Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Pertengkaran Vita dan Riani


Kehidupan pernikahan Zolla dan Ezz diwarnai keceriaan. Bahagia di setiap detiknya, itu yang dirasakan mereka berdua.


Sesuai syarat, setelah menikah Ezz dan Zolla tinggal di rumah Gunadi.


Bukan main kelabakannya Vita dan Riani begitu Ezz mengatakan akan pindah ke rumah mertuanya.


"Kok gitu Kak? Harusnya istri Kakak ikut tinggal di rumah Kakak dong?" Protes Riani yang tak terima berpisah dengan Ezz.


"Iya gimana sih Kak? Kak Zella harusnya ikut tinggal di sini. Namanya juga udah nikah." Vita menambahkan.


"Itu keputusanku sendiri. Kalian kenapa sih? Kalian nggak bisa ngurus diri sendiri memangnya?"


Vita dan Riani saling pandang dengan tatapan tajam.


"Dia nih kerjanya nggak pernah bener, Kak! Baju-baju Vita pada rusak dia nggak bener nyuci sama gosoknya!" Seru Vita ketus.


"Kok nyalahin gue sih? Lo kan punya tangan. Nggak bisa kerjain sendiri?"


"Eh gue kan artis. Gue harus jaga kelembutan kulit gue. Mana bisa gue kerja kasar begitu. Lo kan cuma make up artist, waktu lo banyak luang lagi sepi job. Ya lo lah yang kerjain semua. Secara lo cuma numpang di sini."


"Jangan sombong lo, Ta. Lo juga numpang di sini."


"Ini kan rumah saudara gue, Kak Ezz. Ya berarti rumah gue juga."


Ezz geleng-geleng kepala melihat pertengkaran Vita dan Riani, lalu bergegas menuju kamar untuk membereskan pakaian. Ia akan pindah ke rumah Gunadi.


Lagi sibuk memasukkan pakaian ke koper, Riani masuk kamar tiba-tiba langsung memeluknya dari belakang.


"Eh Riani, apa-apaan sih? Lepas.." Ezz kontan menghindar.


"Kak Ezz, aku suka sama Kak Ezz.." kata Riani membuat Ezz heran.


"Kamu kan tau aku udah menikah?"


"Iya aku tau. Tapi aku nggak bisa nahan perasaan ini dari awal kita ketemu. Aku mau kok jadi istri kedua Kakak. Tinggal di sini. Rajin seperti Kak Zella. Asal Kak Ezz datangi aku dalam seminggu beberapa kali."


Ezz langsung melepas pelukan Riani dan mendorongnya.


"Jangan keterlaluan, Riani! Kamu udah melewati batas!" Ezz mengunci kopernya dan menggiring koper ke luar kamar.


"Aku serius, Kak... Aku bersedia jadi apapun asal ada ruang di hati Kakak buat aku." Riani tak menyerah mengejar Ezz.


"Aku sangat mencintai istriku, Riani. Nggak ada ruang untuk wanita lain."


Riani tertawa sumbang. "Laki-laki mana bisa setia. Buktinya kalian sempat pisah rumah kan? Itu bukti, Kak Ezz nggak sepenuhnya cinta sama Kak Zella. Aku bisa kasih apapun yang nggak Kak Zella kasih untuk Kakak. Nikahin aku."


"Heh Riani!" Bentak Vita yang sejak tadi duduk di sofa. "Keterlaluan lo ya! Berani lo gangguin Kak Ezz pake minta nikahin segala?"


"Lo kan tau Kak Ezz udah nikah! Kegatelan banget lo jadi perempuan!" Umpat Vita.


"Gue bukan kegatelan! Tapi gue memperjuangkan cinta gue!"


Vita tertawa sinis. "Perjuangin cinta? Lo mabok ya? Lo sendiri nggak pernah bertahan 3 bulan pacaran. Berani lo bilang perjuangin cinta sama Kak Ezz."


"Gue udah yakin gue cinta sama Kak Ezz."


"Bullshit lah semua omongan lo! Gue tau lo minta Kak Ezz nikahin supaya bisa kuasai rumah ini, dan nendang gue dari sini. Emang gue nggak bisa baca pikiran lo! Cewek nggak tau diri udah dikasih numpang malah ngelunjak!"


"Lo..."


"Enough!" Teriak Ezz memutus perdebatan mereka. "Jadi ini yang terjadi kalo aku nggak di rumah? Kalian berantem terus?"


Keduanya diam takut dibentak begitu.


"Kalau kalian nggak betah, silahkan pindah dari rumah ini. Aku nggak mau ada pertumpahan darah di rumah ini. Aku permisi. Mulai hari ini aku tinggal di rumah Papa Gunadi. Baik-baik kalian. Kalau udah nggak betah, silahkan pindah!"


Vita menahan tangan Ezz. "Kak Ezz, jangan pindah dari sini. Vita nggak boleh tinggal di luar. Papa bisa marah. Papa cuma ngijinin Vita tinggal sama Kak Ezz."


Ezz melepas tangan Vita pelan-pelan. "Kamu udah gede, Vita. Bukan anak kecil lagi. Aku akan telepon Om Budiman untuk jelaskan semua. Kamu baik-baik tinggal di sini."


"Kak.." Vita masih usaha. "Kalau Vita ikut tinggal bareng Kakak, boleh?"


"Jelas nggak boleh. Sikap kalian itu buruk sama istriku. Jelas aku nggak akan biarin kalian serumah lagi." Ezz memegang kedua bahu Vita. "Kamu sudah besar, Vita. Bukan anak kecil lagi. Suatu saat kamu bakal menikah dan berumah tangga."


Setelah bicara begitu, Ezz memasukkan koper ke bagasi dan pergi meninggalkan rumah. Begitu mobilnya tidak terlihat lagi, Vita menghentakkan kaki kesal.


"Br*ngsek tu Riani! Cari masalah aja sama gue! Dia nggak tau apa dari kecil gue udah suka sama Kak Ezz!" Umpatnya.


"Apa???" Muncul Riani dari dalam rumah.


Vita mendelik tajam.


"Lo udah gila ya! Kak Ezz itu sodara lo, Ta! Lo suka sama dia??"


"Iya gue suka sama Kak Ezz, kenapa? Lagian bokap sama Om Praja itu bukan saudara kandung, cuma saudara tiri. Gue sama Kak Ezz nggak ada hubungan darah!"


"Tapi tetep aja nggak pantes lah lo ngarep sama Kak Ezz!"


"Suka-suka gue dong! Mulai sekarang lo jangan sombong, ikutin perintah gue kalau masih mau tinggal di sini!" Vita nyelonong masuk rumah.


Riani mengepalkan tangan emosi. "Awas lo, Ta! Berani lo saingan sama gue! Kalau Kak Ezz nge-duda, gue yang berhak atas dia, bukan lo. Kalau perlu gue singkirkan lo, bakal gue lakuin!"


***