
Hari ini Zella tampak gelisah, entah apa yang mengganggu pikirannya. Ia hanya duduk di tepi jendela sambil memandangi langit.
Di ranjang, Foga membuka mata, dan heran Zella tidak ada di sampingnya.
Keningnya berkerut melihat Zella melamun, ia turun dari ranjang dan mengambil selimut kecil.
"Masih pagi, La. Udaranya masih dingin." Foga memakaikan selimut pada gadis itu.
"Ga, kita ke Jakarta aja."
Foga kontan heran mendengar permintaan Zella. "Ngapain? Bukannya lo mau balik di ulang tahun pernikahan lo sama Ezz nanti?"
Zella mencengkeram pinggiran jendela, begitu mengingat janjinya.
"Kalo lo balik sekarang, dengan posisi masih ada Zolla. Gue rasa cuma jadi masalah baru. Gimana kalau bokap lo malah berubah pikiran batalin pengalihan aset atas nama lo?" Tanya Foga membuat Zella tercenung.
"Dan lagi, gimana di sini kalau kita pergi? Semua udah rapi, kita tinggal nunggu hasil. Lo harus tanggung jawab sama bisnis yang lo mulai, La. Kita kelarin ini, kumpulin hasilnya, setelah itu lo bisa bubarin semua. Dan .... Yaaahh mungkin lo bisa bahagia sama suami lo itu."
Perkataan terakhir Foga membuat Zella menoleh, air mukanya berubah.
"Gue cuma nggak tenang dari tadi, Ga. Gue juga nggak tau kenapa. Zolla belum bales SMS gue. Gue cuma pengen tau dia udah berhasil bikin Kak Ezz maafin gue belum."
Foga menatapnya tajam. "Lo itu sebenarnya cinta nggak sih sama Ezz?"
Zella tak menjawab, sungguh galau.
"Jawab sekarang La. Kalau lo jawab iya, gue bakal pergi."
"Maksud lo apa?"
"Gue nggak mau sentuh lo lagi sementara lo cinta sama cowok lain."
Zella mendengus kesal. "Siapa suruh lo garap gue? Jadi baper kan lo."
Foga mencengkeram lengan Zella.
"Sakit, Ga.. Lo kok kasar banget sih!" Umpatnya. "Gue nggak cinta sama siapapun. Gue juga nggak tau rasa cinta itu kayak gimana. Kayaknya cuma bullshit aja. Perasaan yang cengeng dan mellow yang cuma bisa dirasakan orang lemah."
Melihat Zella yang beku akan rasa cinta, Foga jadi kasihan. Tumbuh penuh tekanan dan tanpa kasih sayang seorang Ibu.
Foga memeluknya dari belakang.
"Apaan sih lo, Ga? Lepasin gue!"
"Gue bakal jagain lo, La. Sampai kapanpun."
"Apaan sih lo? Gue bukan cewek lemah!" Zella melepaskan diri dan berbalik masuk kamar mandi.
"Siap-siap kita harus siapin mereka start lagi hari ini." Zella menutup pintu kamar mandi.
Foga memejamkan mata sejenak.
Gue jatuh cinta sama lo, La. Gue mau jagain lo, tapi mungkin gue perlu usaha lebih keras, batinnya.
***
Pagi-pagi sekali beberapa perias masuk kamar Zolla.
Bahkan karena Zolla masih ngantuk berat, ia nyaris tertidur ketika dirias.
Karena gemas, salah satu perias memberikan permen super asam agar Zolla melek sepenuhnya.
"Cuiiihhhh permen apa ini? Kok asem banget?" Zolla melepeh permennya dan kantuknya hilang seketika.
"Makanya Mbak melek. Biar nggak belepotan didandaninnya." Kata Mou perias laki-laki yang keriting sambil menyapukan foundation.
Sementara yang lain sibuk menata rambut dan menyiapkan baju pengantin.
Zolla teringat akan menikah dengan Ezz, kontan menitikkan air mata.
"Eh Mbak cantik nih, malah nangis. Nanti aja nangisnya kalau udah sah. Sekarang jangan nangis dulu ya biar selesai dirias." Omel Mou memperbaiki polesan bedak yang luntur.
"Di sini ada kebun binatang nggak Mas?" Pertanyaan Zolla membuat para perias terheran-heran.
"Ada Mbak. Banyak. Kenapa emangnya?"
"Calon suamiku udah janji mau ngajak aku jalan-jalan ke kebun binatang."
Kontan 3 perias itu terkikik.
"Kalau bulan madu di sini tuh mending main ke pantai Mbak. Naik kapal. Berduaan. Masa' ke kebun binatang?"
"Iya Mbak. Kalau mau ke kebun binatang, mending nanti kalau udah punya anak. Piknik keluarga. Asyik itu Mbak."
"Ayo buruan. Satu jam lagi harus selesai. Kita lanjut riasnya ya Mbak."
Zolla terdiam pasrah wajahnya dipoles sedemikian rupa, rambutnya ditata.
Ketika sudah siap mengenakan gaun pengantin berwarna peach, bel kamar berbunyi.
Mou segera membuka pintu.
"Sudah siap?"
