
3 bulan kemudian...
Ezz, Gunadi, tak lupa Praja dan Lastri, menanti harap-harap cemas Zolla yang sedang operasi caesar.
Ezz apalagi, tak bisa menutupi kecemasannya. Sampai tak henti berkeringat.
"Halo, iya aku sedang di Jakarta. Menantuku melahirkan. Iya cucuku yang pertama. Kembar lho. Nanti aku kabari lagi. Aku cukup lama di Jakarta ingin mengurus cucuku dulu. Sebelum waktunya panen aku dan Mas Praja akan pulang ke kampung. Duuhh aku ndak sabar ini ingin melihat cucu." Lastri sibuk menelepon tetangga di kampung.
"Halo, Pak Indra, mohon maaf pertemuan hari ini kita tunda. Anak saya melahirkan. Ini cucu pertama saya. Iya benar. Nanti kita reschedule meeting. Terima kasih." Gunadi pun sibuk membatalkan jadwal hari ini ingin menemani Zolla.
Praja sibuk menenangkan Ezz yang begitu cemas.
"Lama banget, Pak. Zolla dan anak-anakku selamat kan?" Ezz tak bisa duduk tenang.
"Berdoa saja Nak. Hanya itu yang bisa kita lakukan."
Ezz menggesek kedua tangannya, matanya tak lepas dari pintu ruang operasi.
Begitu operasi sudah berlangsung 2 jam, pintu terbuka. Semua langsung memburu Nagisa yang keluar sambil membuka masker.
"Gimana operasinya?"
"Gimana kondisi Zolla, Tante??"
Nagisa tersenyum. "Selamat ya Ezz, anak kamu kembar laki-laki."
Semua langsung bernafas lega.
"Alhamdulillah..."
"Kembar laki-laki, Pak! Cucu kita..." Lastri tak bisa menutupi kegembiraannya.
"Bagaimana dengan Zolla, Tante?" Tanya Ezz.
"Zolla sudah stabil dan akan segera dipindah ke kamar rawat. Anak-anak juga sehat berat badan mereka hanya berbeda 1 ons. Tangisannya juga nyaring bersahutan."
Kamar rawat VVIP begitu berisik Lastri tak henti mengambil foto cucu-cucunya yang masih tertidur di boks.
Praja dan Gunadi berpelukan begitu bangga.
"Impian kita jadi besan sudah terwujud. Sekarang kita punya 2 cucu yang tak kalah tampan dengan ayahnya."
"Masa tua kita sudah sempurna."
Ezz tak henti mengusap lembut wajah Zolla yang pucat.
"Terima kasih perjuangannya, sayang. Anak-anak kita nggak kalah ganteng sama aku."
Zolla tersenyum kecil. "Ya pasti mirip ayahnya dong. Asal jangan tukang gombal kayak ayahnya."
Ezz terkekeh dan mengecup punggung tangan Zolla berkali-kali.
"Makasih atas perjuangannya, sayang. Aku takut banget waktu tadi kamu dibawa ke ruang operasi. Alhamdulillah kalian bertiga selamat."
Zolla tersenyum lega meski wajahnya masih pucat.
"Ezz, siapa namanya?" Tanya Gunadi.
"Namanya Zayn dan Zayden, Pa." Jawab Ezz.
Ia dan Zolla memang sudah menyiapkan 6 nama karena belum tahu jenis kelamin si kembar dalam kandungan. Nama bayi kembar laki-laki, nama bayi kembar perempuan, nama bayi kembar sepasang. Kalau tidak begitu, pasti akan jadi perang debat terpanas karena orangtuanya akan berlomba ingin memberi nama.
"Duuhh ganteng kayak nama artis ya Pak."
Air mata Zolla mengalir memandang kedua anaknya.
"Lho sayang kok nangis?" Tegur Ezz.
"Aku nangis bahagia kok Kak. Jadi inget sama Ibu. Andai Ibu ada di sini. Pasti Ibu bahagia lihat Zayn dan Zayden lahir dengan selamat. Seperti aku dan Zella dulu." Teringat Zella membuatnya murung lagi.
Saudara kembarnya itu belum pulih, makin kurus dan sudah jarang bicara.
"Nanti kalau aku udah sehat, kita bawa Zayn dan Zayden jengukin Zella ya Kak? Aku harap kehadiran mereka bisa menggugah hati Zella. Aku sangat berharap Zella bisa pulih kembali."
