
Berita terkait pengedaran uang palsu, viral disiarkan di berbagai chanel berita dan media sosial.
Namun sindikat ini bermain profesional sehingga jejaknya sulit dilacak. Terutama karena korban terlambat melapor lama menyadari itu uang palsu.
Malam itu, mereka berlima memutuskan makan malam di luar hotel sambil membahas tentang masalah ini.
Di kafe, hidangan lezat memenuhi meja. Namun Ezz melarang keras ada hidangan yang mengandung seafood, menjaga kesehatan Zolla.
Zolla yang tak paham, asyik makan sambil mendengarkan saja yang dibicarakan Ezz dan teman-temannya.
"Ezz, gue udah lacak keberadaan Zella. Dia ada di sekitar hutan di Bandung Barat." Lapor Oka.
"Bandung Barat? Udah ketemu titik tepatnya?"
"Itu dia. Gue rasa dia ada di tempat terpencil yang minim sinyal. Gue nggak bisa lacak lokasi tepatnya. Karena itu kawasan hutan dan terpencil."
"Tapi gue curiga kayaknya sindikat pengedar uang palsu ini ulahnya dia."
Zolla yang sejak tadi diam, mulai buka suara.
"Mungkin benar Zella pelakunya."
4 pasang mata kontan memandangnya.
"Maksud kamu apa, sayang?" Tanya Ezz.
Zolla meletakkan sendok dan meneguk minumannya sedikit.
"Dulu waktu aku ditemukan sama dia, aku diasingkan ke rumah terpencil di kawasan hutan. Kawasan itu terbengkalai, banyak bangunan yang telantar. Waktu aku lagi mengubah penampilan seperti Zella, aku dengar Zella berbicara di telepon dengan laki-laki bernama Foga."
"Siapa Foga itu?"
"Setahuku, dia teman dekatnya Zella. Setiap bulan dia datang ke rumah untuk mengantar bahan makanan dan kebutuhan lain. Karena Zella nggak mau aku berbaur dengan masyarakat. Tapi setiap datang Foga nggak pernah banyak bicara hanya menanyakan bulan depan apa yang aku perlukan. Aku yakin Foga ini orang kepercayaan Zella."
"Terus, tadi kamu bilang dia nelepon Foga. Bicara apa?"
"Tentang rencana produksi, dan mengurus pembelian vila di kaki bukit. Aku dengar semuanya tapi aku nggak paham maksudnya. Tapi mendengar Zella minta bantuan. Aku pikir, lokasinya nggak jauh dari tempat tinggalku dulu."
Laporan dari Zolla membuat 4 pria di depannya berpikir keras.
"Dari percakapannya, ada dugaan mengarah ke sana, Ezz.." kata Reno. "Sebelum banyak korban, sebaiknya kita bertindak."
Ezz menggeleng. "Kita kan belum tau pasti. Harus cari bukti kuat. Kalau emang bener ini ulah Zella, dia harus tanggung jawab. Dia harus dipenjara."
Zolla langsung memegang tangan Ezz, raut wajahnya tegang.
"Jangan Kak. Jangan penjarain Zella."
Kontan semua menatap Zolla aneh.
"Kenapa? Dia udah jahat sama kamu. Dia pisahkan kamu dari Papa. Bikin kamu menanggung kesalahannya, dan sekarang dia melakukan kriminal yang merugikan banyak pihak."
Zolla menggeleng cepat matanya sudah berkaca-kaca.
"Dia saudara aku Kak... Aku nggak mau Zella dipenjara."
Semua langsung terdiam.
Air mata Zolla menitik mulai terisak. "Tolong Kak. Jangan biarin Zella ditangkap."
Ezz memeluk bahu Zolla berusaha menenangkannya.
"Ezz, mending lo sama Zolla balik duluan ke hotel. Zolla perlu istirahat." Kata Wahyu melihat wajah Zolla memucat.
"Iya. Gue duluan ya. Sayang, yuk kita balik ke hotel."
Zolla menunduk sambil mengikuti Ezz meninggalkan restoran.
"Salah langkah kita, bro. Harusnya kita jangan bahas tentang Zella di depan Zolla." Kata Reno menyesal melihat reaksi Zolla barusan.
"Iya. Gimanapun juga, mereka saudara kembar. Zolla perempuan baik. Mana tega dia liat saudara kembarnya dipenjara." Wahyu menambahkan.
Oka mengetuk-etuk jarinya di meja, berpikir jalan keluar. "Ya udah, urusan ini jadi urusan kita bertiga. Nggak perlu libatkan Ezz apalagi Zolla. Tugas Ezz cuma ngelindungin Zolla. Kita cari bukti keberadaan Zella. Kalau sampai terbukti dia dalang pengedaran uang palsu itu, baru kita runding sama Ezz, harus bertindak apa. Karena Ezz nggak akan bisa nyakitin Zolla."
