
🌼 Maharani
Hari ini aku sangat bersemangat menyelesaikan pekerjaanku. Membersihkan area toko, melayani pembeli, dan mengisi barang dagangan dari gudang ke rak toko. Aku berusaha melakukannya dengan cepat. Padahal apa gunanya juga, toh secepat apapun kerjaku, jam pulang kerja tetap sama. Jam empat sore.
Apa lagi sebabnya kalau bukan karena hari ini hari sabtu. Satu hari di akhir pekan yang kutunggu-tunggu.
Ya, mas Eza akan pulang hari sabtu ini. Setelah hampir sebulan lamanya mas Eza tak kunjung datang ke Jember karena alasan padatnya pekerjaan. Akhirnya hari ini ia mengabarkan akan pulang dan menginap sampai besok. Siapa yang tak senang? Bahkan mama pun terlihat bersemangat memasak makanan kesukaan mas Eza sejak pagi tadi.
Suamiku itu sangat menyukai pekerjaannya. Itu ada profesi yang ia cita-citakan sejak kecil. Itu yang aku tau dari mama mertuaku. Jadi pantaslah kalau mas Eza sangat berdedikasi pada pekerjaannya.
Aku sangat senang. Meskipun aku malu mengatakannya pada mas Eza, tapi aku jelas mengerti bahwa rasa rinduku ini tak terbendung lagi. Entahlah bagaimana caraku menghempas perasaan malu dan sungkan pada suamiku sendiri. Pada pasangan halalku. Aku harus mencoba menghapuskannya perlahan. Aku tak mau ada jarak antara aku dan mas Eza.
Namun, langit seperti tidak berpihak padaku. Sore ini mendadak hujan deras mengguyur kota. Aku tak mungkin menerjang begitu saja. Untuk berlari ke halte bis saja, badanku sudah pasti akan basah kuyup. Nanti di bis bisa jadi tontonan orang-orang kalau aku naik dengan baju basah. Memalukan. Tapi kalau pulang menunggu hujannya reda, sampai kapan? Huufftt..
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapanku yang saat ini sedang berdiri di depan toko. Aku berdiri bersama beberapa orang yang sengaja berlindung dari guyuran hujan yang amat deras. Tapi aku tau, mobil ini berhenti dan tertuju padaku. Tak lama kemudian, kaca terbuka. Dan tersembullah kepala mungil seorang anak lima tahun. Rayhan.
"Kak Rani, ayo masuk sini.. Biar papa yang antar pulang.." Ternyata mobil mas Reno yang melintas dan menawarkan tumpangan.
Aku berpikir sejenak. Tidak enak pada karyawan lain kalau menerima ajakan Rayhan. Sementara disini, yang berteduh bukan cuma aku. Tapi ini juga kesempatan bagus agar bisa lekas pulang. Aku perlu mandi dan berdandan untuk menyambut suamiku pulang. Tentu aku tidak ingin mas Eza melihatku berantakan sepulang kerja begini.
Kuputuskan menerima ajakan Rayhan. Bodo amatlah dengan tatapan iri dari orang-orang yang ada di sini. Aku segera masuk ke mobil mas Reno. Baru saja hendak membuka pintu mobil bagian belakang, mas Reno sudah menghadang dengan tangannya.
"Duduk di depan Rani.."
"Saya di belakang saja, mas.." tolakku.
"Saya bukan supir kamu."
Aku menelan ludah. Terasa sedikit berat entah kenapa. Benar juga kata mas Reno. Tidak sopan aku duduk di bangku belakang. Seolah mas Reno sedang menyupiri aku. Aku pun bergeser dan lekas masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi depan di samping mas Reno. Sedangkan Rayhan tertawa-tawa di bangku belakang dengan mainan robot di tangannya.
Mas Reno mengemudikan mobilnya membelah derai hujan di depan mata. Jalanan sedikit padat karena banyak orang berlomba ingin lekas sampai di rumah. Lekas bebas dari guyuran hujan. Tak ada yang mau mengalah. Jadilah perjalanan pulang yang biasa kutempuh hanya lima belas menit, sekarang butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumah.
"Gak repot kok Ran.. Itu tadi Rayhan juga yang minta antar kamu pulang." sahut mas Reno. Kami kompak melirik bocah lima tahun yang sudah terlelap di bangku belakang. Aku tersenyum melihat kepolosan wajah anak itu.
Entah memang sulit atau tanganku yang kurang ahli, kuncian seatbelt tak kunjung terbuka. Mas Reno yang menyadari kesulitanku, turut membantuku melepaskan sabuk pengaman itu. Membuat kami tanpa sengaja menunduk dan kepala berdekatan karena tujuan yang sama. Melepas seatbelt.
Jantungku berdebar tak karuan. Aku merasa ada yang salah. Tak seharusnya aku sedekat ini dengan lelaki lain. Saat statusku jelas-jelas sebagai seorang istri. Huft..
Cepat-cepat aku turun dari mobil mas Reno. Kemudian berlari masuk ke pekarangan rumah menerobos hujan yang belum juga reda. Sesaat setelah kuinjakkan kaki di depan pekarangan, kulihat mobil mas Reno melaju pergi.
Kaki hendak melangkah ke dalam rumah. Kucium aroma yang tak biasa. Asap rokok yang tak terlihat kepulannya, tapi bau menyengat sempat mampir di indera penciumanku. Aroma yang dulu selalu kuhirup sebelum mas Eza pindah ke luar kota.
Hm.. Ya, ini bau rokok mas Eza.
Kuedarkan pandangan. Lalu kudapati mas Eza duduk di kursi pojok dekat taman bunga yang dirawat mama setiap hari. Mas Eza menurunkan sebelah kaki yang tadinya ditumpangkan. Tangan kirinya menekan puntung rokok ke asbak.
Aku menghampiri suamiku. Suamiku yang tampan sudah pulang. Senyuman refleks terulas lebar di wajahku. Kuulurkan tangan saat sudah berada di depan mas Eza. Hendak menyalaminya. Kuabaikan raut wajah datarnya.
"Mas Eza.. Mas sudah pulang?"
"Hmm.."
mas Eza hanya menjawabku singkat. Meski tangannya terulur agar bisa kucium punggung tangannya. Namun wajah tampan tanpa senyum itu sangat kontras dengan wajahku saat ini. Apa dia tidak sebahagia aku sekarang? Apa rindu ini hanya aku yang rasa? Terlalu banyak yang terlintas di pikiran hingga tanpa sadar senyumku perlahan memudar.
"Apa setiap hari begini kerjamu? Diantar jemput laki-laki?"
...****************...
🌼 Happy Reading