Ezz terdiam. Sebenarnya ia begitu waspada jika berhubungan dengan Zella. Karena kondisi gadis itu yang belum normal. Khawatir malah membahayakan Zolla dan anak-anak. Tapi Ezz tak ingin membuat Zolla kecewa.
"Iya sayang, kalau udah sehat nanti kita program anak ketiga."
Ezz terkekeh dan mencubit pipi Zolla pelan. "Bercanda, sayang."
Ezz dan Zolla menikmati moment kelahiran kedua jagoan dalam pernikahan mereka.
***
Di sebuah ruangan privat rumah sakit jiwa, Zolla dan Ezz duduk menunggu sambil menggendong Zayn dan Zayden yang sudah berumur 2 bulan.
Tak lama suster masuk mendorong kursi roda dimana Zella duduk dengan tatapan kosong.
Zolla kontan menggigit bibir menahan tangis melihat kondisi Zella yang begitu memprihatinkan.
Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, matanya sayu.
Seakan tak punya semangat hidup.
"Akhir-akhir ini pasien jarang bicara. Namun sering menangis tiba-tiba jika malam akan tidur." Laporan dari suster membuat miris.
Pasti Zella masih teringat Foga, batin Zolla.
Zolla mendekati Zella yang masih duduk dengan tatapan kosong.
"Zella, ini aku Zolla. Ini aku bawa si kembar ganteng keponakan kamu. Mereka mirip sekali. Sama seperti kita berdua. Coba kamu lihat, Zella. Ini namanya Zayn. Yang itu namanya Zayden."
Tiba-tiba Zayn dan Zayden kompak menangis membuat Zella bergeming, lalu menatap kedua bayi kembar itu.
Senyumnya mengembang, tangannya langsung mengelus kepala Zayn.
"Ehh anak Mama.. jangan nangis aja." Zella mengecup kening Zayn, yang tangisnya langsung berhenti.
"Iya ini anak kamu juga, Zella." Zolla menitikkan air mata haru. Zella mau berbicara semanis itu pada bayinya.
Ezz membawa Zayden ke hadapan Zella yang langsung melotot.
"Eh ada 2. Itu sama ini. Pada botak. Mirip. Kayak Upin Ipin." Zella tergelak memegang kepala gundul keduanya.
Zolla dan Ezz tersenyum miris.
"Cepat sembuh ya Zella. Zayn dan Zayden pasti senang kalau kamu pulang dan ikut merawat mereka." Kata Zolla berkaca-kaca.
Tawa Zella terhenti, wajahnya murung lagi lalu celingukan panik.
"Anakku? Anakku mana? Yang ini bukan anakku. Anakku perempuan, pake baju bagus kayak Barbie. Suster, anakku di mana??? Pasti haus ya anak Mama.. suster mana anakku....???" Zella menjerit-jerit membuat Zolla dan Ezz prihatin.
Zella begitu terpukul kehilangan anaknya. Padahal dulu ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak.
Air mata Zella bercucuran. "Foga kamu ke mana sih kok belum pulang? Aku dan anak kita masih menunggu kamu."
Zella terisak teringat Foga. Sahabatnya yang begitu mencintainya dan mau berkorban untuknya.
Meski terlambat, ia menyadari bahwa ia mencintai Foga.
Suster masuk membawakan boneka dan langsung direbut Zella.
Zella memeluk boneka sambil menangis. "Nak, kita susul Papa aja yuk. Mama nggak sanggup tanpa Papa."
Zolla sekuat tenaga menahan agar tidak menangis dan berdiri di belakang punggung Ezz, tak tahan melihat kondisi Zella.
Sampai Zella dibawa pergi, Zolla meledakkan tangisnya di bahu Ezz.
"Sayang..."
"Aku nggak tega liat kondisi Zella Kak."
"Iya aku juga. Tapi kamu jangan nangis histeris gini nanti Zayn dan Zayden malah takut."
Zolla meredam tangisnya berusaha tersenyum karena Zayn menatapnya tak kedip.
"Maafin Ibu ya sayang.." ia mengecup kening Zayn. Lalu beralih mengecup kening Zayden.
Ezz sangat memahami yang dirasakan Zolla, pasti tak mudah. Melihat saudara kembarnya terluka seperti itu.
***