Reno dan Wahyu membenarkan analisa Oka.
"Oke. Kita yang harus bertindak. Jangan sampai Zolla terlibat."
***
Sepanjang jalan menyusuri jalan Legian yang ramai penuh dengan pejalan kaki, Ezz memperhatikan Zolla yang diam saja.
"Sayang, kok diem aja? Mikirin apa?" Tanya Ezz akhirnya.
Zolla memalingkan wajah ke jalan. "Aku lagi mikir, kalau Zella tau sudah diceraikan Kak Ezz, dan sekarang aku yang menikah dengan Kak Ezz, apa yang akan dia perbuat?"
Ezz tersenyum kecil dan memeluk bahu Zolla. "Nggak usah dipikirin. Aku pastikan semua baik-baik saja. Kamu jangan banyak pikiran, sayang. Jangan sampai mikirin kamu jadi stres. Kita kan lagi bulan madu di sini, yang happy dong."
"Iya Kak."
"Ya udah kita ke hotel ya. Udah hampir jam 10 malem ini. Angin malam nggak bagus buat kita."
"Kak, kok udah makin malem malah makin rame di sini?"
"Ya kamu liat di depan banyak diskotik. Di sini turis kalau siang berjemur sama surfing di laut, kalau malam banyak yang clubbing."
Terdengar suara dentuman musik begitu Ezz dan Zolla melintas di depan diskotik.
"Ihh pasti berisik." Komentar Zolla.
"Kalo Zella sering ke diskotik. Tapi kalau kamu nggak akan betah di sana. Yuk jalan lagi."
Melewati minimarket, Zolla berhenti, Ezz ikut berhenti.
"Kenapa sayang?"
"Mau coklat." Rajuk Zolla membuat Ezz gemas.
"Tinggal bilang, nggak usah keluar gemesnya gitu dong." Ezz mencubit pipi Zolla pelan.
Berdua mereka masuk minimarket.
Zolla begitu gembira membeli coklat, bahkan ia membeli coklat bola warna-warni seperti kesukaan anak kecil.
Ezz tersenyum miris melihat Zolla.
"Dulu kalau Ibu telat pulang kerja, supaya aku nggak ngambek, Ibu selalu bawakan coklat begini." Zolla teringat Lisa dan tersenyum kecil memegang sebungkus coklat.
"Pasti enak. Kita beli semua aja coklatnya."
"Iihh jangan kebanyakan. Nanti sakit gigi."
"Kan udah makan bisa gosok gigi."
"3 bungkus aja cukup Kak."
"Nggak mau tambah yang lain?"
Zolla menggeleng.
Tak lama mereka keluar minimarket dengan kantong belanjaan penuh Snack.
"Kok jadi banyak gini belanjanya Kak?"
"Siapa tau kita mau ngemil tengah malem."
Begitu tiba di hotel, Zolla langsung masuk kamar mandi dan menguncinya.
Ezz menarik nafas berusaha meredam getaran hasratnya.
Udah jadi istri tapi gue nggak bisa nyentuh dia dulu. Dia pasti masih takut sama gue, batinnya.
Di kamar mandi, Zolla membasuh mukanya sambil menarik nafas dalam-dalam.
Kamu nggak boleh gini, Zolla. Kamu nggak boleh menghindar. Kak Ezz nggak akan nyakitin kamu, katanya menatap bayangannya di cermin.
Ezz berbaring di sofa sambil bermain game di HP-nya.
Wajahnya suntuk berat. Berusaha mengalihkan pikirannya dengan bermain game.
Zolla keluar kamar mandi mengenakan kimono handuk.
Ezz belum menyadari Zolla memperhatikannya.
"Kak Ezz."
"Hmm?" Ezz menjawab singkat tanpa menoleh.
"Bisa lihat ke mari?"
Ezz menggeleng. "Aku nggak mau kelepasan, sayang. Kalau lihat kamu, nanti kamu takut lagi sama aku."
Tiba-tiba Zolla membuka kimono handuknya dan menghempaskan ke lantai menimbulkan suara yang membuat Ezz menoleh.
Matanya melotot lebar melihat Zolla tanpa pakaian, kontan ia berdiri.
"Kamu...?"
"Aku siap melayani Kak Ezz. Bagaimanapun juga, kita udah suami istri."
Ezz sampai tak bisa berkata-kata, hasratnya memuncak, senjatanya menegang seketika.
"Kamu yakin? Aku nggak mau kamu terpaksa dan takut sama aku."
Zolla menggeleng dan mengulas senyum. "Aku nggak takut lagi. Karena aku yakin Kak Ezz sayang sama aku, dan nggak akan bisa nyakitin aku lagi."
Tanpa aba-aba langsung menarik Zolla mendekat dan mencium bibirnya begitu intens tanpa jeda.
Lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan meraba setiap lekuk tubuh Zolla.
***