
Sindikat pengedar uang palsu beraksi makin berani di kota-kota besar. Korban berdatangan ke kantor polisi membuat laporan penipuan.
Di dalam mal, toko elektronik milik pamannya Oka, semua karyawan kena marah.
"Apa-apaan ini?? Ini semua uang palsu! Kalian semua punya mata tidak??"
Oka yang baru datang mengantar barang, terkejut melihat suasana toko memanas.
"Om, ada apa ini?" Oka bingung melihat semua karyawan menunduk gemetar.
Rudi sang pemilik toko makin berang melihat Oka. "Ke mana kamu barusan?? Suasana toko kacau! 10 unit iPhone raib! Gara-gara semua nggak becus kerja!"
Oka terkejut. "Aku habis mengantar barang yang Om minta. Maksudnya toko kita kerampokan, Om? Kok bisa?"
"Tanya aja tu sama orang-orang buta nggak bisa bedain uang asli sama palsu!" Umpat Rudi sambil masuk ruangan penuh amarah.
"Apa bener? Gimana ceritanya?"
Para karyawan saling pandang, takut.
"Lo aja yang cerita."
"Ino, cerita sekarang!"
Takut-takut Ino bicara. "Barusan ada yang datang, Mas. Ngakunya dari perusahaan mau ngadain event untuk door prize dan dia beli 10 unit iPhone lengkap dengan aksesoris original. Dia bayar pake uang tunai. Kami nggak ada yang curiga karena dia mengaku dari perusahaan perbankan dan hanya diberi uang tunai untuk membeli hadiah. Jumlahnya lebih dari 100 juta rupiah Mas. Dan ternyata semuanya uang palsu."
"Astaga! Kok bisa kalian ceroboh gitu??"
"Maaf, Mas. Soalnya uangnya seperti asli."
"Mana uangnya?"
Ino memberikan uang pecahan 100 ribu rupiah senilai lebih dari 100 juta rupiah.
Oka meraba-raba lembaran uang itu. Memang uangnya terlihat asli, ukuran, hingga cetakannya. Hanya lembaran uang lebih kasar dari uang asli.
Gila bener bisa bikin barang sebagus ini! Batinnya.
Terdengar keributan dimana-mana hingga security berdatangan.
"Ada apa ini?"
Para karyawan toko Rudi keluar toko mencari tahu apa yang terjadi.
"Mas, ternyata toko seberang dan sebelah Utara semua jadi korban juga. Sebentar lagi polisi akan memeriksa semua."
Oka geleng-geleng kepala. Gila! Sindikat ini semakin keterlaluan!
"Mas, ada satu yang tertangkap sekarang dibawa ke ruang security." Salah satu karyawan Rudi memberi info.
"Gue ke sana dulu." Oka bergegas menuju ruang security.
Ada seorang pria berusia sekitar 19 tahun, berwajah lurus saja. Membawa sekantong penuh uang pecahan 100 ribuan.
"Orang ini dicurigai karena mau membeli 20 unit smartphone dengan harga lebih dari 250 juta rupiah dengan uang tunai. Terlalu mencurigakan."
Para security kebingungan menginterogasi karena pria itu tidak berbicara sepatah kata pun. Bahkan kesaksian dari pemilik toko yang melaporkan, pria ini hanya memberikan catatan hendak membeli unit smartphone.
Oka makin curiga begitu polisi datang dan membawanya ke kantor polisi sebelum dihakimi massa.
***
"Gue ngerti sekarang. Sindikat ini rekrut anggota baru yang mempunyai kekurangan fisik."
Ezz, Reno, dan Wahyu kontan bingung dengan kalimat pembuka Oka. Darurat mereka berkumpul di restoran Ezz begitu mendengar sindikat beraksi di mal-mal besar Jakarta.
"Maksudnya punya kekurangan fisik?"
"Jadi gini, barusan salah satu sindikat itu tertangkap karena sangat mencurigakan ingin membeli puluhan unit smartphone dengan harga lebih dari 250 juta rupiah dengan uang tunai. Tapi menurut pemeriksaan fisik, pria ini penyandang disabilitas. Dia tunawicara alias nggak bisa bicara."
Semua berpikir, kebingungan.
Mata Ezz membulat lebar. "Wait! Maksud lo, anggota baru sengaja dicari yang disabilitas supaya terhindar dari interogasi? Supaya mereka nggak bisa buka mulut tentang sindikat ini?"
"Kayaknya itu tujuannya! Nih lo semua liat deh, uang yang mereka buat hampir sama dengan yang asli."
