."


Sudah dipastikan saat ini Naura sedang salah tingkah. Ia terus tersenyum sambil mencuri pandang kearah Rizky.


"Ra, kamu ngantuk gak?"


"Ngantuk."


"Ya udah kamu tidur aja. Kalau udah sampai, nanti baru aku bangunin."


"Gak apa-apa aku tidur?"


"Iya, gak apa-apa."


Naura menutup mata dan tak sampai lima menit, ia sudah tertidur. Karena mungkin ia sangat kelelahan.


Ketika tiba di rumah, ternyata rumah Naura sudah gelap. Karena Rizky mengira orang tua Naura telah tidur, akhirnya Rizky kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya.


...****************...


Rizky POV


Sesampainya di rumah, aku segera menggendong Naura. Untung saja badan Naura tidak berat, jadi aku bisa dengan mudah menggendongnya.


"Ky, Naura kenapa?" tanya Mamah.


"Naura cuma tidur, Mah."


"Kirain Mamah, dia habis mabuk-mabukan."


"Enggak lah, Mah. Naura kan gak pernah mabuk-mabukan," ujarku sambil masuk kedalam kamar tamu.


Mamah mengikuti ke kamar tamu. "Naura berantem lagi ya sama mamahnya?"


"Enggak kok," ujarku sambil menidurkan Naura di kasur.


"Terus kenapa dibawa kesini?"


"Soalnya rumahnya udah dikunci, makanya Rizky bawa kesini."


...****************...


Keesokan harinya.


Naura terbangun dan ia melihat Rizky duduk dipinggir kasur. Ia melihat sekelilingnya dan ternyata ia tidak berada di kamarnya. "Kok aku ada di rumah kamu."


"Soalnya semalam rumah kamu udah dikunci, makanya aku ngajak kamu ke rumah." Tiba-tiba Rizky menaruh kain di kening Naura.


"Ngapain?"


"Kamu demam. Jadi aku mau kompres, biar badan kamu gak terlalu panas."


Naura memegang lehernya dan memang benar bahwa tubuhku sangat panas.


Tingtong! Tingtong!


"Tunggu sebentar, nanti aku kesini lagi," ujar Rizky sambil pergi keluar.


Beberapa menit kemudian, Rizky kembali dengan membawa bubur dan air minum. "Ayo duduk!" suruh Rizky, lalu Naura mengikuti perintahnya.


"Buka mulutnya!" perintah Rizky. Lalu, Naura menuruti perintah Rizky. Setelah itu, Rizky menyuapiku.


"Maaf ya."


Naura menatap wajah Rizky. "Maaf untuk apa?"


"Kamu sakit gara-gara aku, harusnya aku gak ajak kamu main malam-malam."


"Bukan salah kamu kok."


"Oh iya, kamu sebaiknya jangan masuk kuliah, soalnya nanti takut makin panas badannya."


Naura hanya mengangguk pelan. "Hmm...kalau kamu mau kuliah gak?"


"Aku juga gak akan kuliah kayaknya, soalnya mau jagain kamu."


Naura berusaha untuk menahan senyumku. "Kenapa ngejagain aku?"


"Ya karena aku khawatir sama kamu."


Naura baru ingat bahwa dirinya belum memberitahu orang tuanya bahwa dirinya sekarang ada di rumah Rizky.


Tetapi ternyata Rizky sudah memberitahu bahwa Naura berada di rumahnya. "Orang tua kamu nitipin kamu ke aku, katanya mereka juga mau ke rumah nenek kamu."


"Ngapain ke rumah nenek?"


"Nenek kamu sakit, jadi mereka kesana."


"Aku juga sakit, tapi kok mereka malah ninggalin aku." Naura merasa orang tuanya tidak peduli dengannya.


"Soalnya aku gak bilang ke mereka kalau kamu lagi sakit. Jadi mungkin mereka ninggalin kamu, karena mereka kira kamu baik-baik aja."


"Oh gitu ya."


Rizky memberikan kunci kepada Naura. Karena tadi pagi orang tua Naura menitipkan kuncinya ke Rizky.


