Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Zolla Hilang


Dokter selesai memeriksa Vita, langsung saja Ezz dan Riani memburunya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Tanya Ezz.


"Luka di tangan dan kakinya cukup parah. Sementara waktu harap beristirahat karena kakinya harus dibebat."


Ezz tak habis pikir akan separah itu. "Boleh saya lihat dia?"


"Silahkan. Sebentar lagi pasien akan dipindah ke kamar rawat."


Tanpa pikir panjang, Ezz segera masuk UGD sedangkan Riani masih mematung, raut wajahnya menegang.


"Vita..." Ezz mendekat Vita yang berbaring dengan tangan diperban dan kakinya dibebat.


"Kenapa kamu bisa begini? Harusnya kamu lebih hati-hati."


Vita celingukan kanan kiri.


"Kamu cari siapa?"


"Di mana Riani, Kak?"


Ezz bingung menoleh ke belakang. "Tadi sih bareng aku. Mungkin lagi ke toilet."


"Ini semua karena Riani Kak. Dia yang ngedorong Vita sampai ketabrak motor!"


"Kok bisa? Kalian ribut lagi?"


"Barusan Riani mau pindah ke kamar Kak Ezz. Dia pindahin barang-barangnya. Jelas Vita nggak terima karena nggak ada izin dari Kak Ezz. Eh Riani malah marah ke Vita, katanya Riani bakal nikah sama Kak Ezz nggak ada salahnya pindah tidur di kamar Kak Ezz. Riani udah banyak halu jadi Vita seret dia keluar rumah. Eh dia malah ngamuk cakar Vita dan tarik Vita keluar, lalu ngedorong Vita ke jalan Kak.. sampai Vita ketabrak motor."


Ezz terkejut. "Yang bener?"


"Iya bener Kak. Kalau nggak percaya Kak Ezz periksa aja CCTV di rumah."


Tanpa pikir panjang, Ezz memeriksa CCTV di rumah yang bisa diakses melalui HP nya.


Di CCTV yang terpasang di depan teras terlihat benar Vita dan Riani berdebat lalu Vita mengusir Riani. Riani maju menyerang Vita lalu mendorong Vita keluar tepat ke arah motor yang melaju, Vita langsung terpental dan berguling di aspal.


Ezz begitu geram dan menoleh ke belakang mencari Riani.


Namun Riani tak ada.


"Kak, gimana dengan Vita sekarang? Vita nggak bisa kerja."


"Aku akan telepon Tante Firda untuk ke Jakarta sekarang."


"Jangan telepon Mama."


"Kenapa? Lebih bagus kamu dirawat Mama kamu."


"Vita mau Kak Ezz yang rawat Vita."


Ezz menggeleng. "Aku nggak bisa. Sebentar lagi kamu akan dipindah ke kamar rawat. Aku pergi dulu Riani harus bertanggung jawab." Setelah itu Ezz bergegas meninggalkan UGD.


Vita tak bisa lagi menahan emosi dan mengumpat Riani pengkhianat teman.


"Tau dia keganjenan begitu, mana sudi gue ajak tinggal di rumah Kak Ezz."


Sementara di rumah Ezz, Riani panik membereskan barang-barangnya.


"Pasti Kak Ezz udah tau kalo gue yang dorong Vita. Duuhhh kenapa juga gue lupa di situ ada CCTV? Jadi kacau kan? Lagian Vita lebay banget sih gue cuma pengen tidur di kamar Kak Ezz aja ngajak ribut sampe bikin gue kelepasan dorong dia!"


Riani membawa tasnya buru-buru keluar rumah.


Langkahnya terhenti begitu membuka pintu ada 2 polisi menghadangnya.


"Dengan saudari Riani."


Riani mengatupkan mulutnya rapat rapat. Sial! Kenapa sampai libatin polisi???


"Kami mendapat laporan tentang kasus kecelakaan saudari Vita Andriana, menurut rekaman CCTV saudari Riani yang mendorong saudari Vita hingga kecelakaan motor."


Riani menggeleng panik. "Dia yang duluan Pak! Bukan salah saya!'


"Nanti jelaskan saja di kantor."


"Nggak mau! Saya nggak salah Pak!!" Riani berontak begitu digiring polisi.


