Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Tamu tak Diundang


Meski kurang tidur karena semalam pulang larut dari rumah Gunadi, Ezz terlihat begitu bersemangat pagi ini.


Semalam ia dapat suntikan energi ekstra dari Zolla yang membuat semangatnya meningkat berkali-kali lipat.


"Besok-besok gue ajak dia nonton apa lagi ya biar gue dapet jatah kiss lagi?" Pikiran nakalnya mulai terbit.


Selama menikah atas nama Zella, Ezz memang belum pernah mencium bibir Zolla.


Meski ia pernah menidurinya, tak sekalipun ia mencium.


HP nya berdering, Zolla mengundang video call. Senyum Ezz kontan melebar.


"Halo sayang.."


"Halo Kak.." wajah malu Zolla memenuhi layar HP nya.


"Kenapa malu-malu gitu?" Ezz menahan senyum Zolla begitu cantik.


"Enggak ah. Kakak udah di restoran?"


"Iya udah aku lagi di ruangan nih. Kamu lagi apa?"


"Lagi video call sama Kak Ezz.."


"Diiihhh gemesin banget sih pacarku ini. Jadi pengen cium lagi."


"Iihhh Kak Ezz nih..." Pipi Zolla kontan memerah membuat Ezz makin gemas.


"Nanti kalau aku dateng ke rumah, kasih jatah cium lebih lama ya?"


"Diihhh Kak Ezz nakal.. sampe bengkak nih bibir."


"Lagian enak dicium bikin ketagihan."


"Iihh udah ah ngomongin itu melulu. Malu tau.."


Ezz terkekeh. Melihat wajah malu-malu Zolla, tak tahan ingin menggodanya. Teringat lembutnya bibir aroma strawberry itu masih terasa di bibirnya. Membuatnya geregetan. Kalau saja ia bisa menembus layar HP dan menarik Zolla keluar agar bisa ia peluk.


"Kapan-kapan aku ajak kamu ke sini ya? Kamu chef handal makanan kamu selalu enak."


Zolla cemberut. "Aku kan belum boleh keluar rumah. Kata Papa, belum ada yang tau selain di rumah, Kak Ezz, dan Papa, kalau aku ini bukan Zella. Papa takut kalau aku keluar rumah ada yang niat jahat sama aku ngira aku Zella."


"Iya sih. Zella kan mantan preman, nggak aman kalau kamu keluar rumah sendirian. Ya udah kalau keadaan sudah terkendali, aku mau ajak kamu ke mari."


"Buat masak?"


"Bukan. Buat ciuman di gudang belakang."


"Iiihhhh Kak Ezz nakal!"


Ezz tertawa geli. Entah kenapa dia ingin makin jauh menggoda Zolla.


Kalau saja tidak ingat situasi, ia yakin semalam akan lepas kendali. Namun Ezz tak ingin gegabah membuat Zolla takut jika ia langsung menidurinya.


Walaupun sudah pernah ia lakukan dengan begitu kasar.


Ia ingin membuat Zolla nyaman dengannya. Dan kini hubungan mereka dibatasi sekedar ciuman. Itu pun setengah mati Ezz menahan tidak melakukan lebih dan menjaga tangannya tidak nakal raba sana-sini.


Mereka mengobrol beberapa saat lewat video call. Ezz tak peduli apa yang dibicarakan, ia senang menatap wajah Zolla.


Pintu ruangannya diketuk.


"Sayang nanti kita lanjut ya. Aku kerja dulu."


"Iya Kak. Semangat kerjanya Kak Ezz..."


Ezz tersenyum gemas begitu sambungan video diputus.


"Masuk!" Sahutnya.


Pintu terbuka.


"Ada apa No?" Tanyanya begitu Yono muncul.


"Ada tamu cari Mas Ezz."


"Namanya Remon."


DEG.


Remon?


Pemimpin geng musuh bebuyutannya dulu. Ketika kejadian ia disekap dan dipukuli di markasnya di Bandung, semua ditangkap termasuk Remon.


Pasti dia udah bebas dan mau bikin rusuh, batinnya.


Ia bergegas keluar ruangan.


Di salah satu meja sudah duduk pria bertubuh kurus dengan tato di sepanjang leher, serta tindikan di hidung, telinga dan bawah bibirnya.


Sungguh pemandangan tak enak dilihat.


Ezz bergegas mendekat.


Remon berdiri menatapnya tajam.


"Sorry Mon, kita bisa bicara di tempat lain."


"Kenapa emang kalo di sini? Lo takut gue ngacak-ngacak restoran lo?"


"Lo ngaca aja, gue nggak mau pelanggan gue pada ilang nafsu makan liat lo." Ezz menarik Remon keluar restoran.


"Ada perlu apa?" Tanya Ezz dingin.


Remon menyulut sebatang rokok dan menghisapnya.


Ezz memasukkan kedua tangan ke saku celana, waspada. Baik Remon maupun Dewon sama-sama ancaman untuk Ezz.


"Gue mau bikin perhitungan sama lo!"


Ezz mendengus sinis. "Gue nggak ngerasa ada urusan sama lo. Lagian sejak kapan lo keluar dari penjara?"


"Sejak sebulan lalu. Dan gue langsung nyari lo. Gara-gara lo gue bangkrut!"


"Kenapa jadi salah gue? Lo kan sekap gue. Bahkan gue hampir mati karena markas lo kebakaran. Gue dikurung, diiket, gimana bisa lo bilang gue yang bikin lo bangkrut?"


"Pasti lo yang atur kebakaran itu?"


"Buktinya mana? Lo jangan cemen dong main nuduh nggak ada bukti."


Remon mengepalkan tangan emosi.


"Ini cuma akal-akalan lo kan? Pengen bikin rusuh bisnis gue? Lo butuh duit kan karena lo udah bangkrut dan diusir sama keluarga lo? Nggak usah pake cara basi."


Baru Remon mau buka mulut, Ezz angkat tangan.


"Jangan coba-coba ganggu gue." Ezz berbalik hendak pergi.


"Zella pacar lo kan?"


Langkah Ezz kontan berhenti.


"Gue tau yang sedang dia lakuin sekarang."


Ezz berbalik menatapnya tajam. "Ngomong apa lo? Dari mana lo kenal Zella?"


"Anak buah gue ada yang lebih dulu keluar dari penjara dan sekarang jadi anak buah Zella. Dan dia lagi jalani bisnis besar-besaran."


Bisnis?


"Dan kalau lo pengen tau, pantengin aja berita. Gue yakin nggak lama lagi bakal meledak."


Perkataan Remon tak ditanggapi Ezz.


"Gue nggak peduli. Pergi lo dari sini dan jangan coba-coba ganggu bisnis gue." Ezz berbalik masuk restoran.


Remon mendengus dingin dan berbalik pergi dengan motornya.


***