Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Keguguran


"Zella lepasin, sakit! Kamu mau bawa aku ke mana sih??" Zolla berusaha meronta namun Zella makin kuat mencengkeram lengannya.


"Gue benci banget sama lo! Lo ingkar janji udah bongkar semua! Emang dasar bawa sial! Udah lo dirawat sama nyokap tanpa peduli gue, sekarang lo dateng buat ambil semua harta bokap!"


Plakkk...


Zolla merasa pipinya perih ditampar penuh kemarahan. Ia melihat sorot mata Zella begitu penuh dendam.


"Zella, tolong lupain semua. Kita sama-sama lagi hamil dan sebentar lagi kita punya anak."


"Punya anak? Ini anak cuma bawa sial! Gue nggak pernah mau punya anak. Kenapa? Karena gue nggak mau kasih kebahagiaan sama bokap! Selama hidup bokap nggak pernah bikin gue seneng, cuma kekang gue kayak binatang! Jadi gue nggak sudi liat bokap bahagia!"


Zella menyeret Zolla menuju balkon lantai atas.


Ezz berlari ke lantai atas. Namun langkahnya dihadang pria bertubuh kekar mengenakan jaket hitam.


"Jadi lo yang namanya Foga?" Ezz siaga, tatapan mengejek Foga membuat darah Ezz seketika mendidih.


"Lo yang namanya Ezz? Beraninya lo nyakitin Zella!"


Ezz tersenyum miring. "Karena dia udah berani nyakitin istri gue, Zolla."


"Lo nggak bisa hakimi Zella begitu! Dia jadi bersikap kasar gara-gara bokapnya!"


"Heh! Lo orang lain, jaga sikap lo! Ini urusan keluarga, dan orang luar nggak pantes ikut campur."


Foga langsung melayangkan tinjunya, Ezz cepat menangkis dan ...


Buakkkkk...


Foga terhuyung mundur, tendangan Ezz cukup membuat tubuhnya oleng.


"Br*ngsek lo!" maki Foga bangkit hendak menyerang.


"Cukup! Gue nggak ada waktu main-main sama lo. Gue cuma mau nyelametin istri dan anak-anak gue!"


"Gue juga mau selametin perempuan yang gue cinta dan anak gue!"


Keduanya saling serang, perkelahian pun tak terelakkan.


Vas bunga berjatuhan pecah terkena tendangan dan pukulan.


Foga tersudut ke dinding dan...


Jlebb...


Kaki Ezz menahan lehernya begitu kuat.


"Mending lo nyerah, kalo mau Zella selamat!"


"Uhuk uhuk... Zolla nggak akan selamat. Zella akan bunuh dia.." Foga terbatuk-batuk begitu Ezz menarik kakinya.


Dan...


Buaakkkkk..


Dalam sekejap Foga tersungkur di lantai tanpa bisa mencegah Ezz yang langsung berlari menuju balkon.


"Zella, berhenti!!"


Gerakan Zella yang hendak mendorong Zolla dari lantai atas terhenti.


"Zella gue tau lo nggak bakal senekat itu. Let's stop. Kita bisa perbaiki ini. Pikirin bayi yang ada di dalam kandungan lo. Lo bisa nata hidup lebih baik lagi." Ezz berusaha mengulur waktu agar Zella tidak nekat mendorong Zolla.


"Lebih baik? Ngaco lo ngomong! Hidup gue udah hancur sejak tinggal sama bokap! Dan sekarang, setelah gue tersiksa terus-menerus tertekan sama segala aturan bokap, malah dia yang bakal dapat harta warisan?? Kenapa sih hidup nggak adil sama gue?? Udah nyokap buang gue, bokap juga nggak sayang sama gue." Air mata Zella mengalir pedih namun tertawa, menandakan begitu terluka.


"Zella, gue jamin, Zolla nggak akan ambil sepeser pun harta Papa. Asal lo lepasin dia."


"Lo kira gue percaya? Ni cewek sok polos tapi belagu juga pake bongkar segala. Dia bisa kibulin Foga supaya lo bisa nyusup masuk markas kami. Dan apa? Dia setuju bokap mau nikah lagi?? Gila lo semua!"


"Zella lo jangan egois! Lo cuma mikirin diri lo sendiri."


"DIAM!!!" jerit Zella frustasi. "Stop mojokin gue!!"