"Sudah Pak."
Gunadi yang sudah mengenakan setelan jas hitam segera masuk kamar dan terpukau melihat putrinya.
"Papa..." Zolla memeluk Gunadi erat.
"Anak Papa cantik sekali." Gunadi sampai terharu.
"Kedua kali Papa lihat aku jadi pengantin." Zolla cemberut melepas pelukannya.
Gunadi ingat begitu hari pernikahan Zella (Zolla) dan Ezz, Zolla tampil begitu cantik sama persis dengan Lisa ketika mereka menikah siri.
"Kamu persis sekali Ibumu, Nak." Gunadi sungguh terharu. "Andai ibumu masih hidup..."
"Udah Pa.. Ibu udah maafin Papa kok. Papa jangan sedih lagi ya. Yang penting sekarang aku dan Kak Ezz akan tinggal sama Papa."
"Iya sayang. Maaf sebelumnya, Papa tidak bisa menyelenggarakan pesta besar-besaran untuk kamu. Zolla pasti paham kondisinya."
Zolla tersenyum. "Ini udah lebih dari cukup, Pa. Aku dandan dan pake gaun secantik ini. Bagus kan gaunnya?"
"Bagus banget Nak. Semoga pilihan kamu tidak salah."
"Iya Pa."
"Yuk kita mulai acaranya."
Zolla mengapit tangan ayahnya dan melangkah hati-hati keluar kamar menuju taman.
***
Sementara Ezz sudah di tempat acara, tampak begitu tampan menggunakan setelan jas abu.
Ia nervous bukan main.
"Tenang dong, bro... Gugup amat." Komentar Reno melihat Ezz berkeringat dingin.
"Keliatan banget gue nervous?"
"Banget." Oka memberikan saputangan yang langsung dipakai Ezz menghapus keringat di dahi.
"Ya jelas lo nervous bakal nikahin perempuan yang bener-bener lo cintai." Kata Wahyu.
"Gue nggak nyangka aja. Dari dulu gue pikir cinta mati sama Zella. Tapi tiap lagi sama Zella, gue nggak ngerasain nervous atau seindah perasaan gue sekarang. Bahkan gue nggak pernah pengen cium dia. Waktu pernikahan gue sama Zella, gue nggak ngerasa gugup sama sekali cuma di otak gue penuh rencana nyiksa dia di pernikahan. Walau gue nyesel karena saat itu Zolla udah gantiin posisinya. Gue khawatir Zolla masih terbayang-bayang yang udah gue perbuat selama pernikahan dengan Zella." Ezz mengungkapkan unek-uneknya.
"Lo sendiri yang bisa ngatasinnya. Mulai sekarang, jaga Zolla. Karena kalian nggak tau kapan Zella akan muncul."
Semua temannya mendukung.
"Ehh bidadari lo dateng tuh..."
Jantung Ezz kontan berdegup kencang melihat kedatangan Zolla dengan balutan gaun pengantin, begitu cantik dan bersinar.
Zolla sendiri tidak berani mendongakkan kepala, sungguh gugup memasuki tempat acara.
Taman dihias sedemikian romantis dengan bunga-bunga mawar.
Gunadi sungguh ingin membuat moment untuk pernikahan Zolla sangat istimewa.
"Nggak apa-apa kan acaranya begini, sayang?" Tanya Gunadi.
Tanpa undangan. Hanya pegawai hotel yang menyaksikan, dan teman-teman Ezz.
"Aku suka banget, Pa." Senyum Zolla mengembang.
Gunadi dan Ezz bekerja keras semalaman membuat acara pernikahan ini berkesan.
Zolla dan Ezz duduk berdampingan di hadapan Gunadi dan penghulu.
Selama itu pula keduanya tak berani saling pandang.
"Apa pernikahan bisa dimulai?"
"Silahkan Pak."
"Baik, mempelai pria harap menjabat tangan Pak Gunadi."
Ezz begitu gugup hingga tangannya licin berkeringat.
"Arezzlar bin Praja Ardi, saya nikahkan dan kawinkan putri saya Zolla Elisa Putri binti Gunadi Hendrawan dengan mas kawin perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Zolla Elisa Putri binti Gunadi Hendrawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
Semua bersyukur membaca doa, dengan Zolla berlinang air mata haru sudah resmi menjadi istri Ezz.
Ezz menyematkan cincin di jari manis tangan kanan Zolla, lalu mengecup keningnya penuh sayang.
Zolla mencium tangan Ezz.
"Kita suami istri sekarang." Bisik Ezz membuat Zolla merona malu.
"Ezz, jaga Zolla baik-baik. Papa percaya kamu bisa bertanggung jawab." Kata Gunadi sambil mengusap kepala Zolla.
"Pasti Pa. Aku janji akan jaga dan mencintai Zolla selama aku bernyawa."
"Kamu bahagia, Nak?" Tanya Gunadi pada putrinya.
Zolla mengangguk sambil mengusap matanya.
"Ehh jangan dikucek, sayang... Nanti mata kamu kelilipan." Sergah Ezz.
"Aku pengen peluk Papa..."
"Tentu sayang." Gunadi memeluk putrinya penuh sayang.
***