Semua mengambil lembaran uang yang dibawa Oka dan meraba-raba lembaran.
"Kalau sekilas memang nggak bisa dibedakan ini asli apa palsu. Tapi teksturnya agak kasar. Penggunaan tintanya dan hasil cetakannya nyaris sempurna." Ezz membolak-balik lembaran uang itu. Benar seperti asli.
Reno sungguh emosi. "Tapi mengenai penyandang disabilitas ini yang gue nggak habis pikir mereka terjunin buat ngedarin uang palsu. Sindikat ini nggak beroperasi selama beberapa bulan untuk rekrut anggota baru yang tunawicara."
"Br*ngsek! Mereka pake cara begini, supaya anggota yang ketangkep nggak bisa bocorin apa-apa!" Wahyu sungguh geram. "Lo tau satu hal, toko perhiasan emas Tante gue yang di daerah Bogor juga digasak sama mereka. Mereka beli perhiasan emas senilai lebih dari 300 juta rupiah dan bawa kabur emas-emasnya setelah kasih uang tunai palsu. Tante gue sampai masuk rumah sakit karena semaput ketipu begitu."
"Ini nggak bisa dibiarin! Kita harus cepat ringkus mereka sebelum makin banyak korban!" Ezz mengusap pelipisnya memikirkan cara.
Tiba-tiba pintu diketuk.
"Masuk!"
Pintu terbuka, Yono masuk dengan wajah agak tegang.
"Ada apa No?"
"Mas, laki-laki yang Mas tunjukan fotonya sama saya, ada di luar, Mas." Laporan Yono membuat Ezz terkejut.
"Siapa, Ezz?" Tanya Reno.
"Foga."
Semua tercekat dan mengintip dari jendela.
Benar Foga ada di salah satu meja, sedang fokus dengan HP nya.
"Dia sendirian?" Tanya Ezz.
"Sendirian, Mas. Dia cuma order untuk take away."
"Apa yang dia order?"
"Nasi goreng seafood, Mas."
Ezz segera memeriksa CCTV yang mengarah pada parkiran restoran.
"Gue yakin dia pesen nasi goreng seafood buat Zella. Gue mau periksa dia pakai kendaraan apa ke mari."
Semua memperhatikan layar laptop.
"Ezz, dia datang pake mobil hitam itu. Sebaiknya kita ikutin."
Ezz menggeleng. "Jangan. Gue yakin dia waspada kalau diikutin. Oka, bisa lo pasang alat pelacak GPS di mobilnya?"
"Bisa. Tapi tahan dia selama mungkin di kasir. Kalau sampai uang palsu yang dia gunain buat transaksi, GPS ini akan nunjukin ke mana dia pergi."
***
Foga merogoh saku dan mengeluarkan dompet.
"Mas pernah datang ke mari ya?" Tanya Ratih.
"Belum pernah." Foga mengeluarkan 2 lembar uang 100 ribuan.
Ratih menerima dan mengajak bicara lagi.
"Saya paling hafal lho kalau yang pernah datang ke mari. Mas nya pernah makan di sini kan."
Foga mendengus kesal. "Buruan kembaliannya!"
"Iya iya Mas, judes bener." Ratih memberikan struk makanan dan kembalian.
Foga mengambil kantong makanan dan berjalan keluar restoran dengan wajah dingin.
Langsung saja Ezz keluar ruangan dan segera menuju meja kasir.
"Mana uang yang tadi dia kasih?"
"Ini Mas." Ratih memberikan 2 lembar uang yang diberikan Foga barusan.
Ezz memeriksa dan meraba-raba lembaran uang, lalu tersenyum menyeringai.
"Gimana, Ka? Udah dipasang kan?" Tanya Ezz begitu kembali ke ruangan.
"Udah. Gue udah pasang di mobilnya dan sekarang dia bisa terpantau ada dimana." Oka memperlihatkan layar laptop.
"Fix dia terlibat. Uang yang dia pake untuk transaksi ini uang yang sama, dan itu palsu."
***
Kasus pengedaran uang palsu makin viral.
Berita disiarkan berulang-ulang agar masyarakat waspada.
Sesuai dugaan, ada 3 orang tertangkap. Semuanya penyandang disabilitas, tunawicara.
Kondisi yang tidak sehat membuat sulit mengorek informasi dari mereka.
Berita yang disiarkan menarik perhatian Gunadi yang sedang makan malam bersama dengan Zolla, Ezz, dan Nagisa.
