Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Tukar Posisi


Di sebuah kamar dengan jendela teralis hitam, seorang wanita terbaring di ranjang. Dia Zolla yang asli.


Zella sudah bertukar posisi dengan menculiknya dan menukar pakaiannya.


Foga masuk kamar membawakan sepiring nasi dan semangkuk sop ayam.


Mata Zolla terbuka, dan mengerjap sebentar.


"Aku di mana?"


"Lo udah bangun, La?"


Zolla tersentak melihat Foga di depannya.


"Foga? Aku di mana ini? Kenapa kamu ada di sini??" Zolla jadi takut apalagi melihat pakaiannya berbeda.


"Nggak usah takut. Lo baik-baik aja."


"Baik-baik gimana? Kenapa bajuku jadi begini?"


Foga terdiam menatap sosok Zolla yang berbanding terbalik dengan Zella.


"Foga, kamu culik aku? Tapi kenapa? Aku nggak buka mulut sama sekali tentang Zella."


"Ini keputusan Zella sendiri, La. Dia sekarang dia ada di rumah lo. Ambil alih posisinya."


"Apa?? Tapi Ga, kenapa sekarang? Perjanjiannya juga masih sebulan lagi. Lagipula kalau Zella di sana, Kak Ezz bakal curiga karena aku lagi hamil. Kalau Zella yang datang..."


"Zella juga sedang hamil." Kata-kata Foga mengejutkan Zolla.


"Zella hamil? Sama kamu?"


Foga tak menjawab. "Lo aman di sini. Sekarang lo makan dulu. Ada perlu apapun kasih tau gue."


Baru Foga balik badan, Zolla memanggilnya lagi.


"Jadi benar kan kalian sindikat pengedar uang palsu itu?"


Foga menatapnya tajam. "Ini semua gara-gara bokap lo! Zella jadi lost control. Dia pengen buktiin sama bokap lo kalau dia anak yang guna bisa cari duit."


"Foga, apapun alasannya kalian sekarang udah jadi buronan. Cepat atau lambat, kalian pasti tertangkap."


Foga diam saja, lalu berbalik keluar kamar.


Zolla menangis ketakutan. "Gimana ini? Ada Zella di rumah. Gimana kalau Kak Ezz nggak tau itu bukan aku? Gimana kalau Zella mau celakain Papa?"


Ia sungguh takut Zella membuat kekacauan di rumah. Padahal ia sudah membuat situasi yang kondusif di rumah.


Zolla memperhatikan sekeliling kamar. Sepertinya tak ada jalan keluar. Jendela pun dipasang teralis.


"Kak Ezz... Tolong aku Kak."


***


Yang mana Ezz sedang menikmati moment balas dendam yang tertunda.


"Kak kok belum ngantuk juga? Aku udah capek nih pijit terus!"


Ezz tersenyum sinis. Jelas lah lo capek, lo kan Zella si murahan, batinnya.


"Kok ngeluh gitu? Biasanya juga tiap malem kamu pijit aku sampai aku tidur."


"Ya tapi kan aku sekarang lagi hamil. Pegel tau."


"Katanya mau nurut jadi istri. Nggak usah dibawa manja deh."


"Wajar dong aku manja lagi hamil anak kamu!"


Ezz beringsut duduk di pinggir ranjang. Wajah cantik yang merengut licik, jauh berbeda dengan mimik muka Zolla sang istri.


"Kenapa kamu jadi banyak ngeluh? Biasanya juga nurut aja."


Lo pengen kibulin gue, nggak akan bisa!


"Tau ah! Aku mau tidur!"


Zella berbaring di ranjang dengan wajah kesal.


Ezz bergegas turun dari ranjang dan memakai bajunya.


Lalu keluar kamar.


"Gue kira udah lama tu cewek di sini Kak Ezz udah bersikap baik. Kenapa gue dijadiin pembantu??"


Ezz yang masih berdiri di ambang pintu tersenyum menyeringai mendengar umpatan Zella.


"Gue harus cari tau dimana Zolla sekarang!"


Ada chat masuk dari Oka beserta rekaman video CCTV di taman.


#Zolla dibawa naik mobil di taman. Dalam waktu setengah jam, mobilnya kembali dan Zolla turun dari mobil. Nomor polisi mobil itu palsu.#


Jelas Zolla dibius dan dibawa pergi untuk ditukar dengan Zella. Harusnya mereka bertukar bulan depan ketika hari ulang tahun pernikahan yang hanya Zella tau. Tapi dia datang ke mari dalam kondisi hamil dan sembunyikan Zolla, gue nggak akan lepasin dia. Sampai gue temukan Zolla! Batinnya.


***


Sudah menjelang dini hari, Zolla terbangun dan merapatkan selimut.


Takut dan lelah sudah dibuangnya jauh-jauh. Ia harus memikirkan cara untuk keluar dari tempat ini.


