Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Zella Hamil


Bukan main gembiranya penghuni rumah begitu mendapat kabar bahwa Zolla hamil anak kembar.


"Waduuhh Neng, selamat ya. Bibi nggak sabar nih mau gendong bayi. Pokoknya kalau Neng Zolla mau makan apa aja, kasih tau Bibi. Jangan dipendem lho nanti bayinya ileran." Bi Inah mulai wejangan.


"Iya Bi, aku lagi pengen minum susu jahe nih. Bibi buatin ya."


"Siap Neng, Bibi buatkan sekarang ya." Bi Inah langsung sigap ke dapur membuatkan pesanan Zolla.


"Selamat ya Neng Zolla, Mas Ezz, juga Bapak yang akan punya cucu. Kamu ikut gembira." Pak Tejo dan Pak Iyo ikut sumringah melihat kehangatan di keluarga ini.


"Terima kasih ya Pak."


Sepanjang bekerja di sini, yang Pak Iyo, Pak Tejo, dan Bi Inah lihat hanya ketegangan dan pertengkaran antara Gunadi dan Zella.


Berbeda dengan sekarang rumah penuh keceriaan.


Sifat Zolla yang berbanding terbalik dengan Zella menghangatkan suasana rumah yang semula dingin mencekam.


"Ezz, jaga Zolla baik-baik. Kalau perlu kalian pindah kamar di bawah. Agar Zolla tidak naik turun tangga." Kata Gunadi paling mengkhawatirkan putrinya.


"Baru aku mau minta izin itu ke Papa." Ezz terkekeh ia sehati dengan mertuanya. "Jadi boleh aku dan Zolla pindah ke kamar ujung Pa?"


"Tentu boleh. Nanti biar kamarnya dibereskan. Zolla jangan naik turun tangga lagi. Papa tidak mau putri dan calon cucu-cucu Papa kenapa-napa."


"Terima kasih Pa."


Belum apa-apa Gunadi sudah sangat protektif terhadap calon cucu-cucunya.


Begitu mereka menghubungi Praja dan Lastri reaksi lebih heboh lagi.


"Alhamdulillah..... Selamat ya Nak. Ezz, jaga Zolla baik-baik jangan kamu biarin sendiri kalau ke kamar mandi. Harus pastiin lantai kamar mandi nggak ada licin dan membahayakan Zolla. Lalu hati-hati ya Nak, jangan makan buah nanas. Masih muda kandungannya, bahaya. Duuhh Ibu nggak sabar pengen ngurus cucu-cucu Ibu. Sekali dikasih dapat kembar." Lastri nyerocos tidak memberi kesempatan bicara siapapun.


"Iya Bu. Pasti aku jaga Zolla. Ini aku juga lagi mau pindahan ke kamar bawah. Biar Zolla nggak cape naik turun tangga Bu."


"Bener itu. Jangan banyak capek. Nanti kalau menjelang lahiran, Ibu dan Bapak akan ke sana. Ibu ingin mengurus cucu-cucu Ibu."


"Pasti Bu. Cucu-cucu seneng pasti diurus sama neneknya."


Zolla cemberut melihat layar, mereka sedang video call, dengan posisi Praja dan Lastri sedang di depan rumah di mana di sekeliling rumah penuh pepohonan.


"Lho Zolla kenapa kok jadi cemberut?" Tanya Praja bingung.


Zolla berbisik di telinga Ezz yang langsung melotot lebar.


"Apa?? Sayang, di sini aja banyak kok. Kenapa harus yang itu?"


"Aku mau yang itu Kak."


"Ada apa Ezz?" Tanya Lastri bingung.


"Itu Bu, Zolla kepengen mangga muda dari pohon belakang Ibu Bapak tuh.."


Kontan Praja dan Lastri kaget.


"Nak, ini buahnya masih muda banget."


Zolla cemberut. "Mau itu Kak."


"Aduuhh sayang, di sini banyak. Aku cariin mangga muda di sini aja ya?"


"Nggak mau pengen yang itu."


"Tapi..."


"Iya iya Zolla ... Bapak akan ambilkan ya?" Praja sungguh terhibur dengan ngidam menantunya. "Bapak kirim paket kilat. Bagaimana?"


Tawaran Praja membuat Zolla sumringah seketika. "Iya mau Pak. Yang banyak ya Pak!"


"Iya.. sudah jangan cemberut lagi."


Senyum Zolla mengembang dan gelendotan manja di bahu Ezz yang langsung mengusap kepalanya gemas.


"Ada-ada aja istriku ini.."


***


Lain dengan Zolla dan Ezz yang berbahagia, Zella mulai jenuh terkurung di penginapan.


Namun pagi ini begitu terbangun Zella merasakan aneh pada tubuhnya.


"Huekk huekkk..." Spontan Zella berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan.


Foga kontan terbangun dan bingung Zella tak ada di sampingnya.


"Duuhhhh gue kenapa sih??"


"Zella kenapa lagi?" Foga menyingkirkan selimut dan menghampiri Zella di kamar mandi. Bingung melihat Zella muntah-muntah.


"Duuh Foga, pegangin gue dong, lemes banget badan gue..."


Foga langsung memapah Zella pelan-pelan dan dibaringkan di kasur.


"Bentar ya gue bikinin teh hangat." Foga ke meja pojok memakai teko listrik memasak air dan menyeduh secangkir teh.


Zella memijit-mijit pelipisnya. Belum pernah ia drop seperti sekarang.


