Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Bab 8


Sudah beberapa Minggu bekerja di cafe membuat Naura merasa bosan. Sepertinya ia tidak cocok menjadi pelayan cafe. Tapi karena waktu itu Naura memohon-mohon kepada Rizky, dengan terpaksa ia harus menjalani pekerjaan ini.


Malu juga jika ingin keluar, sebab Naura khawatir jika nanti temannya Rizky akan kecewa kepada Rizky karena Rizky yang memohon agar Naura kerja di cafe, tetapi Naura nya malah ingin keluar, kan itu menyebalkan sekali.


Kalau boleh jujur, kerja di cafe tidak begitu sulit. Cuma mencatat pesanan, membuat pesanan dan mengantarkannya ke pelanggan. Selain itu, para pekerja disini cukup friendly orangnya, jadi tidak ada kecanggungan satu sama lain.


Ngomong-ngomong soal kuliah, Naura kuliah setiap hari Senin, Selasa dan Rabu. Sedangkan hari Kamis sampai Sabtu, ia sibuk bekerja.


Dan juga biasanya hari Sabtu, Naura bekerja lebih lama dibandingkan hari Kamis dan Jumat, dikarenakan pasti banyak pelanggan jika malam Minggu. Maka dari itu cafe buka dari jam 4 sore sampai jam 10 malam.


Karena dalam seminggu ini Naura sangat sibuk, ia jadi tidak sempat bertemu dengan Rizky. Sebenarnya Naura ingin sekali bertemu dengannya. Namun bagaimana lagi, Naura sangat sibuk dengan pekerjaannya dan juga Rizky sibuk dengan kuliahnya, katanya sih Rizky sibuk karena banyak tugas.


Btw, karena hari ini malam Minggu, maka Naura memutuskan untuk meminum kopi, supaya ia tidak mengantuk saat bekerja.


"Naura!" seseorang memanggilku.


Spontan Naura melihat kearah seseorang yang baru datang. Naura sempat tak berkedip karena terpesona dengannya.


Tunggu, kenapa Rizky mengubah gaya rambutnya?


Sejujurnya Naura sangat menyukai gaya rambut baru Rizky saat ini, ia terlihat tampan seperti oppa-oppa Korea.


Saking terpesona dengan penampilan Rizky, sampai-sampai kopi yang Naura pegang tumpah ke lantai.


"Ra, kamu kenapa?" mata Naura berkedip karena Rizky membuyarkan lamunannya.


"Gak kenapa-napa kok."


"Kopi kamu tumpah."


Sontak Naura langsung menyimpan kopinya. "Ya ampun! kok bisa tumpah sih."


"Makanya jangan melamun."


"Aku melamun karena aku kaget, kok bisa ada jomblo yang malam Minggu-an."


"Jomblo bilang jomblo."


"Oh iya, mau pesan apa?"


"Aku mau ice cappucino sama cheese cake. Tapi cheese cake nya buat kamu."


Naura tersenyum. "Buat aku?"


"Iya buat kamu."


"Terima kasih, tuan muda."


"Iya sama-sama, Asistenku." Walaupun kesal, namun Naura senang karena ditraktir oleh Rizky.


Naura membuatkan ice cappucino. Sedangkan Rizky, ia pergi ke lantai dua. Mungkin karena Rizky ingin menikmati langit di malam hari.


Ngomong-ngomong soal taruhan yang waktu itu, Naura sama sekali tidak menepati janjinya. Ia memanggil Rizky dengan sebutan tuan muda hanya ketika ingat saja.


Selain itu, Rizky juga jarang menyuruh Naura untuk melakukan sesuatu. Kalau diingat-ingat, Naura sangat menyesal, karena bekas luka dilututnya belum hilang. Harusnya waktu itu Naura tidak mengajak taruhan dengan Rizky, jika jadinya akan seperti itu.


Ice cappucino telah jadi. Naura mengantarkan minuman itu ke Rizky yang berada di lantai 2. Pada saat ke lantai 2, Naura melihat Rizky yang sedang mengobrol dengan Zidny. Entah kenapa hati Naura terasa sakit saat melihat Rizky yang sedang tertawa melihat Zidny.


"Ekhem!" Naura meletakkan minuman pesanan Rizky di meja.


"Ky, aku kesana dulu ya," ujar Zidny.


"Iya," ujar Rizky sambil tersenyum. Setelah Zidny pergi, Rizky masih menatap kepergiannya.


