
Siang yang panas, Zolla hanya duduk di ayunan menghadap kolam renang.
Sambil membaca komik yang ia ambil dari kamar Zella.
"Koleksi komik Zella banyak juga."
Bahkan ada satu lemari penuh isi koleksi komik yang dikumpulkan Zella sejak SMP.
Zolla begitu serius membaca komik Detective Conan sambil mengunyah keripik kentang.
"Neng Zolla... Ini cemilannya." Muncul Bi Inah membawakan sepiring kue brownies dan segelas coklat dingin.
"Makasih ya Bi." Zolla langsung minum coklat dinginnya. "Hmm seger... Bibi nggak mau? Enak lho.."
"Bibi mah doyannya minum kopi, Neng. Biar nggak ngantuk, kuat kerja sampe malem."
Zolla terkekeh. "Kalau ngantuk tidur aja Bi."
"Nggak ah. Nanti kalau Neng Zolla butuh apa-apa gimana? Ya udah Bibi ke belakang lagi ya Neng, mau angkat jemuran."
"Iya Bi."
Sendirian di rumah sebesar ini menjenuhkan juga.
"Aku mana bisa nelepon Kak Ezz. Lagi jam makan siang begini pasti Kak Ezz lagi sibuk. Makanya nggak ada nelepon aku."
Udah 3 hari mereka jadian, tapi Ezz belum datang menemuinya lagi karena kesibukan di restoran membuatnya bekerja sampai malam.
Zolla pun tak ingin terlalu posesif. Ezz sudah bekerja keras, bahkan sampai kurang tidur.
Seringkali Ezz berlama-lama di restoran agar tidak pulang cepat. Menghindari Riani yang agresifnya cukup mengganggunya.
Dan ketika pulang Ezz langsung ke kamar untuk video call dengan Zolla.
Teringat Zella lagi, membuat Zolla tercenung.
"Zella di mana ya? Dia bilang, ada bisnis. Dan dia minta aku bantu cari dana. Tapi bisnis apa? Kenapa dia nggak bilang apa-apa? Kemarin-kemarin dia minta uang, tapi aku nggak bisa kasih karena aku nggak punya uang. Tinggal 7 bulan lagi, Zella akan kembali. Gimana reaksinya kalau tau aku udah bongkar rahasia? Aku terpaksa jujur karena nggak bisa lama-lama bohong sama Kak Ezz dan Papa."
Zolla memeriksa HP nya, tidak ada chat masuk, membuatnya cemberut.
Ada foto dirinya dan Lisa.
"Ibu, aku udah ketemu Papa dan tinggal sama Papa. Papa sayang sekali sama aku. Aku juga senang bisa disayang sama Papa. Ibu yang tenang di Sana. Oh ya Bu, aku juga udah punya pacar. Namanya Kak Ezz. Ibu inget kan dulu aku pernah cerita ke Ibu, ketemu laki-laki ganteng yang kaya, tapi Ibu bilang hati-hati sama laki-laki.Tapi Kak Ezz baik kok. Yahh walau kemarin dia pernah nyebelin, karena dia ngira aku Zella. Sekarang Kak Ezz perlakukan aku baik." Ia asyik curhat.
Selama Lisa masih hidup, tak pernah ia menyimpan rahasia.
Ia tahu betul bagaimana kecewa ibu pada ayahnya.
Namun ketika Lisa mulai sakit-sakitan, Lisa tak tega meninggalkan Zolla sendirian. Lisa tahu betul putrinya polos dan pengetahuannya terbatas. Lisa tak ada pilihan selain mengembalikan Zolla pada Gunadi. Namun baru berkeinginan, Lisa tak bisa bertahan dari penyakit ginjalnya dan meninggal dunia.
Saat Lisa meninggal, Zolla kehilangan semangat hidup. Namun tak ingin mengecewakan almarhumah ibunya, ia berangkat ke Jakarta untuk mencari ayah dan saudara kembarnya.
Tak menyangka terjepit situasi seperti sekarang.
Kebersamaan Zolla dengan Gunadi, hubungan dengan Ezz, Zolla sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya jika Zella mengetahui.
Apa Zella akan menerimanya?
Atau malah berusaha menyingkirkannya?
Memikirkan itu membuat Zolla mengantuk, dan tertidur di ayunan.
***
Sementara di vila markas Zella.
Zella memantau langsung pekerjaan anak buahnya.
