
🌼 Bian
Siang terik di hari minggu yang melelahkan. Tadi, satu jam yang lalu, ia baru selesai mengajar anak-anak jalanan berhitung penjumlahan dan pengurangan di sekolah Harapan. Kemudian sebelum pulang, ia sempatkan mampir di warung nasi pak Jaya untuk bantu-bantu mencuci piring.
"Ndak usah cuci piring, nduk.. Kamu kan sudah capek ngajar di sabtu minggu.. Hari biasa juga masih kerja lembur-lembur.." sergah pak Jaya tadi, sewaktu aku baru saja menyentuh satu piring untuk kucuci.
"Ndak capek blas kok, Pak.. (Gak capek sama sekali kok, Pak..). Lagian hari ini yang ikut kelas lebih banyak dari kemarin-kemarin. Alhamdulillah.. Jadi pasti piring kotornya juga lebih banyak.." aku melanjutkan mencuci piring. Mengabaikan ucapan pak Jaya, karena lelaki paruh baya itu sudah jelas membutuhkan bantuanku. Usia kian senja, tenaga kian tergerus masa. Sudah pasti tidak seperkasa dulu.
Pak Jaya meladeni dua orang pembeli yang baru datang. Tak ada kesempatan untuk kembali melarangku. Kupercepat gerakanku membersihkan piring, sendok, dan gelas yang kotor bekas makan anak-anak dan juga pelanggan yang lain.
"Pulang saja, nduk.. Suamimu juga bentar lagi pulang to.. Mending siapin makan dan keperluan nak Eza.. Lapo malah korah-korah nang kene to..?" seloroh pak Jaya usai membungkus nasi pecel pesanan seorang pelanggan terakhir.
"Nggeh Pak.. Bentar lagi selesai ini lo.." sahutku seraya membilas piring-piring yang sudah kubasuh dengan sabun.
Pak Jaya mengambil kursi plastik untuk diletakkan di dekatku. Lalu duduk di sana sambil memperhatikanku. "Bagaimana, nduk? Apa Eza memperlakukanmu dengan baik?"
Aku menoleh sebentar seraya menunjukkan senyum termanisku. "Baik pak.. Sangat baik."
Aku jadi merindukan mas Eza. Suamiku yang tampan itu sedang pulang kampung sekarang. Weekend pertama dan ketiga setiap bulannya adalah jadwal rutin mas Eza pulang ke Jember untuk menjenguk mamanya.
Sudah dua bulan kami menikah. Tak pernah sekalipun kami terlibat cekcok, atau perdebatan serius. Mas Eza selalu mengerti aku. Lelaki itu kerap mengalah tiap aku merajuk. Jika ada yang membuatnya kurang nyaman, mas Eza selalu mengatakan segala sesuatu dengan lembut. Jauh dari ucapan kasar dan sikap yang semena-mena. Sehingga aku bisa menerima setiap kali ada perbedaan pendapat maupun prinsip hidup kami sebagai hal yang wajar dan tidak patut diperdebatkan..
Untuk urusan nafkah finansial, aku tidak keberatan sama sekali kalau mas Eza hanya memberiku setengah dari gajinya. Setengahnya lagi diberikan pada mama mas Eza yang seorang janda dan tidak berpenghasilan. Toh kehidupan kami jauh dari kata kekurangan. Gajiku lebih dari cukup untuk keperluan pribadiku. Belum lagi fee dari endorsement yang semakin meningkat dari sebelum-sebelumnya.. Alhamdulillah.
Dari ekor mataku, aku tau Pak Jaya sedang mengamatiku. Mungkin ingin mengkonfirmasi benar atau tidak ucapanku tadi.
"Sudah dua bulan kan kalian menikah?"
"Tapi Eza kok masih sendirian aja kalau pulang ke Jember?"
Aku menoleh sebentar dengan senyum kian melebar menghiasi, lalu kembali mengguyur sendok-sendok di bawah keran air.
"kamu dan Eza nikah siri. Sudah dua bulan, nduk.. Dan belum juga dikenalkan pada keluarga Eza. Bapak jadi kepikiran, Bi.. Apa ada yang kamu sembunyikan dari bapak?" netra renta Pak Jaya menatap dengan penuh kelembutan.
Setelah membilas sendok terakhir, Aku mengeringkan tangan dengan washlap yang menggantung di dinding. Lantas mengambil kursi plastik merah yang warnanya sudah memudar itu, untuk duduk segaris tepat di hadapan Pak Jaya.
"Gak ada Pak.. Hanya mas Eza takut kesehatan mamanya terganggu kalau sampai tau mas Eza menikah siri tanpa sepengetahuan beliau.. Mas Eza hanya menjaga itu, Pak.. Mas Eza butuh waktu untuk menyampaikan berita pernikahan ini, setidaknya sampai kesehatan mamanya stabil. Jadi Bian gak mendesak mas Eza lagi untuk ikut pulang ke Jember, ataupun minta dikenalkan ke keluarga mas Eza..." paparku.
Pak Jaya menarik nafas panjang. Kentara sekali masih ada yang mengganjal di benak. "Kamu itu anak perempuan, nduk.. Dinikah siri. Tanpa sepengetahuan pihak keluarga laki-laki satupun. Itu sarat fitnah, Bi... Bapak kuatir.. Besok-besok, ada hal-hal buruk yang mengganggu rumah tanggamu dan Eza."
Aku menelan saliva dengan sedikit rasa tercekat. Ada benarnya, ya.. Aku tau pasti posisiku sangat mudah dibuang. Dan itu membuat memori masa kecilku seolah diputar kembali di otak. Berkelebatan mengusik kembali rasa trauma yang sudah kupendam belasan tahun lalu?
Tapi mungkinkah..? Lelaki sholeh, lembut, dan baik hati seperti mas Eza tega mencampakkanku dengan mudah? Mungkinkah?
Sejak perbincangan dengan pak Jaya itu, aku selalu memikirkan hal ini. Hingga puncaknya, dua hari kemudian ketika aku dan mas Eza makan malam di restoran sushi favoritku.
Sepulang kerja kami pergi makan malam di luar karena hari ini tepat dua bulan pernikahan kami. Aku pikir, aku membutuhkan semacam aktualisasi diri. Aku butuh publikasi. Aku memposting foto mesra kami di sosial mediaku untuk pertama kalinya. Dengan caption manis untuk memperjelas bahwa lelaki ini adalah suamiku. Suami tampanku..
...Happy 2nd months-versary, hubby... I love you so (emoticon love)...
...----------------...
🌼 Happy Reading