Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
Kampus


Sesampainya di kelas Fitri dan Renny segera mencari tempat duduk berdekatan. Kemudian menyiapkan buku yang akan digunakan untuk belajar. Fitri sangat senang saat ini karena akhirnya dia bisa kuliah di kampus dan jurusan yang dia impikan.


Menjadi dokter adalah impian Fitri sejak kecil. Bukan tanpa alasan Fitri begitu menginginkan menjadi dokter. Fitri selalu berpikir kalau menjadi dokter dia akan bisa membantu dan menolong orang lain. Betapa mulianya menjadi seorang dokter, pikirnya.


"Eh Fitri, kenalin ini temenku, Aisyah", kata Renny memperkenalkan Aisyah.


"Oh hai, aku Fitri", sambut Fitri.


"Aisyah", kata Asiyah saat berjabat tangan dengan Fitri.


Saat jam istirahat.


"Kantin yuk", ajak Asiyah.


"Ayo", sahut Fitri dan Renny bersamaan.


"Eh kalian mau ikut organisasi apa?", tanya Renny di sela-sela perjalanan menuju kantin.


"Belum tau nih", sahut Aisyah.


"Kalau kama Fit?", tanya Renny lagi.


"Hmmmmm... Apa ya?. Kayaknya Lembaga Keagamaan Islam deh", jawab Fitri.


"Eh boleh juga tuh, aku ikutan juga ah", kata Asiyah.


"Kalau kalian ikut, aku berati juga ikut", kata Renny.


Kemudian mereka bertiga tertawa bersama. Tanpa disadari, mereka pun sudah sampai di kantin. Dan segera memesan makanan dan minuman.


Ditengah menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. Mata Fitri yang sedang menjelajah seisi kantin terhenti ketika melihat seseorang yang dia kenal. Sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk di pojok kantin.


"Oh den Reza kuliah disini juga", kata Fitri dalam hati.


"Jurusan apa ya?", tanyanya dalam hati.


"Jadi penasaran deh", tambahnya lagi.


Fitri terus mengamati sang majikan itu terus menerus. Melihat kemesraan antara majikannya dengan pacarnya. Mulai dari saling suap-suapan makanan, berpegangan tangan, berbincang-bincang, dan membersihkan sisa makanan yang tertinggal di mulut.


"Eh sayang bentar", kata Reza sembari mengelap pinggir bibir sang pacar dengan tangannya.


"Belepotan makannya", tambahnya lagi.


"Makasih sayang", sambut perempuan itu dengan senyum sumringah.


"Akkkk.....", si perempuan itu menyuapkan sesendok nasi ke mulut Reza.


"Aemm....", Reza menerima suapan itu dengan senang.


Kegiatan suap-suapan pun terjadi cukup lama. Sungguh keduanya terlihat sangat mesra. Sesekali si perempuan menyender di bahu Reza dengan manja.


"Fit... Fitri...", panggil Renny sembari melambai-lambai tangannya di muka Fitri.


"Eh apa?", seketika lamunan Fitri pun buyar.


"Kamu lihatin apa sih?" tanya Asiyah penasaran.


"Ng... Nggak lihatin apa-apa kok", jawab Fitri gugup.


"Lalu kenapa melamun segitunya?", tanya Asiyah lagi.


"Gak apa-apa, cuma pengen melamun aja", Fitri pun beralasan.


"Sedang ada masalah?", tanya Renny.


"Kalau ada masalah cerita aja gak apa-apa. Meskipun kita temen baru kamu, Insya Allah kita bisa menerima curhatan satu sama lain", kata Aisyah.


"Makasih ya. Tapi beneran gak ada apa-apa kok", kata Fitri.


"Yuk lanjutin makannya saja", ajak Fitri pada dua temannya.


"Pergi yuk yang", ajak Reza pada Syerin pacarnya.


"Belum selesai yang makannya", kata Syerin.


