Sorry, I Love You

Sorry, I Love You
37. Inisiatif


🌼 Eza


"Sayang! Kamu kesini?" pekikku tak percaya.


Bian. Bian istriku datang ke kantor. What a.....


Bian mengangguk. "Ada perlu sama manager Keuangan di sini. Bu Rency. Terus mampir deh ngapelin mas Eza."


Aku menghampiri Bian. Kulingkarkan satu lenganku di pinggangnya, lalu mencium pipi kanan dan kirinya. Dari ekor mataku, bisa kulihat beberapa pasang mata di luar ruangan menatap kami. Termasuk Pram dan Erwin. Bisa kutebak itu karena kecantikan Bian yang memendar membuat siapapun terpana.


Mereka pun saling berbisik. Mengenali si selebgram, Biani Andrea yang sedang kurangkul dengan mesra ini. Yah, siapa yang tak mengenal Bian.. Aku semakin pongah saja hari ini. Hahaa...


"Wah.. Tumbenan kantor kita kedatangan tamu cantik begini.." seloroh Pram. Dia mengerling ke arahku. "Biasanya kalau ga tukang bangunan, ya kontraktor yang ga pulang-ga mandi tiga hari..."


Aku tergelak. Kulihat Bian juga tertawa mendengar lelucon Pram.


"Oh ya, Bian, kenalin ini Pramudya. Yang itu Erwin." ujarku menunjuk pada Pram dan Erwin di sudut ruangan. "Pram, Win.. Ini Bian."


Bian mengulurkan tangan ke Pram untuk memperkenalkan diri.


"Buseeet... Tangan artis beneran alus yaa.." Pram kembali mengerling ke arahku. Aku refleks menepuk tangan Pram, membuat mereka yang masih berjabatan pun lekas terlepas.


Bian tersenyum ramah. "Bukan artis kok mas.."


"Ck.. Merendah aja mbak Bian ini. Artis instagram, artis tiktok.. Kan artis juga." Pram terbahak karena ucapannya sendiri.


"Za, gak sakit kah mata kau?" tanya Pram padaku dengan logat Medannya yang kental. Aku menaikkan dagu, tak mengerti maksud ucapannya. "Tiap hari ngeliat yang bening dan menyilaukan begini.. Kalau aku pasti sudah merah-merah mataku! Sakit! Hahahahhaa...."


Aku tergelak. Sembari menarik tubuh Bian agar semakin menempel denganku. Istriku yang cantik. Penampilannya memang menarik. Memakai setelan kerja yang modis. Kemeja putih longgar dan skinny jeans, jauh dari kesan formal dan kaku khas perempuan- perempuan di perusahaanku. Jangan lupakan riasan simple yang menambah wajah ayunya kian bersinar.


"Kukira cantiknya cuma kena filter. Ternyata real. Nyata. Aslik." imbuh Pram.


"Asli lah.. Istri siapa dulu." ucapku pongah seraya menepuk dada. Kami tergelak bersama setelahnya. Kulirik Bian tersenyum menatapku dengan lengan yang mulai membalas merangkul pinggangku


Erwin yang sedari tadi diam. Seakan dia tinggal di dunianya sendiri. Tiba-tiba bangkit dari meja kerjanya dan berjalan ke arah pintu. Entahlah kenapa mulutku usil sekali sampai berani bertanya hendak kemana dia pergi sekedar untuk berbasa basi. Dan jawabannya membuatku terperangah.


"Keluar. Ngapain disini cuma buat liat orang pacaran?"


Sebelum hilang di balik pintu, Erwin bahkan sempat berbalik dan berkata, "Ingat sama yang di Jember."


Mataku sontak membulat. Detak jantungku langsung bertalu-talu. Takut kalau-kalau Bian curiga dan mempertanyakan maksud ucapan Erwin. Atau Erwin yang memperjelas ucapannya. Beruntung, Erwin langsung pergi dan tidak melanjutkan dengan perkataan apapun.


Erwin memang tau statusku yang sudah punya istri sebelum menikahi Bian. Kami memang tinggal satu wilayah. Walaupun bukan teman akrab atau sahabat karib, tapi kami sudah saling mengenal semenjak kuliah sampai kerja di kantor yang sama. Tapi yang tidak kusangka, kenapa Erwin sangat kekanakan? Mengacuhkanku hanya perkara klien yang bukan kesalahanku. What a childish !!


Aku harus meluruskan kesalah pahaman dengan Erwin ini. Daripada seperti ini terus menerus. Membuatku seolah menyimpan bom waktu yang siap meledak kapanpun. Ya, Erwin bisa sangat mengancam keberlangsungan rumah tanggaku dan Bian.


"Sirik dia." cibir Pram.


Aku menggiring Bian untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kerjaku. Bian tidak mempertanyakan ucapan Erwin. Mungkin dia mengira kalau Erwin hanya membicarakan pekerjaan atau candaan antar teman pria saja. Syukurlah..


"Kamu sudah makan siang, Bi?"


Bian menggeleng. "Tadi pas dikasih tau harus kesini, Aku langsung kesini.. Semangat banget mau ketemu ayang.."