Ezz hanya melihatnya dari kejauhan.


"Riani kali ini lo emang keterlaluan. Gue nggak bisa bantu apa-apa kalau Om Budiman dan Tante Firda mau tuntut lo."


***


Di kamarnya, Zolla lagi asyik ngemil buah potong sambil lihat-lihat barang online shop di HP nya.


"Tapi kalau belinya dari online, gimana kalau rusak? Apalagi kalau diskon gede-gedean. Ah mending nanti beli langsung ke toko aja."


Zolla mengelus-elus perutnya yang membesar. "Ibu makin nggak sabar ingin kalian segera lahir Nak. Sudah banyak yang menunggu kalian. Ada Ibu, Ayah, Opa, Kakek, Nenek, juga..." Zolla terdiam sejenak dan tersenyum. "Juga Mama Zella. Dia saudara kembar Ibu. Dia ibu kalian juga."


Ia tercenung memikirkan Zella.


"Kamu di mana, Zella? Apa kamu masih terikat dendam sama aku dan Ibu? Aku harap kamu berubah pikiran untuk menyuruhku pergi. Aku sudah menjadi istri Kak Ezz dan sebentar lagi kami akan punya anak. Dan aku ingin berkumpul kembali bersama kamu."


Menyadari sudah sore, Zolla melihat keluar.


"Kayaknya enak nih makan asinan yang dijual di taman. Aku ke sana ah. Sekalian jalan-jalan sore di taman."


Zolla mengganti baju menggunakan dress hamil dan cardigan.


Sedang menyisir rambutnya, HP nya berbunyi. Ezz menelepon.


"Halo, Kak..."


"Halo sayang, lagi apa?"


"Aku mau ke taman beli asinan. Kakak dimana? Udah selesai urusan Vita?"


"Udah. Beres. Ini aku abis dari kantor polisi. Abis ketemu orangtuanya Riani juga."


"Lho? Kok Riani di kantor polisi?"


"Jadi gini lho sayang, Vita cekcok sama Riani yang bikin mereka berantem sampai Riani ngedorong Vita ke jalan dan ketabrak motor. Jadi sekarang Riani ditahan di kantor polisi sampai orangtua Vita datang."


"Duuhh kok Riani gitu ya?"


"Ya udah bukan urusan kita juga. Sekarang juga Vita udah di bawah pengawasan orangtuanya. Aku nggak perlu urus dia lagi."


"Iya Kak, jauh lebih aman kalau dijaga sama keluarga."


"Kamu ngapain mau jalan ke taman? Minta Bi Inah aja beliin asinannya."


"Aku pengen jalan-jalan sore Kak. Lagian kalau kebanyakan tidur badan pegel."


"Ya udah boleh. Tapi jangan lama-lama. Kalau udah beli asinan langsung pulang lho."


"Siap suamiku sayang..."


"Hehe... Emang nggak boleh?"


"Boleh banget dong coba seterusnya manggil begitu. Ya udah hati-hati jalannya ya."


"Iya Kak."


Begitu telepon diputus, Zolla menyambung HP pada charger dan meninggalkan kamar.


Tiba di taman ia celingukan mencari tukang asinan.


"Mana nih tukang asinannya? Biasanya ada di sini."


Saking serius mencari, Zolla tak sadar diikuti.


***


Ezz sedang memeriksa laporan pemasukan restorannya begitu Oka menelepon.


"Halo, Ka? Ada apa?"


"Ezz, rumah pamannya Foga yang namanya Dudi Herlan itu disitaa sama bank. Pamannya itu juga nggak bisa dihubungi. Tapi ada yang mencurigakan, lampunya ada yang menyala. Padahal kata orang-orang rumah itu kosong."


Ezz mengerutkan kening. "Mencurigakan sih. Jangan-jangan mereka sembunyi di dalam. Gue bakal kirim orang untuk ngintai rumah itu 24 jam. Kan nggak mungkin lo stand by di sana terus."


"Iya Ezz. Gue yakin sebentar lagi mereka bakal ketangkep."


"Harus! Gue udah empet sama sindikat ini. Gue yakin mereka lagi sembunyi karena udah dicurigai. Untuk sementara pasti mereka nggak akan beraksi."