Mamah Rizky masuk kedalam kamar. "Ky, Mamah berangkat dulu ya."


"Mau kemana, Tante?"


"Mau ke Surabaya," balas Mamah Rizky.


"Oh iya, kalian berdua jangan macem-macem ya di rumah."


"Iya, Rizky gak akan macem-macem kok."


"Ya udah mamah sama papah pergi dulu ya."


"Iya."


Lalu, Mamah Rizky pergi keluar.


"Ra, kamu jangan dulu pulang. Soalnya aku bosen di rumah sendiri," ujar Rizky.


"Kalau aku masih disini, terus aku gak mandi-mandi dong."


"Ya mandi lah!"


"Tapi kan pakaiannya ada di rumah."


"Pakai punya aku aja."


Walaupun Rizky mengijinkan Naura untuk memakai pakaiannya, tetap saja Naura tidak mau. Karena masa ********** tidak ganti.


"Aku pulang aja deh."


"Please! disini aja," mohon Rizky.


"Aku pulang dulu, nanti aku kesini lagi."


"Emang kesana mau apa?"


"Mau bawa pakaian."


"Kan aku udah bilang, kamu tinggal pakai pakaian aku aja."


"Hmm...ada barang yang pingin aku ambil."


"Ya udah siniin lagi kuncinya, nanti biar aku aja yang kesana buat ngambil barangnya."


"Aku aja yang kesana."


"Tapi kamu kan masih sakit."


"Gak apa-apa."


"Ya udah ayo aku antar pake mobil."


"Rumah aku cuma sekitar 5 menit loh dari sini, jadi kamu gak perlu nganter aku."


"Gak apa-apa."


"Tapi gak pake mobil juga kali."


"Gak apa-apa, biar kamu bisa sambil tiduran."


"Ya udah deh ayo."


"Habisin dulu makannya, nanti baru kesana."


Sesudah buburnya habis, Rizky mengantarkan Naura pulang untuk mengambil pakaian.


Tak lama, mereka telah sampai di rumahku. "Kamu tunggu disini! jangan ngikut kedalam."


"Siapa juga yang mau ngikutin kedalam."


Karena tak ingin banyak bicara, akhirnya Naura masuk kedalam rumah. Naura heran, kenapa sikap Rizky kadang romantis tapi kadang juga menyebalkan.


Apakah dia punya dua kepribadian?


Tidak, sepertinya dia punya empat kepribadian. Karena dia kadang romantis, kadang galak, kadang suka jahil dan juga kadang seperti anak-anak yang manja.


Karena aku tidak ingin berlama-lama, akhirnya Naura buru-buru mengemasi barang-barangnya. Sesudah mengemasi barang-barang, ia kembali menghampiri Rizky. Naura masuk kedalam mobil. "Ya udah ayo"


"Gak ada yang ketinggalan kan?"


"Gak ada."


Kemudian Rizky kembali melajukan mobilnya menuju rumah.


...****************...


Pada malam hari, Naura dan Rizky menonton film di ruang tengah. Sebenarnya ia tidak begitu menyukai filmnya, tapi karena film ini pilihan Rizky, maka Naura terpaksa menontonnya.


Tingtong! Tingtong!


Naura penasaran, kira-kira siapa yang menekan bel malam-malam. "Siapa, Ky?"


"Kayaknya sih pengantar makanan," ujar Rizky sambil pergi keluar. Tidak sampai satu menit, Rizky sudah kembali menghampiri Naura.


"Beli apa?"


"Aku beli sate."


"Mau dong."


"Iya, kan ini buat kita berdua."


"Tumben kamu gak pelit."


"Aku gak pelit kali. Yang ada kamu yang pelit."


"Kapan aku pelit sama kamu?"


"Waktu kamu jajan es buah, kamu gak mau bagi es buahnya ke aku."


"Itu udah beberapa tahun yang lalu, masih aja dibahas. Lagian waktu itu es buahnya enak banget, jadi aku gak rela kalau bagi-bagi ke kamu."


"Alasan! bilang aja pelit."