Baru kali ini dada terasa sesak. Apakah ini yang dinamakan cemburu?


Tiba-tiba mata Naura mulai panas, seolah-olah akan mengeluarkan air mata.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Rizky saat melihat mata Naura yang berkaca-kaca.


"Gak kenapa-napa kok."


"Ada masalah lagi ya?"


"Gak ada kok."


Rizky berdiri dan mendekat kearah Naura, lalu ia melepaskan ikat rambutku.


"Kenapa dilepas?"


"Mau dirapihkan," ujar Rizky sambil merapikan rambut Naura dan ia mengikatnya kembali.


Tubuh Naura membeku, sebab wajah Rizky begitu dekat dengan wajahku.


"Nah, gini dong! kan jadinya cantik."


Pipi Naura merona, ia salah tingkah sebab Rizky memujinya. Jujur saja, baru kali ini Rizky memuji kecantikan Naura.


"Kamu pakai makeup ya?"


"Iya, tapi aku pakai bedak sama liptint doang."


"Bukan bedak sama liptint. Tapi makeup yang di pipi."


"Blush on?"


"Aku gak pakai blush on."


"Tapi kok pipi kamu warna pink."


"Hmm...karena kepanasan kali, makanya jadi warna pink."


Rizky memegang kening Naura. "Kamu sakit?" Naura menggelengkan kepalaku seraya menjawab tidak.


"Tapi kening kamu kok panas."


Naura memegang keningnya dan benar juga bahwa keningnya panas.


"Atau mau pulang aja? kalau kamu mau pulang, nanti aku ijin ke Dimas."


"Aku gak sakit, Ky."


"Beneran gak sakit?"


"Iya bener."


"Ya uudah aku kesana ya," ujar Naura sambil pergi melayani pelanggan yang lain.


...****************...


Naura menghampiri Rizky. "Ky, maaf ya. Kamu jadi harus nunggu disini."


"Gak apa-apa kali, lain aku senang ada disini."


"Senang kenapa?"


"Soalnya disini banyak orang."


"Ya udah ayo pulang! aku udah ngantuk nih."


Rizky memakaikan jaket miliknya ke tubuh Naura.


"Kenapa dipakaikan ke aku?"


"Biar kamu gak masuk angin, soalnya kan aku bawa motor."


"Terus kalau kamu kedinginan gimana?"


"Kan nanti kamu peluk aku, jadi aku gak kedinginan deh."


Setelah itu, Rizky mengantarkan Naura pulang. Karena tadi Rizky minta dipeluk, akhirnya Naura menuruti kemauannya.


Naura melihat senyuman Rizky dari kaca spion. Lalu, ia kembali bertanya-tanya, apakah memang benar jika Rizky juga menyukaiku?


"Iky." panggil Naura.


"Kenapa, Ra?"


"Sekarang kamu lagi suka sama seseorang gak?"


"Kepo banget sih kamu."


"Pasti ada yang kamu suka ya?"


"Kalau misalnya ada gimana?"


"Ya bagus deh, berarti kamu sebentar lagi gak jomblo."


"Kalau kamu sendiri gimana?"


"Aku lagi gak suka sama siapapun."


"Bagus deh kalau gitu."


"Maksudnya?"


"Berarti sekarang kita sama-sama masih jomblo."


Naura mengira Rizky berkata seperti itu karena Rizky menyukainya. Tapi ternyata, dia malah senang karena kita sama-sama jomblo.


Sepertinya Naura memang sangat kepedean, sehingga mengira Rizky menyukainya.


Tunggu, Naura merasakan sesuatu yang mengelus punggung tangannya.


Ya benar, punggung tangannya dielus oleh Rizky.


"Gak kerasa ya, kita udah tumbuh besar," ujar Rizky sambil kembali meletakkan tangan kirinya di stang motor.


Padahal tadinya Naura sangat senang saat dia menyentuh tangan Naura, tapi dia malah menyudahinya.


"Iya, gak kerasa banget."


"Aku beruntung banget deh punya kamu."


"Aku juga beruntung banget punya kamu."


Rizky tertawa terbahak-bahak. "Tapi bohong."


Spontan Naura mencubit perut Rizky. Bagaimana bisa dia menyebalkan seperti itu. Padahal tadi Naura sempat terharu karena ucapannya yang bilang bahwa dirinya beruntung memiliki Naura.