Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Will You Marry Me?


"Ini hasilnya La. Di luar dugaan, jauh lebih mudah."


Zella berbinar melihat tas berisi tumpukan uang.


"Ini hasil dari gue La. Gue beli banyak perhiasan emas dan gue jual lagi."


"Kalo gue, udah gue gasak uang di tempat gadai. Gue beli rumah dan gadai sertifikatnya. Gue berhasil dapat uang tunai 500 juta rupiah."


"Nggak ada yang curiga kan?"


"Sejauh ini belum. Karena kita nggak ada yang transaksi lewat mesin."


"Ya udah pada istirahat lo semua. Besok start lagi. Hindari titik-titik yang udah dilewatin."


"Siap La."


Semua anak buah balik badan ke kamar masing-masing.


Zella tersenyum sumringah melihat tumpukan uang.


Muncul Foga membawakan secangkir teh.


"Ga, liat nih, baru pertama terjun aja, kita udah dapet hasil segini banyak. Nggak perlu lo raguin kemampuan gue lagi. Kalau begini terus, nggak sampe setahun kekayaan bokap juga lewat." Zella sungguh percaya diri.


'Kalau begitu buat apa lo perlu kekayaan bokap lo lagi?" Foga menyerahkan cangkir teh. "Minum nih. Udaranya lagi dingin."


"Nggak ada dingin-dinginnya. Gue malah gerah. Dengan uang-uang ini, gue bakal buktiin sama bokap, gue ini bisa berguna. Selama ini bokap ngeremehin gue. Selalu ngatur yang gue lakuin. Bokap anggap gue nggak bisa apa-apa. Sekarang liat aja, gue bisa ngehasilin tanpa bantuan bokap."


Foga geleng-geleng kepala. "Lo lupa untuk mulai ini semua lo ngegasak harta bokap lo?"


"Berisik lo!" Zella berbinar mengeluarkan semua uang di tas-tas.


"Emang lo yakin aman-aman aja? Lo nggak takut Zolla ambil alih aset bokap lo?"


Zella tersenyum sinis. "Cewek bego gitu mana berani. Cuma gue yang berhak atas itu semua."


"Gimana kalau selama lo pergi, bokap lo udah nikah lagi? Dan ketika lo balik, lo bakal punya adik yang jadi pewaris?"


"Nggak mungkin! Gue udah ancam Zolla untuk nolak kalau bokap mau nikah lagi dengan siapapun."


"Zolla kan beda sama lo. Lo yakin aman-aman aja dia di sana?"


Zella mulai ragu, namun berusaha tidak peduli.


"Bagus kalo dia bisa bikin Kak Ezz maafin gue. Jadi kalau gue balik Kak Ezz nggak bakalan benci gue lagi. Gue punya harta banyak, aset atas nama gue. Ini tujuan gue ada di sini."


"Oke lah kalau itu yang lo pikir. Lo jadi pewaris tunggal dan Zolla nggak punya hak. Tapi gue rasa ada satu kemungkinan yang bisa ancam posisi lo."


"Apa itu?"


"Anaknya Zolla." Kata Foga membuat Zella tersentak.


"Anak Zolla?"


"Iya. Secara sekarang Zolla di posisi lo sebagai istri Ezz. Kalo sampai dia hamil, anaknya pasti dapat bagian dari bokap lo."


"Gue udah kasih peringatan supaya jangan sampai..."


"Lo yakin tu dua orang kuat kagak ML?" tanya Foga santai membuat Zella terdiam.


"Kalo gue di posisi Ezz, gue bakal tiap hari tuh makan body nya si Zolla."


Perkataan Foga mulai mengganggu pikiran Zella.


Bener juga ya, kalau sampai dia hamil anak Kak Ezz, Papa juga nggak akan tinggal diam. Pasti anak itu bakal ada di surat wasiat Papa, batinnya.


Ia mengambil HP nya dan mengirim SMS pada Zolla.


#Kak Ezz udah maafin gue belom?#


Ia jadi cemas juga namun berusaha tak peduli.


***


#Zella kirim SMS. Gue bakal lacak keberadaannya.#


Ezz hanya tersenyum miring membaca chat Oka.


#oke gue percaya sama lo semua. Gue lagi di Bali sama Zolla.#


Oka langsung membalas.


#buruan nikahin, kayak lo kuat aja tiap ketemu dia.#


Ezz membalas lagi.


#tunggu kabar baik aja.#


Pintu kamar terbuka, Zolla sudah siap mengenakan dress selutut biru dan cardigan putih. Rambutnya digerai, wajahnya dipoles make up tipis.


"Oke Kak, aku udah siap."


"Gemesnya Arezzlar cantik banget sih..." Ezz mencubit gemas pipi Zolla.


