
🌼 Maharani
Cantik.
Hanya satu kata itu yang otomatis muncul di otakku begitu melihat foto seorang selebgram dari HP Rumi. Melihat air mukanya. Pancaran sinar dari netranya. Senyumannya. Gesture tubuhnya. Semua yang nampak di foto itu adalah aura kebahagiaan. Tidak terbantahkan. Dan kebahagiaan itulah yang membentuk pancaran kecantikan seorang wanita kian terang benderang.
"Kalau mau melihat-lihat foto yang lain gimana caranya, Rum?" tanyaku. Semakin penasaran dengan sosok yang menurutku 'sempurna' ini.
Rumi memberi tahuku, "Digeser-geser begini, mbak.."
Aku mengangguk dan langsung mempraktekkan sesuai petunjuk Rumi.
Semakin digeser yang tampak hanya kecantikan demi kecantikan seorang bernama Biani Andrea. Foto-foto yang dipajang lebih banyak ditujukan untuk media promosi produk. Ada juga beberapa foto Biani bersama temannya, foto bersama dengan teman sekantor, video bermake up, video seru-seruan lainnya. Dunia yang sangat menyenangkan.
Wajah Biani Andrea ini seperti pernah kulihat, tapi entah dimana. Terasa tidak asing, tapi... Siapa? Aku benar-benar tidak ingat. Mungkin benar kata mereka. Wajahnya memang sudah banyak bertebaran dimana-mana. Mungkin pernah kulihat di suatu tempat namun hanya sekelebat dan sudah terlupakan.
Rumi juga menunjukkan profil instagram Biani. "Tuh, sekarang di bio nya ditulis 'A wife of @pratamaaaze' . Udah nikah beneran berarti.."
Lamat-lamat kubaca bio yang tertera di profil instagram wanita itu.
Biani Andrea
✨ Head finance consultant of PT. AKP
✨ Brand Ambassador of XX Beauty (sebuah brand skincare kenamaan)
✨ A happiest wife of @pratamaaaze
contact person 081xxx
"Keren kan dia mbak?" tanya Rumi. Sepertinya dia mengamatiku sedang mengupas tuntas seorang bernama Biani.
Aku mengangguk seraya tersenyum. Jujur, aku kagum. Wanita itu tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan berkepribadian menarik. Terlihat dari banyak foto dan video yang di posting, banyaknya like dan komentar positif orang-orang, wanita ini terlihat sangat pantas mendapatkan semua kekaguman itu. Kalau aku manusia yang tinggal di bumi, maka jelas Biani adalah seseorang yang tinggal di khayangan. Berada jauh di atasku. Sulit tergapai oleh gadis desa sepertiku.
"Ranii...." sapaan seseorang membuatku terkesiap.
"Dian."
Aku bangkit dari dudukku. Menghampiri Dian, sahabatku. Dian tampil cantik dengan setelan formal blazer dan rok sepan di atas lutut warna peach. Menyatu dengan kulit putih bersihnya. Sepatu pantofel berhak rendah dan tas warna coklat. Sangat modis.
Jangan lupakan aroma parfum semerbak mewangi yang sudah tercium semenjak tadi jarak kami terbentang 5 meter jauhnya.
Kembali aku melihat tampilan lusuhku yang memakai celana kain potongan longgar dan kemeja bergaris yang jauh dari poros fashion. Ya Allah.. Aku ada di belahan dunia mana?
Pikiranku nyalang berkelana pada Mas Eza di kota Surabaya. Teman-teman kantornya pasti berpenampilan tak jauh beda dengan Dian saat ini. Mungkin banyak juga yang berpenampilan bak bidadari dunia macam Biani. Tidakkah mas Eza tergoda?
"Ranii.. Lama banget kita ga bertemu...." sapa Dian membuyarkan lamunanku. Dian mengulurkan kedua lengannya untuk memelukku.
"Hmm..." aku tersenyum seraya membalas pelukannya. Beruntung aku punya sahabat kecil yang tak pernah memandangku sebelah mata. Padahal jelas-jelas penampilan kami berbeda bagai bumi dan langit.
"Bu Dosenku ini pasti sibuk banget.." cicitku.