Tapi bagaimana caranya?


"Aku juga nggak tau ini ada di mana. Dan sekarang Zella ada di rumah. Papa juga akan pulang nanti malam. Gimana kalo Zella coba celakain Papa kalau Papa sebut namaku??"


Terdengar suara dari luar ruangan, seperti suara beberapa orang berbincang.


Zolla turun dari ranjang dan mendekat. Ia menempelkan telinga pada daun pintu agar mendengar lebih jelas.


"Jadi gimana kita selanjutnya?"


"Sekarang gini aja .. " suara Foga. "Bawa barang-barang ini untuk digadai. Setidaknya kita nggak numpuk barang dan bisa dapat uang asli."


"Tapi gimana kalau ada yang curiga?"


"Yah pinter-pinter kalian aja. Sekarang posisi kita udah terjepit. Setiap sudut jalan keluar, pelabuhan, bandara, terminal, stasiun, semua sudah ditandai. Kita udah dicurigai apalagi dengan sikap lo semua yang nggak bisa tenang. Dan lo Beno, pimpin mereka. Jangan sampai ada yang tertangkap lagi. Kalau keadaan udah aman, baru kita melarikan diri."


"Terus di sini gimana kalau ada yang curiga kita sembunyi sembunyi di sini?"


"Nggak akan. Gue udah pasang label disegel Bank. Semua mikir ini kosong. Mumpung Om gue masih di luar negeri dan adik sepupu gue nggak akan ke mari lagi liburan. Udah deh gue udah rencanain ini mateng-mateng. Lo semua tinggal ikutin yang gue suruh."


"Oke Ga. By the way, yang di dalem tu Zella kan? Kenapa lo kurung?"


"Bukan urusan lo. Dia lagi kurang sehat karena lagi hamil. Jadi gue nggak ngasih dia keluar rumah. Mumpung masih gelap, sekarang semua bergerak. Lewat pintu belakang dan masuk gudang, pakai kendaraan dan hindari masuk jalan raya apalagi sampai tilang polisi. Ini semua motor bodong tanpa surat-surat yang udah dipoles. Hati-hati jangan bikin warga curiga."


Tak lama terdengar langkah-langkah kaki menjauh. Zolla bergegas naik tempat tidur lagi mendengar langkah mendekat.


Klek..


Pintu kamarnya dibuka dari luar, kontan Zolla pura-pura tidur.


"La, Zolla.."


Zolla membuka mata dan menguap lebar. "Kenapa Ga? Aku udah boleh pergi?"


Foga membawakan kantong kertas. "Ini baju ganti, peralatan mandi, dan lain-lain. Gue mau pergi dulu untuk beliin lo sarapan."


"Sarapan? Emang ini udah pagi?"


"Baru jam 4 pagi. Lo mau sarapan apa?"


"Ga, tapi kalau kamu pergi, aku di sini sama siapa? Ini rumah siapa aku kan nggak tau."


"Ada yang jaga lo di bawah. Lo aman di sini."


"Tapi sampai kapan?"


"Sampai gue dapet perintah dari Zella. Udah nggak usah cerewet. Sekarang lo mau gue beliin apaan?"


Zolla berdeham. "Aku mau bubur ayam lengkap pake cakwe, jangan pakai sambel dan bawang daun, kacangnya sedikit. Terus aku mau bolu kukus pelangi yang warnanya hijau sama merah. Terus susu UHT rasa strawberry. Terus..."


"Stop stop... Mending lo catet deh di kertas." Foga pusing duluan sambil mengangsurkan pulpen dan kertas.


Begitu Zolla selesai menulis semua pesanannya, Foga meninggalkan kamar sambil bengong membaca pesanan.


"Untung lo lagi hamil. Gue turutin deh lo mau makanan segini banyak." Sungut Foga sambil mengunci pintu dari luar.


"Mumpung dia pergi, aku harus cari bantuan." Zolla membuka gorden dan melihat suasana masih gelap.


Kamarnya berada di lantai 2. Di bawahnya terdapat halaman rumah yang luas dengan taman air mancur.


Namun tak terlihat tanda-tanda ada orang.


"Jangan-jangan mereka sembunyi di rumah kosong ini. Aku harus cari cara, gimanapun juga mereka semua harus ditangkap."


Zolla membuka lemari. Ada dus besar isi mainan.


"Ini pasti mainan anak pemilik rumah ini. Mainan anak laki-laki."


Ia mencari-cari sesuatu yang mungkin berguna.


Senyumnya mengembang melihat benda yang dicarinya.


"Sekarang ada yang bisa aku jadiin batu nggak?" Ia mencari-cari lagi dan menemukan sekantong kelereng.


"Ini dia."


Begitu sudah menemukan yang dicari, ia menyembunyikan di bawah bantal lalu membereskan semua kembali ke lemari.


***