"Iiihhhh genit aja bisanya."


Ezz mau mencium Zolla langsung menghindar.


"Iihh Kak Ezz nih.. ayo pergi, keburu terbenam mataharinya."


"Iya.. yuk."


Berdua mereka bergandengan tangan keluar hotel.


Hotel tempat mereka menginap memang tepat di pinggir pantai. Begitu keluar hotel pemandangan pantai Kuta memanjakan mata.


"Bagus banget pemandangannya Kak.." Zolla begitu terkagum-kagum sampai tak kedip melihat matahari berbentuk bulat oranye.


"Kita duduk di bawah pohon kelapa. Biar santai lihatnya."


"Jangan di bawah pohon kelapa Kak. Ntar ketiban kelapa benjol lho."


Ezz langsung tertawa. "Ya udah kita jalan kaki aja."


Zolla mengangguk semangat dan bergandengan tangan berjalan menyusuri pinggir pantai.


"Zolla, kamu masih ada rasa benci sama aku?" Tanya Ezz membuat Zolla menoleh heran.


"Aku nggak benci sama Kak Ezz kok. Kenapa Kakak tanya begitu?"


"Ya secara waktu kita serumah, aku nggak pernah perlakukan kamu dengan baik. Aku siksa kamu sampai kamu jatuh sakit. Bahkan aku perkosa kamu tanpa peduli kamu menjerit minta ampun." Bayangan ketika Zolla menangis merintih minta ampun agar Ezz menghentikan menyakitinya, terbayang-bayang membuatnya merasa bersalah.


Zolla terdiam dan memalingkan wajah ke arah laut lepas.


"Nggak usah ngerasa bersalah Kak. Aku nggak apa-apa kok. Aku juga pernah kerja jadi pembantu ngegantiin Ibu. Aku bahkan cuma boleh makan sekali dan bekerja dari pagi sampai sore."


Langkah Ezz kontan terhenti dan menatap Zolla lekat.


"Aku bener-bener nyesel, Zolla."


Zolla menggeleng dan tersenyum. "Itu kan karena Kakak kecewa sama Zella. Bukan karena Kakak benci sama aku. Aku nggak masalah asal Kakak sekarang udah tau kalo aku bukan Zella."


Ezz menatap Zolla lekat. "Sekali lagi maafin aku. Bahkan kamu sampai berkorban demi aku."


"Itu karena aku nggak mau Kak Ezz kenapa-napa. Sama seperti dulu. Walau aku jadi kena marah Ibu, karena nekat ke sarang penjahat gitu. Tapi aku takut Kakak mati karena aku lihat Kakak disiksa begitu."


Ezz memegang kepala Zolla. "Dan kamu tau kenapa aku pacaran sama Zella?"


Zolla menggeleng.


"Karena aku ngira dia yang selamatkan aku 5 tahun lalu." Pengakuan Ezz membuat Zolla terkejut.


"Kamu langsung pergi begitu aja. Tapi aku sempat melihat wajah kamu yang aku selalu ingat. Setelah itu aku bertemu Zella di arena balap liar dan kami jadi dekat. Aku mengira dia itu kamu, maka aku begitu mencintai dia. Dan ternyata bukan dia yang aku cinta sejak lama tapi kamu Zolla."


Zolla langsung salah tingkah bingung dengan pernyataan Ezz.


"Aku sayang kamu, Zolla."


Air mata Zolla menitik. "Aku juga sayang Kakak."


Ezz mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kotak kecil.


Lalu pria itu berlutut di hadapan Zolla dan membuka kotak itu.


"Will you marry me?"


Zolla terkejut sampai menutup mulut melihat cincin berkilauan di depan matanya.


Sementara orang-orang yang berlalu-lalang tiba-tiba bergerumul menyaksikan acara melamar ketika matahari terbenam di pantai Kuta.


Terlalu sayang sweet moment begini dilewatkan. Suara angin dan debur ombak seakan menjadi musik pengiring.


"Kak... Banyak yang lihat..." Kata Zolla tertahan.


"Kamu cukup jawab, Zolla. Aku ingin kita menikah dan menjadi suami yang baik untuk kamu."


Semua yang menonton bersorak menyuruh Zolla menerima lamaran Ezz.


"Aku mau, Kak.." jawab Zolla akhirnya membuat semua bertepuk tangan.


Ezz langsung menyematkan cincin di jari manis Zolla lalu berdiri.


Sementara pemandangan matahari terbenam begitu indah, bulatan oranye itu tenggelam perlahan seperti ditelan lautan.


"Cium dong, Mas!" Teriak yang menonton membuat Zolla bersemu merah.


"Ayo pergi Kak.." Zolla khawatir Ezz nyosor di depan semua orang.


***