"Jadi inget, target kita, kota-kota kecil. Kalian beli barang mahal. Emas, logam mulia, mobil, rumah kalau perlu. Harga nggak masalah. Abis itu, kalian jual lagi dengan harga tinggi. Keuntungan kita jelas berkali-kali lipat. Gue pikir ini cara teraman daripada kita sebar luaskan di online. Itu bisa dilacak."
Semua mengangguk paham.
Mobil para anak buah satu per satu meninggalkan lokasi vila.
Tinggal Zella dan Foga.
"Lo yakin bakal aman?" Foga mulai ragu.
"Yakin lah. Gue udah rancang ini dari lama." Zella menyalakan sebatang rokok, yang langsung diambil Foga.
Kontan Zella jadi kesal. "Apaan sih lo, Ga?"
"Gue udah bilang jangan ngerokok lagi."
"Ahh nggak asik lo banyak ngelarang gue! Ngerokok nggak boleh, gue nyewa gigolo nggak boleh."
Foga geleng-geleng kepala prihatin dengan kondisi Zella. Sudah lama Zella itu terjerumus ke pergaulan bebas. Lebih ke free s*x. Dia sering menyewa gigolo untuk tidur dengannya.
Ketika dulu Ezz memergokinya di hotel bersama gigolo yang ia sewa, yaitu Deon.
"La, mau nikah sama gue?" Tanya Foga membuat Zella melebarkan mata.
"Apa??"
"Nikah sama gue." Ulang Foga.
Zella kontan tergelak geli. "Gila lo! Bercanda nggak lucu!"
"Gue nggak bercanda, Zella!" Foga menarik kedua bahu Zella menghadapnya.
"Lo mabok ya? Ngaco lo, Ga!"
"Gue nggak ngaco apalagi mabuk. Daripada lo tidur dengan sembarang cowok, mending lo nikah sama gue. Gue nggak mau lo makin terjerumus."
Zella kontan mendorong tubuh Foga menjauh. "Gue nyaman hidup begini. Nggak ada aturan. Nggak ada yang larang. Lo kira gue hidup sama bokap enak? Gue dikekang abis. Semua yang gue lakuin selalu salah dan kena marah. Muak gue sama aturan! Mending seneng-seneng. Banyak duit, bebas mau bayar siapapun buat tidur sama gue."
Foga tak menyerah membujuk Zella. "Please stop, La! Gue akan jaga lo. Jangan sembarang tidur sama cowok. Gue takut lo ketular penyakit."
"Eh jangan sembarangan, semua yang tidur sama gue udah gue pastikan bersih dari penyakit."
"Terus apa yang lo cari dari kebebasan lo?"
Zella mendengus dingin. "Ya kepuasan lah apa lagi? Banyak duit, nggak tergantung sama bokap, gue bisa puasin hasrat gue tanpa pernikahan. Gue benci terikat."
Foga menarik nafas dan menarik tangan Zella hingga mendekap tubuhnya.
"Apaan sih lo Ga? Lepasin gue!"
"Lo pengen puas? Gue akan puasin lo, cuma sama gue lo boleh ngelakuin itu."
Zella mendengus sinis. "Lo mau puasin gue? Eh gue ini susah puas.."
"Kita buktiin aja. Kalau lo tepar duluan, berarti kita sepakat. Cuma gue partner ranjang lo. Nggak ada yang lain, gimana?" Tantang Foga membuat Zella mulai ragu.
"Lo sahabat yang paling gue percaya, Ga.."
"Karena itu gue mau jaga lo. Gue nggak mau sahabat gue, satu-satunya perempuan yang berarti di hidup gue, dicap murahan. Lo nggak semurah itu. Lo itu spesial buat gue, La." Kata Foga jujur. Ia sudah berpikir selama ini apa yang bisa dilakukan untuk menolong Zella. Jalan satu-satunya menikahi Zella agar Zella berhenti berpetualang dengan banyak pria yang tidak dikenal.
"Oke kalau itu mau lo. Lakuin." Tantang Zella membuat Foga geram.
Ia ingin menggertak Zella malah ditantang begini.
"Tapi kalo gue nggak puas, lo cariin gigolo buat gue malem ini." Zella melenggang masuk vila.
Foga jadi bingung, sejujurnya ia cuma menggertak supaya Zella takut diperkosa. Tapi ia lupa gadis itu tidak penakut dan malah menantang.
Akhirnya ia masuk vila dan menguncinya.
Tak lama terdengar jeritan Zella yang sedang digarap Foga di kamar.
***