"Udahlah kalau gak mau, males gue", kata Reza sembari bangkit dari duduknya.


"Iya.. iya.. sayang kamu kenapa sih?", tanya Syerin sembari mengejar Reza.


"Males di kantin", jawab singkat Reza.


Entah kenapa ketika Reza menatap Fitri, rasa kesal dan marahnya kembali lagi. Reza dan Syerin pun melangkah menjauh dari kantin. Sedangkan Fitri terus mengamati pasangan itu hingga hilang dari pandangannya. Rasanya penasaran saja dengan kisah cinta sang majikannya.


"Tuh kan ngelamun lagi", suara Aisyah mengagetkan Fitri.


"Eh... Apa?", jawab Fitri gelagapan.


"Ng..nggak kok", lagi-lagi Fitri beralasan.


Di parkiran kampus.


Perempuan cantik berambut panjang itu memasuki sebuah mobil Posche berwana putih. Ternyata di dalamnya Reza sudah menunggunya dan siap menghidupkan mesin mobilnya. Sebelum mobil itu melaju, tiba-tiba Syerin berbicara.


"Sayang nanti malam pergi yuk", ajak Syerin.


"Waduh, besok aja ya yang. Gue ada janji sama teman", kata Reza.


"Teman siapa?", kata Syerin cemberut.


"Adalah teman gue kan banyak yang", Reza beralasan.


"Namanya siapa?", tanya Syerin sedikit judes.


"Rio, Donny, sama Jack", jawab Reza asal.


"Mau ngapain?", tanya Syerin menyelidiki.


"E...e... Mau diskusi tentang skripisi sayang. Tadi habis ketemu sama dosen", jawab Reza.


"Yang bener? Mula-muka kayak lo gitu diskusi skripsi?", ucap Syerin tak percaya.


"Hmmmm.. lo harus percaya sama aku. Ini beneran janji yang gak bisa aku ingkari yang", kata Reza.


"Janji sama temen mulu, sama gue kapan?", Syerin semakin mengerucutkan bibirnya.


"Nanti deh, malam Minggu kita puas-puasin", kata Reza.


"Jangan manyun gitu dong. Pengen gue cium?", tambahnya.


Sontak Syerin menepis wajah Reza yang perlahan mendekatinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Reza pun segara melajukan mobilnya meninggalkan kampus menuju rumah Syerin.


Beberapa menit kemudian sampailah di depan rumah Syerin. Reza menghentikan mobilnya, kemudian Syerin bergegas turun dari mobil Reza. Namun, sayangnya pintu mobil masih terkunci.


"Buka dong!", pinta Syerin.


"Kiss dulu yang", sahut Reza sembari memonyongkan bibirnya.


"Ih ogah, males ah sama kamu", kata Syerin yang masih kesal.


"Cium gak!", perintah Reza.


Muach...


Syerin pun segera keluar dari mobil dengan kesal yang masih menyelimutinya. Reza agak kurang senang dengan perlakukan Syerin padanya. Tidak seperti pacar-pacarnya yang lain. Eh, maksudnya Reza ini memang terkenal playboy. Mantan pacar dan pacar-pacarnya tersebar dimana-mana. Hingga dia pun lupa dengan berapa jumlah mantan dan pacarnya.


Dan tentang Syerin merupakan pacar barunya yang diakui secara publik sejak sebulan yang lalu. Makanya Syerin dan Reza berani terang-terangan makan di kantin bersama. Dan mereka terlihat sangat mesra karena memang baru jadian. Maklum saja.


Malam harinya


Tentu saja alasan tadi siang perihal janji Reza dengan teman-teman untuk diskusi tentang skripisi hanyalah kebohongan belaka. Seperti biasanya malam ini dia akan berangkat ke club malam langganannya. Untuk sekedar happy-happy dengan temannya. Perihal skripsi? Lupain saja. Begitulah pikir Reza.