"Iya Ezz kita lagi awasi kalau ada yang menjual unit smartphone mahal dan perhiasan emas. Ya udah gue juga mau balik ke toko."


"Oke."


Begitu telepon diputus, Ezz hendak mengambil gelas tiba-tiba...


Prangg...


Ia terkejut tiba-tiba gelasnya jatuh dan pecah.


"Mas... Ada apa Mas??" Muncul Yono panik mendengar suara gelas pecah.


Ezz mendadak tak enak hati, sementara Yono membersihkan gelas pecah.


Apa terjadi sesuatu dengan Zolla? Kok perasaan gue nggak enak? Batinnya.


Bergegas ia menghubungi HP Zolla. Namun tidak aktif.


Duuhhh ke mana nih Zolla?


Ezz menghubungi nomor rumah.


"Halo dengan siapa ini?" Bi Inah menjawab telepon.


"Halo, Bi. Zolla udah pulang kan tadi katanya mau beli asinan di taman?"


"Udah kok Mas. Lagi tidur itu di kamar."


Ezz bisa bernafas lega. "Ya sudah, sebentar lagi aku pulang Bi."


Ezz bergegas membereskan mejanya dan bergegas keluar.


Karena perasaannya makin tak enak. Khawatir Zolla kenapa-napa. Ia menyetir agak cepat meski jalanan begitu padat karena sudah malam.


Begitu tiba di rumah, Ezz bergegas masuk.


"Mas.. udah pulang." Bi Inah menyambutnya.


"Zolla masih tidur?"


"Masih Mas. Tadi Bibi bangunin buat makan malam, eh Bibi malah diomelin katanya masih ngantuk. Tapi Neng Zolla jadi agak aneh, Mas."


"Aneh gimana?"


"Masa' tadi pulang mau naik tangga. Katanya mau ke kamar. Bibi kasih tau kan Neng sama Mas udah pindah ke kamar bawah. Maklumin ya Mas, lagi hamil kadang jadi lupaan."


Kontan Ezz curiga, dan bergegas menuju kamar. Dilihatnya Zolla baru keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya.


"Eh Kak Ezz udah pulang..." Langsung saja Zolla memeluknya.


"Kamu nggak apa-apa kan sayang? Dari tadi aku nggak tenang mikirin kamu."


"Duuhh sweet banget ni Kak Ezz khawatir banget sama aku."


"Kamu belum laper? Aku kira kamu masak hari ini?"


"Aku lagi males masak Kak. Kita pesen aja di restoran masih ada kan? Pesenin nasi goreng seafood aja Kak, aku lagi pengen makan itu."


Kontan Ezz merasa aneh dengan permintaan Zolla. Terlalu aneh dan bahaya untuk yang ngidam.


"Eh sayang, perut kamu makin gede. Aku pengen ngelus perut kamu."


"Ya udah aku sambil tiduran ya. Kakiku pegel."


"Iya aku pijitin ya."


Begitu Zolla berbaring, Ezz duduk di tepi ranjang sambil memijat kakinya.


"Kulit kamu kering."


"Masa' sih Kak?"


"Aku pakein body lotion ya."


"Nggak mau ah body lotion itu murah. Kulitku rusak ntar pakenya. Beliin body lotion merk terkenal itu Kak. Kulitku kan sensitif."


Makin aneh saja melihat sosok Zolla yang satu ini. Kecurigaan mulai kuat begitu Zolla membuka kimono hendak memakai baju.


Pandangan Ezz langsung menelusuri tubuhnya dan tersenyum sinis.


"Cepet pake baju! Habis itu pijitin aku sampai aku tidur!"


Zolla tersentak mendengar perintah Ezz.


"Katanya mau makan Kak?"


"Mendadak nggak nafsu makan. Pengen tidur aja. Kalau kamu mau makan, makan aja sendiri." Ezz masuk kamar mandi sambil membawa HP nya.


Ia segera mengirim chat pada teman-temannya.


#Zolla hilang. Sekarang yang ada di sini itu Zella. Gue bakal tahan dia di rumah, tolong kalian cari Zolla. CCTV sekitar taman bisa diperiksa.#


Setelah chat terkirim, Ezz membasuh mukanya dan menatap cermin menghujamkan tatapan sinis.


"Waktunya pembalasan!"


***