"Ini teh nya, La.." Foga mengangsurkan cangkir teh.


"Udah enakan?" Foga mengusap tangan Zella lembut.


"Mendingan sih. Ini gue kenapa ya? Kok tiba-tiba mual?"


"Mungkin lo masuk angin. Gue gosokin minyak kayu putih ya."


Foga membuka laci mencari minyak, ketika matanya menatap sebungkus pembalut masih utuh.


"Zella?"


"Hmm?" Zella masih memejamkan mata berharap pusingnya berkurang.


"Lo telat menstruasi?" Tanya Foga membuat Zella tersentak dan mencoba mengingat.


"Itu..."


"Gue beliin pembalut ini sejak kita pindah ke mari. Tapi masih utuh. Berarti lo nggak menstruasi selama di sini."


Zella mulai pucat pasi sambil memandang perutnya.


"Jangan-jangan lo hamil, La."


Zella menggeleng cepat, panik. "Nggak! Gue nggak boleh hamil! Kita mau bergerak sebentar lagi. Kalau gue hamil, kondisi gue gimana??"


"Zella... Lo tenang ya?"


"Diem lo! Lo juga sih nggak pernah pake pengaman selalu keluarin di dalem! Jadinya gini kan?" Zella membanting bantal ke lantai.


"Lo yang sabar La. Gue bakal turun ke apotek beliin test pack. Lo tunggu di sini. Sekalian gue mau belanja Snack buat lo."


Begitu Foga pergi, Zella mendengus kesal memandangi perutnya.


"Masa' gue hamil? Ya nggak aneh sih hampir tiap hari gue tidur sama Foga. Mana nggak pernah pake pengaman, nggak pernah kenyang lagi dia tidurin gue mulu. Duuhh mana 4 bulan lagi gue harus balik ke rumah Papa!"


Satu jam kemudian, Foga sudah kembali membawa satu kantong makanan dan plastik obat.


"Nih La, lo tes dulu sana." Foga memberikan test pack.


Zella malah bingung membolak-balik benda itu. "Gimana cara pakenya?"


"Lo pipis dulu. Tampung urin lo di wadah. Terus masukin ini test pack sebatas garis. Tunggu aja. Kalo garis 1, berarti negatif lo nggak hamil. Kalo garis 2, berarti positif lo hamil." Jelas Foga begitu sabar.


Sambil berharap hasilnya negatif, Zella masuk kamar mandi untuk mengetes urinnya.


Foga menunggu harap-harap cemas di depan pintu. Kalau sampai Zella hamil, jelas dia ayah dari bayinya. Karena Zella tak pernah tidur dengan pria lain.


"Nggak mungkin!!!!" Jerit Zella nyaring membuat Foga menerobos masuk kamar mandi.


"Gimana La?"


Test pack tergeletak di lantai, sedangkan Zella menjerit-jerit marah. Mata Foga melebar melihat 2 garis pada test pack.


"Beliin gue obat penggugur kandungan sekarang, Ga! Gue nggak mau hamil dan punya anak!"


"Zella, lo tenang. Gue akan tanggung jawab."


"Emang cowok br*ngsek lo! Lo emang rencana hamilin gue kan makanya lo nggak pernah pake pengaman!" Zella melayangkan pukulan yang langsung ditangkis dan tubuhnya ditarik ke pelukan Foga.


"Lepasin! Gue mau gugurin anak ini!"


"Jangan, La. Ini anak kita."


"Tapi gue nggak mau urus anak."


"Kalo anak ini lahir, gue yang bakal ngurus. Lo nggak perlu repot. Tapi gue mohon jangan ngebahayain bayi ini, La."


Zella berusaha melepaskan pelukan Foga yang makin erat memeluknya.


"Gue cinta sama lo, La. Kalau lo udah bisa terima gue, kita bakal jadi orangtua lengkap buat anak kita."


"Gue nggak cinta sama lo, Ga!"


"Bohong!"


Zella tahu tak bisa berbohong pada Foga yang sangat mengenalnya. Memang ia pun terbiasa dengan kehadiran Foga dan cemas jika berjauhan.


Tapi kalau sampai ketahuan ayahnya dia hamil oleh laki-laki lain, bisa-bisa sepeser pun harta warisan tidak akan ia dapatkan.


"Ya udah gue nggak akan gugurin anak ini. Asal lo yang pimpin operasi kita sekarang."


Foga melepas pelukannya. "Gue bakal lakuin apapun untuk lo, La."


"Kita mulai gerak lagi. Lo yang bagi-bagi lokasi dan target. Berita terkait tentang kita udah redup. Waktunya kita bergerak. Harus lebih hati-hati."


"Oke La. Gue bakal pimpin operasi pengedaran kita. Untuk sementara waktu, kita bakal ngincar barang kecil aja. Kalau mau beli rumah, kayaknya pada waspada."


"Iya lah gimana lo aja. Gue lagi nggak bisa mikir. Pokoknya pulang bawa duit. Itu yang penting."


Foga menyiapkan bubur ayam yang dibelinya. "Lo makan dulu, La. Gue juga udah beliin banyak Snack. Kalo perlu bantuan gue, misscalled aja nanti gue ke mari."


Zella buang muka begitu Foga meninggalkan kamar.


"Moga semua lancar deh. Kalo aja kondisi gue nggak begini, pasti gue turun langsung. Gue udah rencana mau beli mobil dan lain-lain terus gue gadai. Mana bisa sekarang gue pergi. Nyusahin aja pake hamil!"


***