
🌼 Eza
Siang terik ini kumanfaatkan untuk membantu mama merawat tanaman-tanamannya. Lebih tepatnya melihat mama dan Rani berkebun. Karena aku hanya duduk di kursi rotan taman sambil berselancar dengan ponsel pintarku.
Mama menggunting-gunting ujung daun yang kering setelah selesai menyiram tanaman. Sedangkan Rani berjibaku dengan tanah liat dan bibit buah semangka sebagai koleksi tanaman terbaru mama. Rani hari ini sedang libur kerja. Tentu karena aku yang sedang berada di rumah hari ini.
Seharian ini pekerjaanku hanya bermalas-malasan. Seraya memainkan ponsel. Berkirim pesan dengan Bian. Melihat foto-foto wanita itu yang tersimpan rapi di folder galery. Mengetahui apa saja yang wanita itu lakukan sejak membuka mata tadi pagi.
"Sayang, hari ini aku bikin kegiatan membersihkan sungai perkampungan bersama anak-anak." itu chat terakhir Bian jam 10 pagi tadi. Setelah itu tak ada balasan lagi. Kemungkinan karena Bian memang sudah mulai bersama anak-anak sekolah Harapan.
"Za, kamu ingat om Jay? Sama tante Tiwi?" tanya mama di sela-sela kegiatannya menggunting ujung daun yang mengering.
"Om Jay temen papa yang di Surabaya dulu?" tanyaku mengkonfirmasi.
"Iya. Kemarin mama telponan sama tante Tiwi.." mama meletakkan gunting daun di rak bunga dekat tempat aku meluruskan kakiku. Mama lantas beranjak duduk di sampingku. "Katanya dapat nomer mama dari Pak Rusman. Tukang ojek pojok jalan, suaminya bu Sri, yang jual gado-gado. Kebetulan kamis lalu mereka ke Surabaya dan ketemu tante Tiwi sama Om Jay.."
Aku berdehem mengiyakan ucapan mama. Daripada pusing-pusing memikirkan silsilah nama-nama orang yang mama sebutkan tadi.
"Kamu kalau di Surabaya, sekali-kali main ke tempatnya om Jay dong, Za.. Nanti mama titipin oleh-oleh buat mereka.. Mama kangen juga sama om Jay dan Tante Tiwi.."
"Emang alamatnya om Jay dimana Ma? Kalau Eza sempat nanti Eza mampir.."
"Oh iya." mama menepuk jidatnya sendiri. "Mama lupa kemarin ga nanya.."
Aku mencibir. Gimana sih mama ini.. Nyuruh-nyuruh anaknya mampir tapi ga tau alamat. "Gimana sih ma... Surabaya kan luas.."
"Iya.. Iyaa, nanti mama telpon tante Tiwi lagi.." ujar mama seraya mengibaskan tangan.
Kulihat Rani menghentikan aktifitas menyiram tanaman mama. Mama pun menyuruhnya istirahat. Matahari semakin terik menyengat. Padahal jam masih menunjukkan pukul 10.48. Belum tengah hari.
"Rani ambilkan minum dulu, Ma.. Mas..." pamit Rani lantas masuk ke dalam rumah.
Ting.
Sebuah notifikasi tanda chat baru masuk. Jemariku langsung sigap membuka layar pipih itu. Chat whatsapp dari Bian. Wanita itu mengirim sebuah foto yang membuat senyumku spontan melebar setelah melihatnya.
Sebuah foto yang mendadak menghangatkan hati. Membuat haru terbit dalam benak. Sekaligus rasa bangga karena wanita ini adalah istriku. Lelaki bejat dan bangsat yang tega menduakan hati.
"Si cantik main lumpur pun tetap cantik.." balasku.
"Sabar, Bi.. Besok kita ketemu. Already miss you so bad, wifey.."
"Baca apa mas..? Sampai senyum-senyum gitu.." suara Rani membuatku tersentak kaget. Sampai hampir saja aku menjatuhkan ponsel dalam genggamanku. Mengundang mama untuk ikut lebih dalam memperhatikanku.
Rani membawa nampan berisi tiga gelas es sirup segar dan sepiring singkong goreng yang sudah dingin. Meletakkannya di atas dingklik kayu yang ada di dekat kami, karena jarak meja terlalu jauh. Lantas duduk di dingklik kayu lain membuat posisinya lebih rendah dari kami.
"Lihat foto teman di sekolah Harapan." hanya itu alasan yang terlintas di kepala saat ini. "Kamu ingat kan aku pernah cerita soal sekolah harapan?"
Rani mengangguk.
"Sekolah buat anak-anak jalanan yang pernah kamu ceritakan?" sahut mama terdengar tertarik dengan ceritaku.
"Iya Ma.. Nah ini mereka sekarang lagi punya program membersihkan sungai kota yang penuh sampah.. Ini fotonya." dengan berani kutunjukkan foto kiriman Bian pada mama dan Rani.
"Wah.. Programnya sangat bagus dan mulia.. Cewek itu yang punya ide brilian gini?" mama menunjuk Bian. Ya, siapa lagi yang paling menonjol di foto itu. Cewe cantik, spek model, rela terjun ke sungai demi memberi teladan mulia untuk anak-anak nol edukasi.
"Betul ma.. Dia yang memprakarsai sekolah Harapan, dan penyokong dana tunggal. Sekaligus jadi pengajar di sana."
"Waaah.. Jarang anak muda punya pikiran ke sana.. Yang banyak terjadi anak-anak muda berlomba-lomba buang uang buat nongkrong, shopping, traveling...."
"Benar banget Ma... Dia bahkan sudah punya tiga anak asuh yang disekolahkan ke sekolah formal. Karena menilai kemampuan dan kemauan sekolah tiga anak ini yang lebih tinggi dibandingkan anak yang lain."
"Masyaa Allah.... Mulia sekali hatinya." Mama mengelus dadanya, ada binar haru menggantung di pelupuk mata mama. See? Aku tidak lebay kalau menyebut Bian adalah ibu peri in real life. Mama pun mengakuinya.
Terlalu bersemangat menceritakan tentang sekolah Harapan dan Bian pada mama, tanpa kusadari perubahan air muka Rani. Rani menutup rapat mulutnya. Rahangnya terkattup karena menahan agar tak bersuara. Netranya menatapku sayu seakan mendung tengah bergelayut di sana.
Adakah insting seorang istri bekerja di sana?
Mungkinkah Rani punya firasat tentang aku yang tak lurus-lurus saja selama bekerja di kota?
Biarlah. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengendalikan pikiran orang lain, kan..?
Aku tau aku memang baji ngan. Lelaki breng sek yang mengumbar kebaikan wanita lain di depan istri dan ibuku. Sungguh, aku tak bermaksud meninggikan Bian untuk menjatuhkan Maharani. Mereka punya porsi kebaikannya masing-masing. Lagipula Aku tak perlu meninggikan Bian, karena tanpa bantuanku, hatinya yang mulia sudah menempati tahta tertinggi di hatiku.
......................
🌼 Happy Reading