"Pengedaran uang palsu ini bahaya. Istri teman Papa yang punya toko emas semua jadi korban." Komentar Gunadi.
Zolla diam saja cemas jika Zella ketahuan.
"Pasienku ada yang sampai keguguran karena stress tertipu menjual mobil, Mas." Nagisa menambahkan.
"Sindikat ini harus dihukum berat supaya jera."
"Ngg Pa, aku mau disuapin sama Papa..." Zolla mengalihkan pembicaraan.
"Kok sama Papa? Suami kamu lebih dari sanggup nyuapin sampai mandiin kamu, sayang.." kata Ezz langsung kena cubit di tangan.
"Ihh Kak, ini tuh yang minta cucu-cucu Papa. Pengen disuapin sama kakeknya."
"Waduh cucu-cucu Papa udah manja aja. Sini Nak, Papa suapin.."
Ezz dan Nagisa senyum-senyum menyaksikan Zolla bermanja-manja dengan Gunadi.
Walau sebenarnya Ezz tahu betul Zolla menghindari perbincangan tentang sindikat itu.
Setelah makan malam, Gunadi bersama Zolla dan Nagisa mengobrol di ruang tengah. Sementara Ezz memutuskan duluan ke kamar untuk menghubungi teman-temannya.
Ezz melakukan sambungan video call dengan ketiga temannya.
"Halo, gimana? Ada perkembangan?" Tanya Ezz langsung.
"GPS berhenti di sekitar hutan mengarah ke Puncak. Sudah 2 jam nggak berpindah posisi. Gue rasa ini markas mereka."
"Ezz, kita grebek markas mereka sekarang!"
"Sabar, No. Jangan gegabah. Kalau pun kita ke sana, kita harus intai dulu dan ambil bukti sebanyak mungkin."
"Nggak ada sabar lagi, Ezz. Sindikat ini makin kelewatan! Malam ini juga, kita bergerak!"
Ezz tak ada pilihan selain ikut bersama teman-temannya untuk menghentikan sindikat ini.
Meski begitu, ia tidak ingin membuat Zolla khawatir.
"Lho Kakak mau ke mana malam-malam begini?" Tanya Zolla yang baru masuk kamar.
"Aku mau ke rumah Wahyu, sayang. Tantenya baru keluar rumah sakit, dan kami mau tanya tentang kasus perampokan di toko emasnya." Ezz memakai jaket.
"Oh ya keadaannya udah membaik Kak?" Zolla membantu merapikan kerah baju Ezz.
"Cuma masih shock. Tante Nagisa udah pulang?"
"Baru aja pulang diantar Papa. Papa sama Tante Nagisa serius lho Kak. Tapi masih malu-malu aja."
"Yang penting Tante Nagisa baik, sayang sama Papa, sayang sama kamu, itu udah cukup. Jangan terlalu banyak nuntut kalau nggak mau kecewa."
"Buat aku yang penting Papa bahagia." Zolla memeluk leher Ezz sambil menatapnya serius. "Jangan macem-macem lho di luar."
Ezz terkekeh dan melingkarkan tangannya di pinggang Zolla. "Macem-macem apa, sayang?"
Zolla merengut. "Tadi siang aku nonton sinetron. Suaminya selingkuh pas istrinya hamil, katanya istrinya jadi gendut dan nggak menarik."
Kontan Ezz tertawa dan menciumi kedua mata Zolla. "Makanya jangan nonton yang bikin over thinking. Bikin kamu mikir berlebihan. Itu kan cuma film. Percaya dong sama suami kamu. Cintaku udah keiket mentok cuma sama Zolla Elisa Putri."
Senyum Zolla mulai mengembang. "Iya, Kak. Hati-hati ya. Langsung pulang kalau udah selesai."
"Iya sayang." Ezz berlutut di depan perut Zolla yang membuncit dan mengecup perutnya berkali-kali. "Ayah pergi dulu ya, sayang. Baik-baik sama Ibu."
Zolla tersenyum mengusap rambut Ezz.
Ezz berdiri dan mengecup kening Zolla. "Aku pergi dulu ya.." lalu mengecup bibir Zolla 3 kali. "Langsung tidur. Jangan nonton-nonton sinetron yang bikin kamu curiga sama suami kamu."
"Iya Kak. Aku juga udah ngantuk kok."
Begitu Ezz pergi, Zolla langsung berbaring sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Zella, aku tau yang kamu lakuin itu salah. Aku harap kamu berhenti melakukan tindakan kriminal. Gimana pun juga, kamu itu saudaraku."
Tak lama ia terlelap.
***