
Taksi yang ditumpangi Gunadi berhenti di depan rumah.
Setelah menurunkan barang-barang, taksi pun pergi.
Gunadi celingukan bingung.
"Pak Iyo dan Pak Tejo ke mana? Kok sepi? Lah ini motor siapa?"
Heran melihat motor diparkir sembarangan di depan rumah.
"Siapa yang datang malam-malam begini?"
Ia segera masuk rumah, makin heran pintu tak dikunci.
"Halo Pa..."
Gunadi terkejut dan tersenyum lebar. "Eh sayangnya Papa." Segera memeluk putri kesayangannya, yang dikira Zolla.
"Gimana keadaan cucu Papa? Kamu udah periksa kandungan ke tempat Nagisa? Oh ya Papa dan Nagisa sudah menentukan akan menikah setelah cucu-cucu Papa sudah lahir."
Kontan pelukannya terlepas, ia heran putrinya memandangnya tajam.
"Papa mau nikah lagi? Aku kan nggak pernah setuju Papa nikah lagi?"
Gunadi mengerutkan kening, heran. "Kenapa Nak? Kemarin-kemarin kamu setuju. Kamu juga sudah dekat dengan Nagisa. Dia perempuan baik."
"Nggak ada yang baik! Semua cuma pengen harta Papa! Dan aku nggak akan biarin itu.."
Gunadi terdiam, mulai curiga. Melihat tatapan matanya, ia tercekat.
"Zella anak Papa?"
"Iya, kenapa? Papa nggak ngenalin anak Papa sendiri?"
Gunadi sungguh shock apalagi melihat rumah berantakan tak karuan.
"Kenapa berantakan begini?"
"Aku berubah pikiran Pa. Sekarang juga Papa kasih semua aset sama aku. Baru Papa boleh nikah lagi."
"Apa??"
"Papa lupa ya perjanjiannya?"
Gunadi sungguh geram melihat tingkah putrinya yang pembangkang ini.
"Perjanjian apa maksud kamu?'
Zella mendengus dingin. "Papa nggak usah berlagak lupa. Papa suruh aku nikah sama Kak Ezz demi keegoisan Papa! Dari dulu Papa selalu kekang aku! Sekolah, kuliah, semua Papa yang tentuin tanpa tanya pendapatku dulu! Bahkan Papa nyuruh aku nikah sama Kak Ezz untuk jaga nama baik Papa aja. Cuma karena Kak Ezz itu pengusaha sukses, sehingga Papa bisa dengan bangga memamerkan punya menantu sukses. Papa terlalu egois!"
Tangan Gunadi terkepal menahan agar tidak melayangkan tamparan pada wajah putrinya.
"Dan Papa mau balik nama aset atas namaku. Aku nggak bisa nunggu. Balik nama aset itu sekarang juga. Kalau Papa mau cucu Papa lahir dengan selamat."
Ancaman Zella sungguh membuat Gunadi berang.
"Keterlaluan kamu Zella! Papa berubah pikiran dengan apa yang sudah kamu perbuat! Papa tidak akan memberikan sepeser pun harta Papa untuk kamu."
"Maksud Papa apa sih??"
"Karena lo udah tega sembunyikan keberadaan saudara kembar lo dari Papa."
Zella terkejut begitu Ezz muncul bersama Zolla.
"Kenapa? Lo kira gue nggak akan ngenalin lo? Asal lo tau, kita udah cerai dan gue udah menikah dengan Zolla secara resmi. Lo coba kibulin gue, mana bisa. Kalian mungkin mirip, tapi sifat kalian berbalik."
"Eh lo! Lo buka rahasia ya! Emang cewek br*ngsek lo!" Maki Zella pada Zolla.
Ezz mengeratkan genggaman tangan Zolla memberi kekuatan.
Zolla menatap Zella yang penuh kemarahan.
"Cukup, Zella. Sudahi ini semua. Papa sudah menyesali terlalu mengekang kamu. Aku dan Papa berharap kita berkumpul lagi."
Zella mengepalkan tangan emosi. "Lo ingkar janji! Lo sama nyokap sama aja! Semua nggak ada yang peduli sama gue!!"
"Zella..." Zolla berusaha membujuk saudara kembarnya. "Berapa kali aku bilang, Ibu nggak kayak gitu. Ibu peduli sama kamu. Tapi kondisinya Kakek butuh kamu..."
"DIEM!!!" bentak Zella.
"Zella jangan bentak-bentak Zolla!" Sentak Gunadi. "Papa kecewa sama kamu. Semua yang Papa lakukan demi kebaikan kamu, tapi kita terlalu minim komunikasi sehingga semua ini terjadi. Tapi itu bukan alasan kamu melakukan ini semua! Menyembunyikan Zolla demi harta warisan tidak terbagi, mengancamnya akan mencelakai Papa, sampai mempermainkan pernikahan. Papa sungguh kecewa! Kamu sungguh serakah dan tamak! Dan Papa berubah pikiran akan mengalihkan semua aset Papa untuk Zolla dan cucu-cucu Papa."
Tubuh Zella bergetar mendengar keputusan ayahnya.
"Lo harus tanggung jawab atas perbuatan lo, Zella. Lo itu pimpinan sindikat pengedar uang palsu. Semua komplotan lo udah ditangkap."
"Akkkhhhh..." Zella meringis memegang perutnya.
"Zella!" Zolla kontan melepas tangan Ezz dan menghampiri Zella. "Kamu kenapa? Perut kamu sakit?"
Zella berkeringat dingin.
"Kak, biar aku bantu Zella."
"Jangan sayang, nanti kamu diapa-apain sama dia!" Cegah Ezz.
"Zella nggak akan sakiti aku, Kak. Biar aku bantu dia. Aku juga akan bicara sama dia. Kakak percaya sama aku."
Meski masih ragu, namun Zolla berusaha meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja.
Zolla menghampiri Zella dan memegang perutnya.
"Zella..."
Tak diduga, Zella menarik tangan Zolla dan memutarnya ke belakang punggung.
"Zella!!"
"Zolla!!"
"Berhenti! Jangan ada yang coba-coba maju atau gue patahin tangannya!" Bentak Zella meremas tangan Zolla yang kesakitan.
"Zella, jangan sakiti Zolla!" Gunadi memegang dadanya yang sakit.
"Papa..."
"Berisik! Ikut gue sekarang!" Zella menyeret Zolla naik tangga.
"Ezz, tolong anak-anak Papa.." Gunadi terduduk lemas.
"Iya Pa, serahin sama aku.."
Ezz berusaha lebih tenang karena keselamatan Zolla dipertaruhkan.
***