Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
31. Jauh di Mata, Dekat di Hati


🌼 Eza


"Apa setiap hari begini kerjamu? Diantar jemput laki-laki?"


Entahlah kenapa bisa meluncur kalimat itu dari mulutku. Aku memang terkejut ketika melihat Rani diantar seorang lelaki. Naik mobil. Berdua. Bahkan terlihat sedang berdekatan tadi. Kaca mobil yang terang transparan membuatku bisa melihat yang terjadi di dalam.


Tapi aku sadar diri tidak berhak menuntut ini itu pada Maharani. Kenyataannya, aku lah yang menyeleweng. Aku yang berkhianat.


"Ti-tidak.. Tidak, mas.. Sungguh.." Maharani mengibaskan tangan. Berusaha mengusir prasangka yang terkandung dari pertanyaanku tadi. Padahal aku tak bermaksud begitu.


"Baru kali ini Rani pulang diantar mas Reno. Itu juga karena hujan. Sedangkan mas Eza mau datang.. Jadi aku pengen cepat-cepat pulang. Kebetulan mas Reno menawarkan tumpangan. Aku tidak berpikir panjang, langsung mengiyakan.. Tolong mas Eza jangan salah paham." papar Rani panjang lebar.


"Hemm.. Begitu.."


"Iya, mas.. Dia tadi mas Reno. Omnya Dian, sahabat aku. Mas Reno ini yang punya supermarket tempatku bekerja, mas.. Dan kami tadi tidak berdua di dalam mobil. Ada anaknya mas Reno di bangku belakang.."


Aku bangkit dari bangku rotan yang kududuki sejak beberapa menit lalu. Kuusap puncak kepala Rani yang sedikit basah terkena air hujan. "Iya. Tidak usah diperpanjang. Aku percaya, Ran.."


Rani mengangguk. Mencoba mengulas kembali senyum yang sempar memudar tadi. "Mas Eza sudah sampai dari tadi?"


"Dua jam yang lalu.." Jawabku. Lantas kuajak Rani untuk masuk ke dalam rumah. Tadi aku duduk di luar karena ingin merokok sekaligus untuk bisa leluasa menelepon Bian agar tidak sampai ke telinga mama yang sedang asik memasak.


Begitu kaki menjejak ruang makan, aroma gulai sapi menguar. Memanjakan indera penciuman. Namun menyiksa isi perut yang seketika langsung demo minta disuplay makanan lezat.


"Rani sudah pulang..." seru mama bebarengan dengan suara dentingan sutil dan penggorengan. "Ayo siap-siap makan.. Gulainya sudah matang. Ini mama gorengin tempe kesukaan Eza.."


Rani pamit untuk membersihkan diri. Aku duduk manis di meja makan. Menanti mama menghidangkan makanan di meja. "Baunya sedaaap.."


"Ini nih.. Yang bikin kangen rumah.." lanjutku.


Terlihat dari gerakan punggungnya, mama tertawa mendengar ucapanku. "Makanya, kamu sering-sering pulang dong Za.."


"Iya ma.. Iyaa..."


Setelah itu kami menikmati makan malam masakan mama yang begitu lezat. Kami makan sambil menceritakan apa saja. Mama dengan ceria bercerita tentang tetangga yang akan menikah. Anak tetangga yang di DO dari sekolah karena saking nakalnya. Teman kampungku yang keterima kerja di kota. Banyak sekali hingga satu jam setelah makanan kami habis, barulah kami beranjak dari meja makan.


Mama membereskan meja makan dan dapur, sementara Rani membantu beliau. Lalu aku? Kembali ke kursi rotan dekat taman untuk merokok dan menghubungi Bian, tentu saja. Aku sangat merindukan wanitaku itu. Baru enam jam tidak bertemu. Tapi sudah sangat rindu.


Tadi sewaktu makan, ponsel yang kusimpan di saku celana, sempat beberapa kali bergetar. Aku bisa menerka pasti Bian lah yang mengirim pesan. Wanita itu selalu rajin memberi kabar setiap kali kami tak bersama. Belum genap dua minggu menjadi suami Bian, tapi aku sudah hafal tabiatnya.


"Mas, titip salam buat mama kamu yaa.."


"Sayang, jangan lupa makan."


"Sayang, hari ini aku pesan makanan yaa.. Di rumah sedang ada Ocha, Marko, Ayu, dan Indah.. Aku mengundang mereka ke rumah karena aku kesepian ga ada kamu.."


"Sayang, jangan kelewat sholat maghrib.."


Benar kan.. Bian lah yang memberondong chat masuk ke ponselku. Ia juga mengirim foto makanan dan kebersamaannya bersama sahabat dan anak-anak jalanan asuhannya. Aku tersenyum membacanya.


Kuketikkan balasan kepada Bian. Mengijinkannya melakukan sesuatu yang menyenangkannya. Bian memang senang bersosialisasi. Sosialisasi anti mainstream yang lebih mengutamakan berbagi kebahagian terhadap anak-anak yang kurang beruntung.


Ingin sekali aku mendengar suaranya. Kupastikan mama dan Maharani masih sibuk berkutat di dapur usai sholat maghrib berjamaah. Aku pun menjauh, menyepi di tengah-tengah deretan tanaman mama. Beruntung hujan sudah reda. Aku bisa menelepon Bian tanpa bersahutan dengan rintik hujan.


