
Di gudang kosong, sudah dini hari.
Namun 2 pria yang tertangkap belum bisa memberi info apapun.
Ezz dan teman-temannya sampai kehabisan akal mendesak mereka buka mulut, walau percuma.
Salah satu ada yang tergagap bibirnya kering tanda haus.
"Kenapa? Lo haus?" Tanya Wahyu sambil menyodorkan sebotol air, namun ditarik lagi.
Tatapannya memohon meminta minum.
"Sekarang lo tulis dulu di kertas, siapa nama bos lo! Baru gue bakal kasih air ini."
2 pria itu saling pandang, wajah mereka pucat karena kehausan. Tubuh mereka diikat kuat di kursi.
Akhirnya mereka menganggukkan kepala.
Ezz meletakkan selembar kertas dan pulpen di meja. Oka membuka ikatan dan menahan tangan kiri di belakang punggung.
"Jangan coba-coba ngelawan kalau masih pengen hidup!"
Pria kurus itu mengangguk dan mengambil pulpen, tangannya gemetar dan menulis di kertas.
Tulisannya terputus-putus karena dia gemetaran.
Namun Ezz jelas membaca nama Zella yang ditulis pria kurus itu.
"Di mana dia sekarang?"
Keduanya saling pandang takut. Bingung memberitahu.
"Lo berdua nggak ada pilihan. Kalo lo mau kasih tau tentang bos lo si Zella ini, kita pastikan lo berdua aman. Kalian nggak bakal ditangkap polisi. Tapi kalo kalian nggak mau kerja sama, gue nggak ada pilihan serahin lo berdua ke polisi dan masuk penjara. Asal lo tau aja, temen-temen lo yang udah ketangkep, mereka masuk rumah sakit sekarang, karena di penjara mereka habis dipukulin, disodomi sama banyak narapidana. Mereka sampai nggak bisa jalan. Lo berdua mau kayak gitu? Ya kalau mau sih nggak apa-apa, tinggal panggil polisi." Kata-kata Ezz begitu mengintimidasi keduanya.
Mereka berdua menggeleng ketakutan membayangkan penyiksaan di penjara begitu mengerikan.
"Cepet tulis!" Bentak Reno tidak sabar.
Akhirnya mereka menulis meski tulisannya seperti ceker ayam.
"Penginapan di kaki bukit, dekat lokasi tadi."
"Oke. Wahyu, lo tinggal di sini jagain ni 2 orang. Gue, Reno, sama Oka bakal ke lokasi."
"Kenapa nggak langsung panggil polisi?"
"Kita cek ke lokasi dulu. Kalau bener ni info dari mereka, baru kita panggil polisi."
"Oke Ezz."
Sebelum pergi, Ezz mengambil foto keduanya.
"Jangan coba-coba kabur. Sekali lo kabur, foto ini bakal gue lapor ke polisi dan kalian nggak akan bisa lolos dari kejaran polisi. Korban kalian udah banyak. Pasti semua menggila kalau foto ini kita sebarin dengan title 'pelaku pengedar uang palsu'."
Ancaman Ezz tidak main-main membuat kedua sandera ketakutan.
Ezz, Reno, dan Oka bergegas kembali ke lokasi.
***
Mereka tiba ketika hari hampir pagi.
"Ini tempatnya kan?"
Penginapan Senja.
Itu nama penginapan yang tampak kosong tak berpenghuni.
"Ezz, barusan pas di warung gue tanya sama warga sekitar, penginapan Senja ini udah tutup berbulan-bulan. Nggak ada orang tinggal di sini." Kata Oka.
"Mending kita cek dulu ke dalem. Jangan lupa, waspada. Dari luar keliatan kosong, kita nggak tau di dalem kayak gimana."
Bertiga mereka memasuki penginapan yang tidak dikunci.
"Aneh kan kalau udah tutup, kenapa tempatnya minim debu?"
"Gue bakal cek lantai atas. Reno cek lantai bawah, setiap ruangan, dan apapun yang mencurigakan jangan lupa lo ambil fotonya. Dan Oka, lo stand by di sini kalau tiba-tiba ada yang datang."
"Oke Ezz."
Ezz segera menuju lantai atas.
Penginapan ini hanya 2 lantai dengan jumlah 8 kamar setiap lantai.
"Kayaknya tu orang-orang nggak bohong. Mereka ada di sini. Tempatnya terlalu bersih buat yang udah tutup."
Ezz memeriksa ruangan satu per satu.
Memeriksa setiap lemari dan kolong tempat tidur.
Matanya membulat lebar melihat perhiasan emas berserakan di kolong tempat tidur.
Di lemari pun terdapat selembar uang palsu.
"Kayaknya semalam mereka nyadar 2 orang tertangkap dan segera pergi dari sini. Tapi saking terburu-buru, mereka jadi ceroboh."
Ezz lanjut memeriksa ruangan lain.
Matanya membulat lebar melihat kantong makanan bertulis nama D'Ezz Restaurant.
"Fix. Ini markas mereka sebelumnya. Bahkan ada kotak makanan bekas nasi goreng seafood."
Ia mencari-cari lagi apa yang bisa dijadikan bukti.
Matanya melotot lebar melihat botol vitamin di laci.
"Ini kan vitamin untuk ibu hamil? Zolla juga minum ini. Kalau ini kamarnya Zella, apa Zella juga lagi hamil?"
Ia mencoba mencari, sela-sela sofa, kolong kursi, lemari.
"Lho apa ini?" Ezz mengambil sesuatu yang terselip di sofa.
Matanya melebar melihat KTP atas nama Foga Prayuda.
Setelah yakin semua bukti cukup meyakinkan, Ezz bergegas turun dan berkumpul di lobi penginapan.
"Ezz, gue nemu ini." Reno membawakan tas berisi uang palsu dan botol-botol tinta.
"Gue rasa tinta ini yang mereka pake buat cetak uang palsu."
"Gue juga nemu perhiasan emas sama selembar uang palsu. Kayaknya mereka buru-buru pergi. Dan... Gue nemuin ini." Ezz menunjukkan kantong makanan.
"Bener kan ini yang si Foga itu beli kemarin?"
"Iya. Gue yakin ini buat Zella. Dan yang gue curiga, sekarang Zella lagi hamil."
Reno dan Oka terkejut.
"Hamil??"
"Tau dari mana?"
"Gue nemu botol vitamin ini di laci kamar tempat gue nemuin kantong makanan ini. Ini vitamin yang sama dengan yang Zolla minum. Vitamin untuk ibu hamil."
Reno geleng-geleng kepala. "Sembarangan aja tu si Zella! Kalau lagi hamil jangan aneh-aneh harusnya."
"Fix. Mereka udah kabur."
"Tapi mereka kabur ke mana?"
"Gue juga nemu ini." Ezz menunjukkan tanda pengenal Foga.
"KTP Foga Prayuda? Ini Foga yang itu kan?"
"Yap. Sekarang, kita cari identitas si Foga ini. Siapa aja keluarganya. Mungkin kita bisa tau ke mana orang ini sembunyi."
Segera mereka meninggalkan lokasi penginapan membawa sejumlah barang bukti.
***