"Zella, tolong. Jangan begini," kata Zolla pelan.


"Kenapa? Lo takut? Ini akibat lo main-main sama gue!" Bentak Zella.


Duuukkkk...


Plakkkk...


"Sadar, Zella!"


Zella merasakan pipinya panas meski tamparan Ezz tidak keras.


Ezz memegang tangan Zolla hati-hati mengangkat tubuhnya.


"Lo bilang dulu cinta sama gue, sekarang lo cintanya sama dia???" Bentak Zella.


"Zella, ternyata gue nggak pernah cinta sama lo. Lo inget kan waktu gue tanya ke mana lo pergi setelah selametin gue dari markas musuh? Lo nggak bisa jawab, dan cuma bilang lo keren bisa terobos api. Ternyata, yang selametin gue waktu itu Zolla. Dia juga yang bikin gue jatuh cinta. Hanya karena gue nggak tau dia siapa dan dimana, begitu kita ketemu gue kira lo yang nolong gue. Kalian bener-bener mirip. Tapi semirip apapun, lo nggak bisa kibulin gue. Zolla punya bekas luka jahitan di perutnya, makanya gue langsung tau begitu lihat lo nggak punya bekas luka itu."


Zella sungguh geram mendengar penjelasan Ezz.


"Udah deh La, stop! Gue juga peduli sama lo. Lo ipar gue!"


"Nggak sudi!!! Dia bukan sodara gue!!" Jerit Zella nyaring dan maju menyerang Zolla.


Ezz langsung menghadang dan menahan tangan Zella yang langsung meronta-ronta.


Foga muncul di balkon dan melihat Zella tersudut jika terpeleset akan langsung jatuh.


"Lepasin Zella!" Teriak Foga langsung mengeluarkan pisau dan menyerang.


Duakkk..


Ezz sigap menendangnya hingga menjauh.


"Lepas!!! Zolla harus mati!!!"


"Zella awassss!!!"


Teriakan Foga menggema begitu Zella tersandung, dan...


"Fogaaa!!!" Jerit Zella melihat Foga terjatuh dari lantai atas.


Bersamaan dengan polisi berdatangan, Zella dan Zolla langsung jatuh tak sadarkan diri.


***


Zella, Zolla, dan Foga langsung dilarikan ke rumah sakit.


Ezz bersama Gunadi, menunggu dengan cemas kondisi Zolla dan Zella.


"Kenapa bisa jadi begini?" Gunadi merutuki diri sendiri. "Karena Papa sudah gagal mendidik Zella, dia jadi melakukan hal nekat, berbahaya. Membahayakan banyak orang. Membahayakan cucu-cucu Papa. Papa sudah sangat gagal mendidik Zella!"


Ezz sungguh menyesal mengapa barusan membiarkan Zolla menghampiri Zella. Zolla jadi dalam bahaya.


"Pa, aku udah tau waktu Zella muncul di rumah. Dia itu pimpinan sindikat pengedar uang palsu yang lagi diburon polisi. Dan aku tau tujuan dia datang ke rumah untuk mengambil surat aset Papa, maka aku menyembunyikan semuanya. Aku sudah simpan brankas Papa di tempat aman yang nggak bisa ditemukan Zella."


"Semuanya salah Papa. Kalau saja Papa lebih mendengar, kalau saja Papa..." Gunadi tak sanggup melanjutkan dan merutuki perbuatannya.


"Kita berdoa saja Pa. Semoga Zolla dan juga Zella baik-baik saja."


HP Ezz berbunyi ada chat masuk dari Reno.


#Polisi sudah geledah rumah, semua ditangkap. Ada beberapa yang masih buron karena nggak ada di lokasi.#


Ezz langsung menjawab.


#Thanks No. Gue serahin sama lo bertiga. Gue sama Papa masih di rumah sakit.#


Pintu ruangan terbuka, Nagisa keluar sambil melepas masker.


"Nagisa, bagaimana keadaan anak-anakku?" Gunadi langsung memburunya.


"Tante, gimana keadaan Zolla?" Tanya Ezz tak kalah cemas.


Nagisa bingung menjawab. "Begini Mas. Aku minta maaf, salah satu dari anak Mas mengalami keguguran."


Gunadi terjatuh lemas memegang dadanya.


Ezz tak bisa menahan air matanya.


***