"Hahahaa.. Ya gitu lah Ran.. Biasa.. Taun ajaran baru..." Dian melirik tiga orang di belakangku. Grup rumpi yang baru saja kutinggalkan. Rumi, Tia, dan Sari.
"Temenin aku makan di cafe depan sana yuk Ran.."
"Ayo..."
Kebetulan. Aku butuh teman curhat untuk meluapkan kegundahanku yang rancu pemicunya apa. Kecantikan seorang Biani Andrea kah? Penampilan modis Dian kah? Baju lusuh yang kupakai kah? Atau pikiran lancang yang cemburu pada cewek-cewek kota di sekitar mas Eza?
Kami berakhir duduk di bangku cafe dekat dengan supermarket tempatku bekerja. Dian memesan capcay goreng, sedangkan aku hanya es cappucino. Baru saja makan siang di pantry membuat perutku enggan terisi makanan lagi.
"Kamu tau selebgram yang namanya Biani Andrea gak Di?" tanyaku sekonyong-konyong menanyakan orang lain. Bukannya bertanya kabar Dian lebih dulu...
"Weh... Ada angin apa tiba-tiba kamu nanyain selebgram? Jangan-jangan nyonya Eza ini udah melek sosial media ya?" ledek Dian.
"Tadi sama Rumi, Tia, dan Sari ngomongin orang yang bernam Biani itu."
"Oh... Engga kenal sih. Cuma tau aja.." jawab Dian. "Panggilannya Bian. Guru besar di kampusku langganan konsul audit keuangan sama dia. Bian juga pernah satu kali jadi dosen tamu di kuliah umum di kampusku. Tahun lalu kalau ga salah.."
"Oh.." sungguh aku tak tahu harus bereaksi apa. Beberapa kata yang diucapkan Dian tidak kumengerti artinya.
"Hmm.. Bian kasih materi singkat gitu soal enterpreunership. Maklumlah.. Dia itu udah kerja kantoran, foto model endorse-an juga. masih juga ngurusin anak-anak jalanan yang kurang edukasi. Ngasih edukasi CaLisTung gratis tis tis.. Malah anak-anak yang ikut sekolah dikasih makan siang sama dia.. Salut aku."
Aku melongo saja mendengar Dian menjabarkan kualifikasi seorang Biani Andrea.
"Bahkan langkah Bian itu sekarang diikuti sama beberapa mahasiswaku juga loh Ran.. Bikin EduCamp. Sama persis konsepnya niru sekolah harapan-nya Bian di Surabaya. Cuma masih pemula, jadi anak didiknya masih itungan jari."
Aku mengangguk-angguk saja.
Oh, tunggu. Sekolah harapan? Se-ko-lah Ha-ra-pan?? Ya aku ingat. Sekolah harapan yang sering diceritakan mas Eza. Sekolah anak-anak jalanan. Mas Eza juga pernah cerita kalau sesekali kalau ada waktu mas Eza juga ngajar menggambar di sekolah harapan itu.
Pantas aku seperti pernah melihat Bian. Mas Eza pernah sesekali menunjukkan foto kegiatan sekolah harapan.
Ya Allah.. Berarti mas Eza kenal Bian??
"Ehm.. Dian, ajarin aku bikin akun instagram dong.."
"Cincay.. Dengan senang hati Ran..."
Perasaan apa ini ya Allah..? Memangnya kenapa kalau mas Eza kenal sama Bian? Aku ga seharusnya kepikiran ga jelas begini. Aku ga seharusnya ketakutan tanpa dasar apapun.
Tanpa dasar? Benarkah tanpa dasar?
Bukankah personality Bian sudah menjadi dasar yang sangat kuat untuk dicemburui? Bian yang cantik, anggun, baik hati, berpendidikan, berwawasan luas.. Benarkah mas Eza tak tertarik dengannya jika mereka kerap berinteraksi langsung?
Ah, engga.. Mas Eza lelaki sholeh yang taat agama, baik, dan lembut hatinya. Ia tidak akan menodai pernikahan kami. Ya, aku percaya.
Semoga........
......................
🌼 Happy Reading