"Sama dong.. Aku juga belum makan siang. Aku pesankan makanan via ojol aja yaa. Kita makan disini, gimana? Kamu ga buru-buru balik ke kantor kan sayang?"


"Engga kok mas.. Tapi kenapa mas Eza belum makan? Emang tadi kemana?" selidik Bian.


Wajahku sontak memancarkan sinar lebih terang. "Tadi di ruangan pak Aldo.. Doain ya sayang.. Aku dapet klien VIP nih.. Dongkrak karirku nih, yang.. Kalau sukses bikin klien puas."


"Oh ya? Siapa kliennya sayang?"


"Za! Aku keluar dulu ya.. Ada janji sama klien di resto sushi." sela Pram. Lelaki itu sudah berada di ujung pintu siap melenggang pergi.


"Klienku seorang businessman, sayang. Founder aplikasi belanja online kamu biasanya tuh..."


"BukaToko?" tanya Bian dengan antusias.


"He'em." aku menaikkan alis seraya tersenyum pongah.


"Wuih.. Keren sayang.. Klien kamu Harris Risjad?"


"Iya." sahutku. "Kamu tau?"


"Tau laah.. CEO muda yang taun lalu sempat viral. Siapa yang ga tau..." sahut Bian. "Digosipin jadi pacar artis, eh pas Harris Risjad klarifikasi, si artisnya ga terima. Sampe bongkar aib masa lalu Harris dan berakhir dengan karir si artis yang nyungsep ke dasar lembah curam. Dan Harris Risjad yang jadi lebih famous di kalangan cewek-cewek, ibu-ibu, sampai anak-anak.."


"Oooh.. Jadi istriku ini termasuk pengagum a perfect husband Harris Risjad?" cibirku menggoda Bian.


"Hahhaha.. Ya engga lah sayang.. Aku kan udah punya my own perfect husband Eza hunny bunny...." Bian mengerling manja. Sangat cantik dan menggemaskan. Hingga aku tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya yang halus dan wangi itu. Bian meringis dan melotot lucu ke arahku karena pipinya yang sedikit memerah bekas cubitanku itu.


"Hari minggu nanti temani aku ketemu Pak Harris dan istrinya ya sayang.."


"Dengan senang hati, suamikuu.."


Aku meraih jemari Bian. Menariknya hingga tergapai untuk ku kecup. "I love you, Bi.. Aku seneng banget bisa berbagi banyak hal denganmu.." ucapku tulus.


......................


🌼 Maharani


Malam ini usai menyantap hidangan makan malam bersama mama, aku mencuci piring. Sedangkan mama sibuk menyiangi sayuran untuk dimasak besok pagi.


Setelah selesai mencuci semua piring dan gelas kotor, aku mendekati mama. Kubulatkan tekatku untuk berbicara dengan mama malam ini juga.


"Ada apa Rani?" tanya mama demi melihat aku terbengong saja di depannya.


"Begini Ma.. Minggu ini mas Eza tidak pulang. Karena minggu kemarin ia sudah pulang.. Tapi hari minggu besok adalah ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Jadi...." kalimatku menggantung begitu saja.


"Jadi apa Ran?"


"Ehm... Rani ingin meminta ijin ke mama untuk menemui mas Eza ke Surabaya, ma.. Apa mama mengijinkan?"


"Tentu, Ran.. Mama ijinin. Seratus persen." mama tersenyum lebar. "Mama seneng kamu punya inisiatif nyamperin Eza duluan.."


"Mama gak papa sendirian di rumah? Paling tidak, Rani pulang senin siang Ma.."


"Gak papa Rani.. Kalau perlu seminggu kamu di sana." mama terkekeh. Aku hanya tersipu-sipu. Malu, sungkan, kikuk.


Meski sudah meminta ijin pada mama, sebenarnya aku pun ragu untuk benar-benar pergi ke Surabaya atau tidak. Apa yang akan aku lakukan di sana nanti? Apa mas Eza tidak marah kalau aku datang tanpa meminta ijin darinya dulu?


"Sudah. Kamu jangan banyak ragu Ran.. Dalam hubungan pernikahan, terkadang perlu melakukan inovasi dan terobosan baru agar hubungan tidak terasa kaku dan membosankan. Kamu juga perlu berubah untuk lebih membuat Eza makin terkesan."


"Apalagi, kalau mama lihat...." mama terlihat ragu-ragu mengatakannya. Tapi akhirnya ia ucapkan juga. "Mama lihat, menstruasimu masih datang rutin tiap bulan. Padahal sudah setahun kalian menikah.."


Aku menunduk. Tidak mungkin berkata jujur pada mama, kalau selama dua bulan ini aku dan mas Eza tidak memenuhi kebutuhan biologis kami. Hem.. Kalau saja mama tau betapa gundah hatiku setiap kali mas Eza pulang ke Jember tapi tidak menjamahku..


"Baik Ma.. Minggu ini aku akan ke Surabaya menemui mas Eza. Doakan hubungan kami akan lebih baik ke depannya, Ma.."


"Pasti, Ran.. Doa mama selalu untuk kalian berdua.."


......................


🌼 Happy Reading


Ga ada kah yang #timBian disini?