Nada dering berbunyi hanya dua kali. Panggilan sudah dijawab dengan nada renyah yang otomatis merekahkan senyuman di wajahku.


"Aku juga kangen banget, sayang...."


"Idiiih gayanyaaa yang udah punya suami.. Baru juga ditinggal tadi siang. Udah kangen aja.." kudengar Ocha mencibir. Mereka pasti sedang bersenda gurau berdua.


"Dih.. Sirik.. Sono pindah ke mars..." ledek Bian. Aku terkekeh mendengarnya.


"Oh iya, malem ini Ocha nginep di sini ya mas.. Mau nemenin aku judulnyaa... Tapi aslinya sih lagi berantem sama pacarnya.. Dan pengen curhat sekaligus ngerumpi semalaman.." cerocos Bian.


"Iya sayang.. Ga apa-apa. Asal jangan kebablasan sampai begadang. Jaga kesehatan, Bi.. Aku ga mau kamu sampai sakit."


"Iya, sayang..." sahut Bian. Meski tanpa aku tahu wanita itu pasti berkata sambil tersipu malu. Membayangkan wajah kemerahan Bian ketika sedang tersipu membuat gelenyar gai rahku menjalar tiba-tiba. Ah, kurang ajar memang.. Tak tau tempat.


"Eza... Ngapain disitu? Sini.. Buruan siap-siap anterin mama ke rumah pakde Sardi.." mama datang menginterupsi obrolanku dengan Bian.


Aku menoleh. Kulihat mama berdiri di ambang pintu. Aku menjawab panggilannya hanya dengan acungan jempol.


"Ya udah, sayang.. Sana buruan anterin mama kamu.." rupanya Bian menangkap suara seruan mama.


"Iya sayang.." ucapku dengan nada lebih rendah daripada tadi. Maklum mama masih betah menungguku di ambang pintu.


"Kamu istirahat ya Bi.. Aku tutup teleponnya." pungkasku.


......................


🌼 Maharani


Usai pertanyaan bernada menuduh yang terlontar dari mulut mas Eza tadi setelah melihatku diantar pulang mas Reno, semua memang berjalan normal dan biasa. Mas Eza bahkan tidak mengulang pertanyaannya guna menguji kejujuranku. Ia langsung menerima dan tidak lagi mengungkit perihal aku diantar pulang seorang lelaki.


Pun ketika sholat maghrib berjamaah, mas Eza menjadi imam sholat untukku dan mama. Seperti biasa. Sewaktu makan malam, mas Eza makan dengan lahap. Mas Eza dan mama bahkan sangat bersemangat menceritakan hal-hal random tentang tetangga kami.


Usai menyantap hidangan makan malam, aku membantu membereskan bekas makan dan peralatan memasak bersama mama. Kulihat mas Eza keluar ke teras. Maju terus hingga masuk ke pekarangan yang terdapat barisan tanaman mama. Mas Eza tampak bertelepon ria dengan klo wajah berhias senyum dan sesekali tertawa renyah. Membuat dadaku kembali bergemuruh.


Ketika kami pergi berkunjung ke rumah Pakde Sardi atas ajakan mama setelah sholat isya berjamaah, Mas Eza masih terus sibuk dengan ponselnya. Sesekali aku melihatnya tersenyum sendiri, entah apa yang lucu di dalam benda elektronik berukuran 7 inc itu. Yang jelas aku sangat iri dengannya.


Ponsel pintar itu jelas mendapat perhatian lebih dari suamiku. Digenggam erat sepanjang waktu. Bahkan saat tidur malam dengan memunggungiku, mas Eza masih terus memainkan ponselnya sebelum lelap di alam mimpi.


Tidak ada sentuhan. Tidak ada percakapan tentang apa yang ku lalui ataupun tentang keseharian mas Eza. Aku merasa hanya melihat raga mas Eza disini. Tapi jiwa Mas Eza terasa jauh. Sangat jauh hingga aku tetap merasa rindu meski raga telah bertemu.


Mas Eza benar-benar serius dengan ucapannya untuk tidak memperpanjang masalah aku diantar pulang oleh laki-laki. Ia tidak berniat ingin tau siapa lelaki yang membawa istrinya pulang.


Salahkah aku jika ingin marah? Tapi harus marah dengan siapa? Pantaskah marah dengan suami yang berkata percaya padaku dan tidak ingin berlarut-larut dalam kesalah pahaman?


Jujur aku merasa ada yang kurang. Ada yang kosong. Entahlah perasaan apa yang aku rasakan. Aku ingin ditanyai lebih dalam lagi. Aku ingin mas Eza mencecarku lebih lama lagi. Menuntut kejujuranku. Seharusnya mas Eza sedikit saja merasa cemburu.


Aku ingin tau bagaimana rasanya dicemburui suami sendiri. Bukankah cemburu tanda cinta? Kalau tidak cemburu tandanya tidak cinta. Teori sederhana yang mampu menohok relung hatiku.


Kesimpulan yang kudapat, mas Eza tidak mencintaiku. Sejak awal kami menikah. Hingga hari ini usia pernikahan kami hampir setahun, mas Eza tak kunjung mencintaiku.


...----------------...


🌼 Happy Reading