
Hari minggu, Gunadi dan Nagisa sedang bermain bersama Zayn dan Zayden di gazebo.
Mereka sudah melakukan akad nikah.
Nagisa pun paham Gunadi masih memikirkan Zella hingga menunda pesta resepsi.
Si kembar tampan itu sudah berumur 3 bulan sangat sehat dan menggemaskan.
"Nanti di resepsi pernikahan kita Zayn sama Zayden pake setelan jas juga kayak Mas, gimana?" Nagisa sungguh gemas mengecup pipi Zayden berkali-kali.
"Tapi ukuran untuk bayi memangnya ada?" Gunadi mengusap pipi Zayn yang mulai mengantuk.
"Ya dibuat dulu. Nanti aku pesan di butik langgananku. Pasti lucu." Nagisa menerawang sejenak. "Aku jadi teringat Fano, Mas."
Gunadi sudah tahu tentang Fano, putra Nagisa yang sudah meninggal sejak bayi. Padahal Fano satu-satunya yang ia miliki. Karena setelah melahirkan Fano, Nagisa mengalami kerusakan rahim hingga diangkat dan tidak bisa mengandung lagi. Fano meninggal karena sakit di usia 8 bulan. Karena itu juga Nagisa ditinggalkan oleh mantan suaminya yang memutuskan menikah lagi untuk mempunyai anak.
"Kalau Fano masih hidup, sekarang mungkin dia sedang wisuda dan jadi sarjana, Mas. Atau mungkin jadi insinyur." Air mata Nagisa menitik, Gunadi langsung merengkuh tubuhnya merapat.
"Jangan disesali. Fano udah tenang dan nggak mau lihat mamanya sedih."
Nagisa merebahkan kepala di bahu Gunadi. "Karena itu aku menikmati profesiku, membantu setiap wanita yang melahirkan, rasanya kerinduanku pada Fano terobati Mas. Dan sekarang aku melihat Zayn dan Zayden, rasanya..."
"Mereka kan cucu kamu, sayang. Aku nggak perlu kasih Zayn dan Zayden Om kan. Cukup mereka tumbuh sehat, menemani hari tua kita. Itu udah lebih dari cukup. Aku udah pernah melakukan hal bodoh dengan menyia-nyiakan istriku dulu. Maka aku akan menebusnya. Menjaga anak dan cucuku, menyayangi mereka. Kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran."
"Iya Mas. Lalu bagaimana dengan Zella?" Tanya Nagisa membuat Gunadi murung lagi.
"Kondisi Zella semakin buruk. Dia terpukul kehilangan anaknya. Aku mengajukan agar membawa Zella pindah ke luar negeri. Suasana baru mungkin bisa memicu kesembuhannya. Membuatnya perlahan melupakan kesedihannya. Tapi pengajuanku ditolak karena Zella masih dipantau polisi."
"Yang sabar ya Mas. Zella pasti sembuh. Aku pun akan sering menjenguk dia agar dia mau menerimaku."
"Iya. Aku tak henti berdoa agar kita bisa kumpul lagi dengan Zella."
Muncul Bi Inah membawa 2 cangkir teh.
"Silahkan Bu, Pak.. teh nya." Bi Inah meletakkan cangkir di meja.
"Terima kasih Bi. Di mana Zolla dan Ezz?"
Bi Inah mesem-mesem. "Lagi sibuk di kamar, Pak." Barusan saja Bi Inah masuk kamar sambil tutup mata membawakan keranjang baju si kembar, gara-gara orangtua si kembar sedang hot-hotnya ciuman di atas sofa.
Gunadi dan Nagisa kontan terkekeh. Pantas saja pagi-pagi dengan sukarela memberikan si kembar pada mereka, ternyata eh ternyata...
***
Suara barang berjatuhan menggema dari kamar Zolla dan Ezz.
Ezz begitu kesetanan meminta jatah ranjang pada Zolla yang jarang didapatkannya karena si kembar begitu posesif pada ibunya.
"Euuhh Kak..." Zolla kelimpungan begitu sesak dihujam senjata suaminya.
"Kamu nggak bisa lepas hari ini, sayang!! Jangan harap kamu bisa jalan sendiri!" Ezz begitu barbar menghajar kewanitaan istrinya.
"Kaaakk hati-hati Zayn sama Zayden masih pada bayi..." Zolla melengkungkan tubuhnya membuat Ezz makin menggila.
"Kita bisa kasih banyak adik buat mereka." Perkataan Ezz disambut pelototan Zolla.
"Enak aja aku yang ngelahi... Euuuuhhh ouucccccccchhh... Kaaakkk..."
"Mau nolak? Aku nggak akan biarin kamu istirahat, sayang.."
Akhirnya Zolla pasrah saja kalau bibit Ezz membuahinya lagi.
"Kali ini kita bakal dapat kembar 3, sayang."
Zolla menoleh dengan wajah berkeringat. "Kembar 3? Tau dari mana?"
"Aku kan keluarin 3 kali. Pasti semuanya jadi."
Plakkk...
"Duuhh sayang mulai KDRT nih.."
"Lagian enteng banget nyuruh hamil. Kakak aja sana yang hamil."
Ezz terkekeh istrinya merengut.
Zolla turun dari ranjang dan meringis. Ezz benar-benar membuktikan ucapannya, untuk membuat Zolla tak bisa jalan sendiri. Pangkal pahanya begitu nyeri.
Ezz langsung sigap menggendong istrinya ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
"Kak Ezz semangat banget pengen punya anak lagi."
"Ya kan cuma kita yang bisa kasih keturunan keluarga, sayang. Tuntutanku berat lho, aku harus kerja keras supaya keturunan keluarga Papa Gunadi dan Bapak Praja lahir."
Zolla cemberut. "Kakak kan cuma ngedorong aja. Aku yang ngelahirin."
"Iya sayang, ini juga perlu kerja keras. Nih ya untuk masak makanan enak aja banyak prosesnya. Bahan makanan yang bagus, chef handal, sampai teknik memasak yang ahli. Sama aja dengan usahaku. Aku sehat, bibitku bagus, dan pastinya banyak teknik untuk puasin kamu."
"Iihhh Kakak nyamain anak sama makanan.."
"Kan perumpamaan aja, sayang. Kamu juga suka kan? Nih sampai banyak bekas cakar dari kamu."
"Emang enak?"
"Enak banget. Lagi yuk?"
"Iihhhhhh..... Nakal!"
Mereka tertawa geli sambil membersihkan tubuhnya.
***
Baru saja keluar dari kamar, Ezz mendengar telepon rumah berbunyi.
Segera ia menjawab.
"Halo?"
"Dengan Pak Gunadi?"
"Dengan siapa saya bicara?"
"Kami dari MT Hospital."
"Ohh ada apa? Saya anaknya." Perasaan Ezz tak enak karena rumah sakit tempat Zella dirawat tiba-tiba menelepon.
"Kami harus mengabarkan..."
Ezz mendengarkan dan terkejut sambil memandang ke arah gazebo dimana Gunadi dan Nagisa sedang bercanda tawa dengan si kembar.
***